Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Kebenaran yang Sesungguhnya


__ADS_3

"Ibu ... benarkah ... dia?"


Wati bertanya dengan bibirnya yang bergetar dan lidahnya yang terasa kelu. Bahkan untuk sekadar berbicara saja, rasanya begitu berat sekarang. Apakah tebakan di dalam hati Wati ini akan mengungkapan fakta yang selama hampir lima tahun ini ditutupi oleh keluarga suaminya. Wati merasa jantungnya berdebar-debar melebihi ambang batasnya. Ada rasa takut yang bisa dia rasakan.


Bu Yeni terdiam. Ingin memberikan jawaban juga lidahnya terasa kelu. Namun, jika berbohong itu justru hanya akan menambah dosa saja. Untuk itu, Bu Yeni memilih diam beberapa saat. Dia mencari cara bagaimana cara yang tepat untuk memberitahu Wati.


Belum sempat Bu Yeni memberikan jawaban. Firhan pun datang dan dia bingung melihat wajah penuh ketegangan antara Wati dan Ibunya. Sehingga, Firhan pun langsung bertanya kepada keduanya.


"Ibu dan Wati kok tegang begini ... ada apa sih?" tanyanya.


Wati yang semula diam kemudian memberikan jawaban dan tentunya menceritakan apa yang baru saja dia lihat kepada Firhan. Toh, mereka sudah berjanji untuk memperbaiki komunikasi dalam berumah tangga. Wati pun dalam beberapa kesempatan juga sudah terbuka dengan Firhan. Memulai kebiasaan yang baru dimulai dari dalam rumahnya sendiri.


"Mas, aku tadi bertemu dengan anak kecil, mungkin dia berusia 4 tahun. Kami bertemu di Taman Cerdas. Hatiku tergerak dengan sendirinya untuk berkenalan dengannya. Lalu, kami pun berkenalan. Aku amati kenapa wajahnya sangat tidak asing. Rupanya, dia mirip dengan foto kamu waktu TK ini, Mas."


Wati menceritakan semuanya secara jujur. Tidak menyembunyikan apa pun dari Firhan. Sebab, ketika dia menginginkan suaminya berubah, Wati juga harus berubah dan memperbaiki diri. Berubah untuk lebih terbuka dengan suaminya sendiri. Jika dia meminta Firhan berubah, sementara dia sendiri tidak melakukan apa pun itu terkesan tidak adil dan terkesan memaksa suaminya sendiri. Keduanya harus sama-sama berubah dan memperbaiki diri.


"Mungkin kamu hanya salah terka, Yang," balas Firhan.


"Serius. Wajahnya sama dengan foto kamu waktu TK ini kok, Mas. Anak kecil itu bernama Indi, dia memanggil Pak Agus tetangga kita itu dengan panggilan Kakung. Mas, mungkinkah dia?"


Sekadar bertanya saja, Wati sudah meneteskan air matanya sekarang. Benarkah terkaannya barusan? Selain itu, Wati. juga sangat berharap bahwa suaminya bisa berbicara jujur sekarang ini.


"Jangan-jangan ini anak dari masa lalumu, Mas?"


Dengan hati yang terisi Wati memberanikan untuk bertanya kepada suaminya. Kenyataan pahit jika terungkap memang membuat sakit hati. Namun, Wati akan bersiap dan menerima kenyataan. Asalkan suaminya jujur, Wati akan menghargai kejujuran dari suaminya itu.


Sementara Firhan juga bingung. Haruskah dia mengungkapkan semuanya? Seketika ada pikiran buruk yang melintas di benaknya jika sampai dia tidak berkata jujur dan masih menyembunyikan sesuatu dari Wati, pasti Wati akan pergi meninggalkannya. Firhan benar-benar tidak bisa, jika sampai kesalahannya dan Wati harus pergi.


"Duduk dulu, Yang," ajak Firhan.


Pria itu berjalan mendekat ke arah Wati dan mengajaknya untuk duduk bersama. Lebih baik untuk menjelaskan semuanya dengan duduk. Selain itu, Firhan berharap apa pun yang dia sampaikan, Wati bisa menerimanya.


"Kalau aku jujur, kamu tidak marah?" Firhan bertanya dengan perlahan.

__ADS_1


Wati yang sudah menangis pada akhirnya menganggukkan kepalanya. Dia harus menyiapkan telinganya untuk mendengarkan segala sesuatu. Menyiapkan hatinya untuk menerima semua masa lalu suaminya.


"Aku selalu siap, Mas," balas Wati.


Firhan tampak menghela nafas panjang, kemudian barulah dia mulai membuka mulutnya, bersuara. Firhan menetapkan hati dan keyakinannya sendiri bahwa kali ini, dia akan memilih jujur. Apa pun risiko dan konsekuensinya nanti.


"Aku akan berbicara dengan jujur, Yang. Jadi, dulu sewaktu SMA, aku memiliki pacar. Kami dulu satu SMA. Kisah cinta di putih Abu-Abu yang berlanjut hingga kami sama-sama kuliah. Bertahun-tahun kami pacaran. Kebetulan dia adalah tetanggaku sendiri. Hingga ketika, kami duduk di bangku kuliah, semester tiga atau empat kala itu. Gejolak kawula muda membara. Aku mengajaknya ke Tawang Mangu, di kaki Gunung Lawu. Terjalinlah satu malam petaka. Kupikir hanya melakukannya satu kali tidak akan membuatnya hamil. Ternyata, dia justru hamil satu bulan setelahnya. Dosaku dulu, aku tidak mau mengakuinya. Aku lepas dari. tanggung jawab. Bahkan aku merasa cuek saja ketika dia diusir dari rumahnya oleh kedua orang tuanya. Bagaimana pun hamil di luar nikah adalah aib. Kian tercela ketika tidak ada yang mau menikahinya, bertanggung jawab atas janinnya."


Firhan benar-benar jujur kepada Wati. Semuanya dia ceritakan. Tidak ada lagi yang dia tutup-tutupi


Di satu sisi, Firhan merasa lega karena bisa berkata jujur kepada Wati sekarang ini.


Walau ada rasa malu karena seolah membuka dosa diri sendiri, mempertunjukkannya kepada orang lain. Akan tetapi, Firhan juga dalam upaya untuk memperbaiki diri, sehingga Firhan memberi bukti nyata bahwa dia serius dengan Wati dan dia serius untuk memperbaiki komunikasinya dengan istrinya sendiri.


"Tidak ada yang baik dariku di masa lalu, Yang. Bahkan aku santai saja, tidak terusik. Padahal aku tahu bahwa dia diusir kedua orang tuanya dari rumahnya. Sama sekali di dalam hatiku tidak ada rasa untuk mencarinya dan bertanggung jawab atasnya. Aku sejahat itu. Setahuku, anak dari mantan pacarku itu perempuan, dan dia bernama Indira."


Deg!


Dada Wati bagai kejatuhan beban yang sangat berat. Benar dengan prasangkanya tadi. Sebab, Wati mengamati bahwa wajah Indi benar-benar tidak asing untuknya. Memang tidak 100% mirip, tetapi ada beberapa fitur wajah yang nyaris sama seperti matanya, hidung, dan bentuk wajahnya. Kecurigaan Wati ternyata terbukti sudah.


"Aku sudah berbicara jujur, Sayang. Tidak ada yang aku sembunyikan darimu. Aku tahu, komunikasi kita berdua sangat tidak baik. Sekarang, ini bukti bahwa aku serius berubah dan aku ingin memperbaiki rumah tangga kita. Setelah tahu semua dosaku di masa lalu, apa kamu masih mau menerima pria hina ini?"


Firhan pun wajahnya memerah. Menekan emosi itu tidak mudah, terlebih ketika dia harus mengakui dosanya. Dia hanya berharap bahwa Wati akan masih masih menerimanya.


"Jadi, dia adalah putrimu, Mas? Anak kamu?" tanya Wati dengan menangis sesegukan.


Bagi Firhan sendiri begitu sukar rasanya untuk mengakui Indi adalah anaknya. Sebab, selama ini mulutnya sama sekali tidak pernah terbuka dan mengakui anak itu sebagai anaknya, sebagai darah dagingnya. Bahkan dulu ketika KKN di Jogjakarta dan dia bertemu Ervita, justru Firhan menuduh Ervita bahwa benih dalam rahimnya sudah bercampur.


"Aku pria bejat dan tidak bermoral, Yang. Aku banyak dosanya di masa lalu. Namun, sekarang aku serius ingin memperbaiki diriku," balas Firhan.


Wati masih menangis. Kejujuran suaminya memang membawa luka. Begitu juga dengan Bu Yeni yang sekarang menangis. Sebagai seorang ibu bisa melihat Firhan berbicara jujur adalah kemajuan yang sangat signifikan. Wati bisa mengubah putranya itu. Bu Yeni juga berharap ada pintu maaf untuk Firhan dari sang istri.


"Mas, aku memandang baik kamu yang mau jujur kepadaku. Namun, yang kamu lakukan di masa lalu itu sangat salah, Mas. Aku lebih sedih mendengar saat kamu tidak terusik sama sekali dengan keberadaan mantan pacarmu itu. Seolah, aku mendapati kamu yang tidak memiliki hati nurani," balas Wati.

__ADS_1


Sangat sukar juga bagi Wati. Namun, dia merasa kian sedih kala mendengar suaminya mengatakan tidak terusik dengan mantan pacarnya. Dia merasa sangat sedih kenapa Firhan di masa lalu bisa sekejam itu.


"Maafkan aku, Sayang," balas Firhan dengan menundukkan wajahnya.


"Ada yang lebih berhak mendapatkan maaf selain aku, Mas. Dia yang terhubung langsung dengan masa lalumu. Minta maaflah kepadanya. Akui salah, dan meminta maaf," ucap Wati.


Firhan menghela nafas panjang. Beberapa kali dia juga mengusapi wajahnya dengan kasar. Tanda jika pria itu tengah gundah sekarang. Firhan tidak menyangka akan secepat ini semua masa lalunya terbongkar.


"Aku melihat wajahmu di wajah anak kecil itu, Mas. Dia tidak berdosa bukan? Apa Mas Firhan tidak kasihan, bahwa anak sepandai dan secantik itu tidak memiliki nasab dari Ayahnya yang sebenarnya adalah muadzinnya?" tanya Wati sekarang.


Firhan terdiam. Dia sampai tidak memikirkan sejauh itu. Dulu, Firhan hanya ingin masa depannya cerah. Tidak siap menikah muda, dan sebagainya. Dia tidak memikirkan sama sekali dengan janin yang dikandung oleh Ervita.


"Aku temenin, kita minta maaf bersama-sama, Mas," ajak Wati kemudian.


Firhan menghela nafas lagi, dan sekarang menatap wajah Ibunya. Bu Yeni memberikan anggukan kepala kepada Firhan.


"Minta maaflah, Han ... jika Ervi memberikanmu maaf, mungkin saja Allah nanti berbesar hati dan memberikan keturunan untuk kalian berdua. Wati juga sudah berbesar hati dan mau mendampingimu meminta maaf secara langsung. Jadi, datanglah ke rumah Pak Agus dan Bu Sri. Minta maaf," ucap Bu Yeni.


Setidaknya Bu Yeni pun juga memberikan nasihat kepada Firhan. Bahkan jika Firhan berkenan, seharusnya dia juga meminta maaf kepada Bu Sri dan Pak Agus. Diusirnya Ervita dari rumah dulu, juga karena Firhan yang menghamilinya dan tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi.


"Yuk, Mas ... aku temenin," balas Wati.


"Yang, aku ... mungkin aku akan minta maaf kepada mereka?" tanya Firhan dengan gusar.


"Harus minta maaf, Mas. Yang sudah kamu lakukan di masa lalu sangat salah, Mas. Aku tidak sedang menggurui kamu. Namun, coba bukanlah hatimu, dengarkan suara hatimu. Kalau Mas bisa instrospeksi pasti Mas akan merasa malu dengan diri sendiri," balas Wati.


Firhan terdiam, Kenapa dulu dia merasa semua adalah kesalahan Ervita. Sampai-sampai hati nurani tertutupi dengan kebenciannya. Sekarang, ketika Wati memintanya untuk instrospeksi diri, memang Firhan menjadi malu dengan masa lalunya sendiri.


"Kalau mereka tidak memaafkanku?" tanya Firhan.


"Urusan mereka mau memaafkan atau tidak, Mas. Yang penting Mas mau datang dan mengakui salah, meminta maaf. Setidaknya Allah akan perhitungkan itu," balas Wati.


Firhan yang gusar, sekarang juga menjadi gamang. Sangat tidak mudah untuk datang dan juga meminta maaf. Hingga akhirnya Wati mengulurkan tangannya kepada suaminya.

__ADS_1


"Aku akan menemani kamu ... aku bahkan akan turut meminta maaf denganmu. Kita mulai semua yang baik, Mas," ucapnya.


Situasi yang sangat genting sekarang. Akankah ucapan dan dorongan tulus dari Wati akan bersambut atau memang Firhan yang akan menguruskan hatinya lagi?


__ADS_2