Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Kabar Kehamilan Mei


__ADS_3

Selang beberapa pekan berlalu, Ervita menerima telepon dari Solo. Memang dengan keberadaan Ervita yang tinggal di Jogja, sementara keluarganya tinggal di Solo membuat kedua belah pihak saling menjaga silaturahmi dengan menggunakan handphone baik itu bertukar pesan dan juga saling menelpon satu sama lain.


Petang ini, Ervita tampak begitu bahagia ketika adiknya menelponnya. Terlihat Ervita yang duduk melantai Pendopo dengan Pandu dan Indira yang sedang main bersama.


“Halo Mbak Ervi … baru ngapain di sana?” tanya Mei melalui panggilan telepon petang itu.


“Ini, baru nyantai saja sih sama Mas Pandu dan Indi di depan rumah,” balasnya.


“Kapan Mbak Ervi dan keluarga main ke Solo lagi?” tanya Mei.


Mungkin memang sudah satu bulan berlalu sejak Ervita dan Pandu datang menghadiri arisan keluarga kala itu. Kini, Mei pun sudah kembali bertanya kapan Kakaknya itu akan kembali pulang ke Solo. Rasanya sudah begitu kangen dengan kakaknya sendiri.


“Nanti kalau agak longgar aku main ke Solo,” balas Ervita.


"Mbak, nanti kalau pulang ke Solo, bawain aku Bakpia Pathok dan Enting-Enting ya Mbak," pinta Mei kala itu kepada Ervita.


Bakpia Pathok sendiri memang merupakan oleh-oleh khas Jogja yang sudah begitu tersohor. Sementara Enting-enting adalah sebuah makanan manis yang terbuat dari biji wijen dan gula atau madu yang dipres dalam bentuk persegi panjang. Tekturnya beragam dari legit, manis, dan juga gurih.


Tidak langsung menjawab, nyatanya Ervita justru terkekeh geli di sana, "Kamu ini kayak orang ngidam saja sih, Mei," balas Ervita.


Di seberang sana pun nyatanya Mei juga terkekeh geli. "Mbak Ervi dulu waktu hamil Indi ngidam apa?" tanyanya.


Jika ditanya waktu hamil Indi, Ervita ngidam apa, agaknya tidak ada. Dirinya hanya merasa mual dan muntah ketika trimester pertama. Hingga begitu banyak minyak kayu putih yang dia oleskan di dada hingga perutnya. Belum lagi dengan inhaler aroma terapi yang harus dia bawa ke mana saja.


Lagipula, bagaimana Ervita merasa ngidam jika hari-hari yang dia jalani hanya untuk bekerja dan mengais Rupiah. Makan Nasi dengan telor dadar saja sudah menjadi makanan mewah untuk Ervita, jika tidak menu makan siang dari Bu Tari yang mengisi perutnya selama lebih dari 9 bulan. Ervita benar-benar harus bisa menekan keinginannya untuk menabung dan memeriksakan kandungannya setiap bulan dan juga menabung untuk persalinannya.


“Gimana mau ngidam kalau gaji setiap bulan saja cukup untuk makan, kost, dan menabung persalinan,” balasnya.

__ADS_1


Agaknya Pandu sedikit mendengarkan apa yang disampaikan oleh Ervita, dan penasaran apa yang sebenarnya diceritakan istrinya itu dengan adiknya melalui telepon. Seolah Pandu bertanya, tetapi Ervita segera menggelengkan kepalanya dan mengangkat tangannya dengan ibu jari dan jari telunjuk ke udara yang merupakan simbol tanda oke.


“Kasihan ya Mbak … untung sekarang hidupnya Mbak Ervi sudah enak. Dicintai Mas Pandu,” balas Mei di sana.


“Amin … ya, nanti kalau aku ke Solo, tak bawain Bakpia Pathok dan Enting-enting. Atau mau tak belikan online dulu?” tanya Ervita lagi kepada adiknya itu.


“Ndak usah Mbak … kalau Mbak Ervi ke Solo saja. Pengennya diberikan langsung sama Mbak Ervi,” balas Mei lagi dengan tertawa.


Ervita pun turut tertawa, tetapi akalnya seolah berjalan. Lantas, Ervita pun mengajukan pertanyaan kepada adiknya itu. “Jangan-jangan kamu hamil ya Mei?” tanya Ervita secara to the point.


Di seberang sana Mei pun tampak menganggukkan kepalanya dan tertawa, “Hmm, iya Mbak … aku beberapa hari yang lalu baru saja test dan hasilnya dua garis,” balas Ervita.


Wah, ketika Mei menceritakan itu, Ervita pun begitu bahagia. “Wah, selamat ya Mei … nanti kalau kami ke Solo, dibawain Bakpia dan Enting-enting,” balas Ervita.


Rasanya ini adalah kabar yang bahagia untuk Ervita. Tidak mengira bahwa adiknya kini sudah hamil, dan juga tidak lama lagi dirinya akan menerima keponakan. Sangat senang rasanya. Usai menerima telepon, Ervita pun duduk mendekat ke suaminya.


“Mas, kita akan memiliki keponakan … Mei sudah hamil,” ceritanya kepada suaminya itu.


“Kapan-kapan kalau kita ke Solo, dia minta dibawain Bakpia dan Enting-enting, Mas,” balas Ervita lagi.


Pandu pun menganggukkan kepalanya, “Iya, nanti kita bawakan. Bawakan oleh-oleh lainnya juga tidak apa-apa, Nda,” balasnya.


"Mei sudah isi, kita kapan Nda?" tanya Pandu kepada Ervita.


Terlihat Ervita menggelengkan kepalanya, "Ya, tidak tahu, Mas ... kan memiliki anak itu selalu usaha, waktu yang tepat, juga karena perkenanan Tuhan. Kalau Tuhan belum ngasih, ya gimana lagi," balas Ervita kemudian.


Pandu kemudian tersenyum, "Kalau belum dikasih, usahanya harus lebih kuat dan semangat full power," balas Pandu.

__ADS_1


"Kamu bisa saja sih Mas ... seneng deh, nanti bisa dapat keponakan baru. Kita menjadi Pakdhe dan Budhe," balasnya.


Pandu pun tertawa, "Dengan panggilan Pakdhe dan Budhe itu kesannya tua banget ya, Nda ... panggil kita Ayah dan Bunda aja gimana. Biar kita tetep muda gitu," balas Pandu.


"Aturannya begitu, Mas ... tapi ya nanti terserah Mei dan Tanto saja mau menyuruh anaknya memanggil kita apa. Akhirnya, Indi akan punya sepupu. Dari keluarga kamu kan sudah ada Mbak Lintang, nanti dari keluargaku ada Mei," balas Ervita dengan senang.


Pandu kemudian melirik kepada istrinya itu, "Kita tidak usah target ya, Dinda ... kalau nanti Tuhan memberikan keturunan, di waktunya yang tepat pasti juga akan diberi. Menikmati masa pernikahan yang masih baru dulu," balasnya.


"Iya Mas ... sedikasihnya saja. Memiliki anak juga bukan kompetisi kan Mas. Biar Mei duluan saja tidak apa-apa. Nanti ada saatnya giliran kita berdua yang akan mendapatkan buah hati," balas Ervita.


Ketika petang sudah berganti malam, agaknya Indira masih begitu senang bermain boneka Little Ponny di pendopo itu, sementara Pandu dan Ervita juga beberapa kali mengobrol bersama sembari menemani Indira bermain.


"Tadi kamu kenapa bahas ngidam-ngidam itu?" tanya Pandu kepada Ervita.


"Enggak, Mei itu tanya dulu aku waktu hamil Indi itu ngidam apa ... ya aku jawab, kalau aku enggak ngidam," balasnya.


Pandu lantas menatap Ervita yang duduk di sampingnya, "Padahal dulu kalau kamu ngidam, bilang saja ke aku ... pasti aku belikan," balas Pandu.


Dengan senyuman yang mengembang di wajahnya, Ervita pun menjawab, "Ya, tidak Mas ... kedekatan kita saja dulu sudah membuat gonjang-ganjing yang tidak enak. Pasti ada pedagang di pasar yang menerka kalau Indi ini anak kamu," balas Ervita.


"Ya ada Nda, cuma ya biarkan saja. Toh, aku bertanggung jawab atas kamu dan Indi. Dia anakku, Nda," tegas Pandu.


Ervita pun tersenyum di sana, "Terima kasih ... walau sebenarnya kamu bukan muadzinnya, tetapi dia akan mengenal sosok Ayah dari kamu. Cuma, bagaimana dengan nasabnya ketika dia akan menikah ketika dia dewasa kelak. Semoga saja, ada pria dan keluarga yang tidak mempermasalahkan nasabnya," balas Ervita.


Pandu lantas menggenggam tangan Ervita di sana, "Akan ada nanti seorang pria baik-baik yang akan datang dan meminang Indi dengan cinta dan tanpa mempermasalahkan nasabnya. Cinta bisa menjembatani semua itu, Nda," balas Pandu.


Ervita pun menganggukkan kepalanya, "Amin ... semoga ada pria seperti kamu yang tidak mempermasalahkan noda dan celaku," balas Ervita.

__ADS_1


"Amin, bahkan kalau bisa lebih baik dariku," balas Pandu lagi.


 Terkadang untuk masa depan yang masih begitu jauh di ujung mata, manusia sudah menaikan harapannya. Pun demikian dengan Ervita dan Pandu. Kali ini kebahagiaan memang mereka rasakan, tetapi untuk masa depan Indira nanti mereka berharap akan mendapatkan kebaikan dan juga ada cinta tulus yang tidak memperhitungkan nasabnya.


__ADS_2