
Ketika sang Ayah kembali ke rumah, yang tampak begitu bahagia adalah Indi. Si Sulung itu seakan tidak beranjak dari pangkuan Ayahnya. Selain itu, juga Ervita sendiri sebenarnya juga sangat rindu dengan suaminya. Namun, dia memilih untuk memberikan waktu terlebih dahulu kepada Indi yang memang sudah dari beberapa hari sangat menanyakan keberadaan Yayahnya. Itu juga pasti karena Indi juga tidak pernah ditinggal jauh untuk Yayah Pandu sebelumnya.
"Makan siang dulu, Mas?" tanya Ervita.
Sekarang Ervita menawarkan makan siang terlebih dahulu untuk suaminya. Namun, Pandu dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tadi sudah makan kok, Nda ... masih kenyang. Nanti aja, lagipula ada yang nempel nih, tidak mau beranjak," balas Pandu.
"Dia kangen banget sama Yayahnya," balas Ervita.
"Sama, Nda ... aku juga kangen sama kalian. Termasuk sama Irene. Si Baby baru bobok yah?" tanyanya.
Ervita kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, putrinya Yayah yang paling kecil masih bobok itu. Palingan sebentar lagi bangun, Yah," balasnya.
Pandu kemudian bertanya terlebih dahulu kepada Indi. "Mbak Didi ... Yayah mau lihat adik Irene sebentar boleh enggak?"
"Boleh Yayah ... Didi tunggu di sini yah," balas Indi.
Pandu pun melangkahkan kaki ke dalam kamar terlebih dahulu dan melihat Irene yang masih bobok, dengan kedua tangannya terangkat ke atas. Pandu tersenyum mengamati Irene.
"Duh, anak cantiknya Yayah boboknya kayak mau terbang begini sih? Sayang Yayah dulu yah," ucapnya.
Pandu menundukkan badannya, hingga wajahnya seakan masuk ke dalam box bayi itu, kemudian Pandu mencium pipi Irene di sana. Aroma bayi yang khas, dan juga dia mencium ketiak Irene karena posisi kedua tangannya yang terangkat ke atas. "Hmm, acem-acem, bikin Yayah kangen deh," ucap Pandu lagi.
Terlihat jelas bahwa Pandu juga begitu kangen dengan bayinya yang kini kepalanya dibotak itu, sehingga Irene pun sekarang gundul. Di Jawa sendiri, tradisi menggundul rambut bayi biasanya dilakukan ketika bayi sudah berusia selapan atau ketika bayi sudah menginjak usia 35 hari. Tradisi Selapan ini bertujuan untuk mengingatkan bahwa sang anak sudah berumur. Tujuan mencukur rambut ini dilakukan dengan maksud dengan membersihkan atau menyucikan rambut si bayi dari segala macam hal yang kotor, selain itu diharapkan si bayi akan tumbuh sehat dan dijauhkan dari berbagai macam penyakit.
"Cantik-cantik kepalanya botak ya, Sayang," ucap Pandu lagi.
Hingga akhirnya Indi kembali menyusul Yayahnya. "Adik masih bobok, Yah," ucap Indi.
"Iya, Mbak Didi ... biar Irene bobok dulu. Yuk, mau main sama Yayah?" tanya Pandu.
__ADS_1
"Iya mau, Yayah," jawab Indi.
Indi kemudian menggandeng Ayahnya menuju ke Pendopo. Sama seperti yang dia mau, dia mau berkemah dengan Yayahnya di Pendopo. Oleh karena itu, dia segera mengajak Yayahnya ke Pendopo. Sekarang, memang Pandu meluangkan waktu untuk anak-anak dulu. Sementara untuk nanti malam adalah waktu khusus untuk Ervita. Sekarang, seolah Ervita harus mengalah terlebih dahulu. Namun, pasti nanti malam ada waktu khusus bersama dengan Ervita.
Sekarang Pandu dan Indi menikmati berkemah bersama, dengan membawa beberapa boneka bersama. Kemudian juga Indi seolah mengajak Ayahnya untuk bercerita bersama. Pandu juga tahu sekarang Indi mengajaknya melakukan story telling dengan menggunakan beberapa boneka miliknya.
"Sebentar ya, Didi ... Yayah ke dalam sebentar yah?" pamit Pandu sebentar.
"Yayah mau ke mana?" tanya Indi.
"Sebentar saja kok, Nak," balas Pandu.
"Oke Yayah ... jangan lama-lama yah."
Pandu kemudian masuk ke dalam kamar dan mengambil boneka yang dia belikan di Surabaya untuk Indi dan Irene. Untuk Indi akan dia berikan terlebih dahulu, sedangkan untuk Irene akan dia berikan nanti. Boneka bear yang bentuknya sama. Yang satu berwarna cokelat dan yang satunya berwarna putih.
Indi begitu senang karena Ayahnya benar-benar membelikannya boneka. "Yayah, Didi yang cokelat yah. Nanti Adik yang putih yah," ucapnya.
"Oke, Mbak Didi ... yang penting nanti untuk Adik satu yah," balasnya.
Cukup lama Indi dan Pandu bermain bersama, hingga akhirnya. Indi mengantuk dan kemudian dia meminta tidur terlebih dahulu. Barulah sekarang Pandu memiliki waktu dengan Ervita.
"Ah, sudah bobok anak-anak. Tinggal nunggu Irene bangun ya, Nda," ucap Pandu sekarang.
"Indi puas dan seneng banget bisa main sama Yayahnya," balas Ervita.
Pandu kemudian menyandarkan kepalanya di bahu istrinya, dengan kedua tangan yang melingkari pinggang sang istri, sementara Ervita segera mengusapi puncak kepala suaminya itu, mengusapi helai demi helai rambut suaminya.
"Capek ya Mas?" tanya Ervita.
__ADS_1
"Lumayan, Dinda ... cuma kan kembali ke rumah membuatku bahagia. Ini rumahku, keluargaku, dan belahan jiwaku ada di sini," balas Pandu.
"Apalagi datang dan Indi maunya main yah," balas Ervita.
"Tidak apa-apa, Nda ... kangen kan sama Ayahnya. Apalagi dia tidak pernah ditinggalkan oleh Ayahnya sebelumnya," balas Pandu.
Sepenuhnya Pandu juga menyadari bahwa sebelumnya Indi juga tidak pernah ditinggalkan olehnya. Sehingga, ketika bertemu langsung rindu dan inginnya bermain, menghabiskan banyak waktu dengan sang Ayah. Sementara Ervita juga menyadari bahwa memang lebih baik Pandu menghabiskan waktu untuk anak-anaknya dulu.
"Yah, itu Irene bangun ... gantian Yayah," ucap Ervita. Itu juga karena sekarang Irene terbangun.
Pandu tertawa. Kemudian dia beringsut dari posisinya dan berjalan menuju ke box bayi milik Irene. Tidak usah menunggu lama, Pandu segera menggendong bayinya itu.
"Gantian ya, Sayang ... tadi abis main sama Mbak Didi, sekarang gendong Irene dulu yah," balasnya.
"Kan Yayahnya Sultan ... jadi dikerubuti putri-putri cantik," balas Ervita.
Pandu tertawa, dia menggendong Irene dan mencium putrinya itu. "Ah, kangen sama putri-putrinya cantiknya Yayah. Mbak Didi yang ceriwis, dan Irene yang acem-acem bikin kangen."
Mendengar apa yang baru saja Pandu ucapkan, Ervita giliran yang tertawa. Hingga Ervita turut berdiri dan bergelayutan di punggung suaminya, mendekatkan kepalanya di punggung suaminya, dengan tangan yang melingkari pinggang suaminya.
"Aku kangen juga sama Yayah," ucap Ervita.
"Yayah nanti malam sama Nda yah ... walau tiketnya belum dijual, kangen-kangenan dulu saja," balas Pandu.
"Tiket apa emangnya, Yah?" tanya Ervita.
"Swargaloka."
Ervita dan Pandu sama-sama menjawab dan tertawa bersama. Ketika suami kembali pulang, rumah menjadi lebih ramai, dan banyak suara. Kebahagiaan di dalam rumah kembali hadir dan bertambah. Sungguh suasana yang sangat menyenangkan.
__ADS_1