Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Filosofi Srikandi


__ADS_3

Sekarang kembali ke kota Jogjakarta, ada yang benar-benar menahan rindu untuk bisa berjumpa dengan suami tercinta. Namun, Ervita berkeyakinan bahwa hanya tinggal dua hari lagi dan dia akan bisa bertemu dengan Pandu. Hal pertama yang ingin dia lakukan ketika suaminya datang adalah bisa memeluk suaminya.


Namun, hari ini berlalu lebih cepat karena mertuanya, Pertiwi, dan dua keponakannya kembali bermain ke rumahnya. Banyak obrolan, selain itu Indi dan Lintang juga bermain bersama. Membuat siang lebih cepat berlalu.


"Tidak terasa sudah lima hari ya, Vi," ucap Bu Tari.


Sebenarnya jika ada orang yang mengkhawatirkan Ervita adalah ibu mertuanya. Bu Tari sendiri teringat dengan dulu, kala Pertiwi kala pertama kali LDR dan galau sekian hari lamanya. Yang Bu Tari takutkan adalah ketika Ervita juga galau. Namun, ternyata Ervita bisa membawa dirinya dan menjaga emosinya dengan baik. Semoga saja, Ervita secara mental juga baik-baik saja.


"Benar, Bu. Semula, Ervi mengira sangat berat menjalani hubungan jarak jauh. Namun, kini tinggal dua hari lagi. Rasanya sih sebenarnya sudah sangat ingin bertemu Mas Pandu," jawab Ervita.


Memang hal yang awalnya terasa begitu berat, tapi begitu telah dilakukan justru lebih ringan. Awalnya Ervita berpikir tidak akan bisa bertahan. Namun, mengingat hanya tersisa dua hari, maka Ervita akan bertahan.


"Semua kalau dijalani memang terasa lebih ringan, Vi. Ibu sudah merasakannya dulu. Sekarang Ibu pun memberikan semangat untuk kalian yang masih muda-muda. Jangan menyerah, dijalani. Alon-alon asal kelakon," balas Bu Tari.


Sekarang baik Ervita dan Pertiwi diajarkan Ibunya dengan sebuah pepatah Jawa yang berbunyi 'Alon-alon asal kelakon,' yang artinya tidak apa-apa pelan, asalkan bisa dijalani dan sampai pada tujuan. Berani memulai, berani merasakan, dan tentunya berani menghadapi. Pelan-pelan jika hasilnya maksimal justru itu yang disyukuri, daripada memulai semua serba tergesa-gesa, dan hasilnya tidak maksimal.


"Nggih, Bu. Sama seperti Ervi yang menjalani hari-hari ini dengan hati-hati, dengan pelan. Walau terkesan lama, dan harus menunggu, tapi untuk Mas Pandu, Ervi akan menunggu kok, Bu," balasnya.


Pertiwi yang mendengarkan cerita Ervita pun tertawa dan menganggukkan kepalanya. "Kamu lama-lama kayak Pandu loh, Vi ... bucin," balasnya.


Sekarang Ervita yang merasa malu dengan Pertiwi lantaran dirinya yang dikatakan Bucin. Namun, bagaimana lagi jika sudah menyangkut urusan hati dan cinta. Yang ada justru akan berusaha semaksimal mungkin. Akan menanti, walau rindu itu terasa berat. Diri bagai dirantai dan digelangi rindu.


"Apa iya sih, Mbak?" Ervita membalas dengan tertawa.


"Iya, lama-lama jadi mirip Pandu deh. Kayak tumbu dapat tutupnya," balas Pertiwi.


Apa yang dikatakan Pertiwi membuat Ervi dan Bu Tari sama-sama tertawa. Tidak menyangka bahwa Pertiwi bisa memberikan penilaian seperti itu. Namun sebenarnya, Ervita hanya berkata jujur dan mengatakan saja apa yang dia rasakan.


"Klop lah, kamu sama Pandu itu. Ya, botol dan tutupnya. Klop, satu-kesatuan," balas Pertiwi lagi.

__ADS_1


Sementara Ervita tertawa. Mungkin karena menyatu dengan Pandu, banyak menghabiskan waktu bersama-sama. Sehingga, pelan-pelan ada sisi dari keduanya yang ternyata mirip. Melengkapi satu sama lain.


"Ya, kan ... Ervi bicara jujur, Mbak. Lebih baik diomongin daripada hanya dipendam," balasnya.


"Betul banget," balas Pertiwi.


Sekarang Bu Wati tampak mengasuh Irene dan menidurkan cucunya itu dan diajak masuk dari Pendopo ke dalam kamar. Sementara, di Pendopo dimanfaatkan Ervita untuk ngobrol bersama dengan Mbak Iparnya. Berbagi cerita, sembari mengamati Indi dan Lintang yang bermain bersama.


"Lebih bisa beradaptasi sekarang ya, Vi?" tanya Pertiwi sekarang.


"Lumayan sih, Mbak. Hanya mencoba bertahan sebenarnya. Cuma kalau malam ya kangen. Namun, sepenuhnya percaya kok sama Mas Pandu kalau Mas Pandu di sana bekerja juga," balas Ervita.


Pertiwi tampak menganggukkan kepalanya. "Tetap kembali ke kepercayaan kita, Vi. Tidak dipungkiri rumah tangga itu banyak masalahnya. Yang penting api kepercayaan itu jangan sampai padam," balas Pertiwi.


"Iya, Mbak ... bener banget. Aku mengalaminya. Kalau terus berpikiran negatif, efeknya tentu akan negatif juga, Mbak. Jadi, lebih baik berpikiran positif sembari menunggu Yayah datang," balas Ervita.


"Lusa lalu, aku juga ada sedikit masalah, Vi," cerita Pertiwi pada akhirnya.


Mendengar bahwa kakak iparnya terkena masalah. Seolah, Ervita berpikir apa yang sebenarnya terjadi. Hingga, Ervita pun kemudian bertanya kepada Pertiwi.


"Masalah apa Mbak?" Ervita bertanya dengan pandangan yang menelisik.


"Aku bertemu sahabatku dulu, Vi. Sahabat yang sudah kuanggap seperti saudara. Hingga akhirnya sahabatku itu menusukku dari belakang. Dia merebut pacarku dan mereka berdua berakhir di ranjang. Aku ketemu di klinik lusa," cerita Pertiwi.


Sekarang pun Ervita tidak menyangka bahwa Pertiwi memiliki masa lalu yang pahit juga. Jika dikhianati sahabat, pasti berdampak ke kehidupan sosial Pertiwi. Ervita menerka apakah pada akhirnya, Pertiwi memiliki trauma atau enggan untuk bersahabat.


"Mbak Pertiwi tidak trauma untuk bersahabat kan?" tanya Ervita.


"Dulu sih kayak trauma. Mikirnya, aku bersahabat tulus, tapi pacarku diembat juga. Bahkan mereka sampai ke ranjang berdua. Aku menjadi kehilangan kepercayaan akan sebuah hubungan. Hingga setelahnya aku memilih hanya sekadar kenal, tapi tidak usah terlalu dekat," balas Pertiwi.

__ADS_1


Nah, sudah Ervita terka sebelumnya bahwa ada rasa kehilangan kepercayaan dalam menjalin hubungan. Meragukan kesetia kawanan. Merasa persahabatan pada akhirnya hanya menusukmu dari belakang. Sampai di titik ini, Ervita sangat tahu bahwa apa yang dirasakan Pertiwi dulu sangat sulit.


"Kalau mikir buruknya atau negatifnya, udah sahabatan dikhianati, pacaran juga cowoknya gak setia. Jadi aneh-aneh kan? Namun, aku pelan-pelan menyadari bahwa itu cara Tuhan memisahkanku dengan pria yang sejatinya bukan jodohku. Sebab, apa yang dinilai manusia terbaik di matanya, belum tentu itu baik di mata Tuhan. Sebaliknya, hal yang baik dari Tuhan itu adalah yang terbaik untuk manusia. Kalau aku tidak mengalami semua itu, aku tidak akan bertemu dengan Mas Damar. Membina rumah tangga dan sekarang dikaruniai Lintang dan Langit," balas Pertiwi.


Dulu memang ketika kali pertama patah hati karena cinta dan persahabatan, rasanya sangat perih. Hatinya terasa diiris-iris. Namun, setelah bisa mengolah rasa, menata hati, dan merefleksi diri, Pertiwi yakin bahwa itu cara Allah mendekatkan dia dengan pria yang menjadi jodohnya.


"Kalau bisa merefleksi diri sendiri sih, bagus Mbak. Kadang satu peristiwa terjadi dan ada maksud Tuhan di dalamnya. Tergantung manusianya bisa menyingkapinya apa tidak," balas Ervita.


"Iya, benar Bu. Cerita sedikit yah, cuma kemarin kesal ketika aku disudutkan karena mengimunisasikan Langit sendiri dan tidak diantar suami. Sementara sahabatku dulu itu diantar suaminya. Tidak ada salahnya kok ketika wanita menjadi mandiri. Kita kan juga Srikandi. Berani berbuat, berani mengambil peran, dan juga mandiri," balas Pertiwi.


Dalam epos Mahabarata yang mencatat perang besar antara Kurawa dan Pandawa, ada sosok yang kehadiran menjadi penyebab kematian penjaga tahta Hastina Pura, dia adalah Srikandi. Seorang wanita yang mau mengangkat senjata dalam perang besar Bharatayuddha. Sosok Srikandi yang berani, mandiri, dan tegar, serta tidak takut itu menjadi simbol bahwa wanita masa kini bisa menjadi sosok seperti Srikandi.


"Setuju, Mbak. Kita mandiri tujuannya supaya meringankan suami juga. Suami sudah bekerja susah payah, jika kita sedikit saja mandiri, para suami juga bisa beristirahat," balas Ervita.


"Nah, itu. Walau kehadiran kita di belakang sosok pria, tapi dengan menjadi Srikandi yang berani tampil di saat genting, keadaan bisa berubah. Benar kan?"


Sekarang Ervita menganggukkan kepalanya. "Benar, Mbak. Aku setuju. Ku harap ejekan dari sahabatnya Mbak. Pertiwi dulu tidak usah dimasukkan hati yah. Hidup dan mental menjadi. sehat ketika kita berani untuk memilih masalah. Tidak memasukkan semua ke dalam hati," balas Ervita.


"Betul banget, Vi. Istri dan seorang ibu rumah tangga seperti kita juga membutuhkan mental yang sehat. Supaya anak-anak yang kita asuh juga menjadi sehat dan bahagia," balas Pertiwi.


"Kalau dipikir-pikir kan, kalau dulu enggak dikhianati sahabat dan pacar sekaligus, gak akan bertemu Mas Damar kan Mbak? Kalau gak bertemu Mas Damar, belum tentu juga Lintang dan Langit akan lahir. Aku setuju itu cara semesta menjauhkan kita dari orang yang bukan jodoh kita, dan setelahnya kita didekatkan dengan jodoh terbaik kita," balas Ervita.


"Nah, benar banget, Vi. Aku setuju dengan apa yang kamu ucapkan. Cara lebih dekat dengan jodoh kita," balas Pertiwi.


Setelahnya, Pertiwi menganggukkan kepalanya. "Trims, Vi ... memiliki adik ipar seperti kamu kadang membuatku kayak punya adik kandung," kata Pertiwi lagi. Memang Pertiwi sendiri merasakan ketika memiliki adik ipar seperti Ervita rasanya justru memiliki adik kandung.


"Sama-sama, Mbak. Bisa mengobrol sama Mbak. Pertiwi juga bisa menghilangkan jenuh. Membuat waktu lebih cepat berjalan karena ada kegiatan seru. Daripada sendiri kan cuma praktis mengasuh Indi dan Irene," balas Ervita.


Pertiwi dan Ervita sama-sama tersenyum. Cara keduanya untuk menunggu suaminya memang membutuhkan kesabaran. Menghitung hari yang melaju setiap harinya. Hingga akhirnya, Pertiwi dan Ervita merasa lebih bersyukur karena hari yang dia jalani, seolah terkesan lebih pendek.

__ADS_1


__ADS_2