Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Bermuka Dua


__ADS_3

Melihat keberadaan Pandu di sana, nyaris pergi Lina pun segera menghentikan langkah Pandu. Sungguh, Lina tidak menyangka jika ada Pandu di sana. Dia pikir yang ada di outlet Baby Shop miliknya itu hanya Ervita dan wanita hamil yang bersama Ervita. Sementara melihat Pandu, Lina pun seakan harus bersikap manis untuk meraih simpati dari pria yang dulu pernah menjadi mantan pacarnya itu.


"Pandu, dengar dulu Pandu," kata Lina yang kini menggenggam lengan Pandu di sana.


"Lepaskan Lin, tidak usah pegang-pegang," balas Pandu dengan menghempaskan tangan Lina di lengannya.


"Tunggu, jangan pergi dulu Pandu ... masih ada yang harus aku sampaikan. Sory, aku tidak tahu jika ada kamu," ucap Lina. Begitu lucunya, jika tadi Lina menatap Ervita dan Pertiwi dengan memincingkan matanya, dan bersikap angkuh. Sekarang di hadapan Pandu, Lina terlihat menyesal.


Sementara Pertiwi yang kadung kesal, rasanya ingin mengomel di sana. Untung saja, ada Ervita yang bisa menenangkan Pertiwi. Walau sebenarnya Ervita juga kesal tiap kali bertemu dengan Lina.


"Sorry, aku tidak tahu kalau kamu. Mau beli apa, Ndu? Biar aku bantu," ucap Lina.


Pandu yang diam dan belum memberikan jawaban. Sementara di satu sisi aja Pertiwi yang menyahut. "Sorry, gak jadi beli. Penjualnya saja kayak Nenek Lampir. Padahal pembeli itu adalah raja, tapi di sini pembeli justru direndahin, dikatain kampungan. Emangnya situ orang kota?"


Agaknya Pertiwi sudah tidak bisa menahan amarah dalam dirinya. Begitu sebal. Ketika pembeli yang biasa dianggap raja, dan dilayani si Penjual dengan baik. Di sini, justru Ervita dikatain sebagai wanita kampungan. Memang bukan Pertiwi yang dikatain, tetapi etika berjualan seperti ini sama sekali tidak benar. Ucapan Pertiwi pun bukan tanpa alasan, tetapi juga karena dia lahir dan dibesarkan dari kalangan penjual. Pertiwi bisa melihat bagaimana Bapak dan Ibunya melayani para pembeli Batik dengan ramah. Bahkan ketika ada pembeli yang sudah menawar hingga harga terendah, dan kemudian tidak jadi membeli, Bapak dan Ibunya bisa bersikap sabar. Tidak mengatai-atai pembelinya yang sudah menawar, dan akhirnya justru membeli batik di kios sebelah.


Sementara sekarang ada wanita yang wajahnya memang cantik, tapi memperlakukan calon pembeli dengan buruk. Padahal berbagai barang yang dijual di Mall, pastilah harga pas dan tidak akan ditawarkan. Namun, justru diperlakukan dengan tidak baik.


"Sory Mbak ... bukan untuk Mbaknya kok, tapi untuk dia tuh," balas Lina dengan menunjuk Ervita.


"Siapa pun dia, kamu gak boleh ngrendahin orang lain," balas Pertiwi.


Ya, Pertiwi pun menjunjung tinggi ajaran yang selalu disampaikan oleh Bapak dan Ibunya. Bahkan orang hidup itu jangan memandang pada yang namanya gebyar, atau penampilan luar. Bisa saja penampilan luar terlihat mewah, tapi sebenarnya batinnya menderita atau hidupnya banyak masalah. Pun begitu sekarang, Ervita memang terlihat sederhana. Hanya mengenakan midi dress, wajahnya pun nyaris tanpa polesan make up, hanya sedikit bedak, dan juga lipstik berwarna merah jambu yang memoles bibirnya.

__ADS_1


"Dia siapa Lin? Dia itu istriku ... satu-satunya wanita yang aku cintai melebihi apa pun," balas Pandu dengan tegas.


Lina memutar bola matanya dengan malas, dan juga kesal rasanya. Jelas-jelas menurut Lina, penampilan Ervita itu biasa banget. Kalah jauh dengan dirinya. Akan tetapi, justru wanita seperti itu yang bisa membuat Pandu bisa mengungkapkan perasaannya dengan tegas dan lugas tentunya.


"Ayo, Dinda ... Mbak, kita pergi saja," ajak Pandu kepada Ervita dan juga Pertiwi.


"Pandu, tunggu ... jangan langsung pergi. Aku seneng banget bisa ketemu kamu di sini," sahut Lina yang masih berusaha untuk menghentikan Pandu.


Bak, tak ingin selamanya diam. Ervita kini berjalan melangkah lebih dekat kepada suaminya, tangannya segera mengapit lengan suaminya. "Pulang ya Mas," ajak Ervita dengan tersenyum kepada suaminya itu.


"Iya, mau ngapain buru-buru pulang?" balas Pandu.


"Kangen kamu," balas Ervita.


"Wanita bermuka dua banget sih ... tadi aja angkuh banget, ngata-ngatain kita. Setelah lihat Pandu terus dimanis-maniskan. Paling gak suka sama wanita kayak gini," ucap Pertiwi yang seolah ngedumel.


Pandu dan Ervita memilih tersenyum. Emosi memang perlu diluapkan dan itu yang Pandu dan Ervita lakukan, yaitu menjadi pendengar setia untuk kakaknya itu. "Sabar Mbak ... nanti adik bayinya di dalam sini ikutan emosi loh," balas Ervita dengan terkekeh geli.


"Aku emosi, Vi ... memperlakukan pembeli itu tidak boleh seperti itu. Aku itu dilahirkan dan tumbuh besar dari keluarga penjual loh, Vi ... bagaimana Bapak dan Ibu menjual batiknya sampai bertahan di titik ini dan selama ini, karena Bapak dan Ibu menghargai pembeli. Pernah ada pembeli yang menawar, harganya diturunin terus, tapi pada endingnya ditinggal dan tidak jadi dibeli. Eh, dia malahan ngatain pembelinya kampungan. Sebel tahu. Siapa sih dia?"


Pertiwi masih emosi dan juga bibirnya mengoceh dengan begitu cepatnya. Sementara Ervita tidak mau mengambil hati. Lucu saja melihat Kakaknya mengoceh seperti ini. Sebab, biasa Pertiwi tidak pernah ngedumel seperti ini.


"Dia siapa sih, Ndu?" Pertiwi kembali bertanya karena dia sangat yakin bahwa sudah pasti wanita itu tadi kenal dengan Pandu.

__ADS_1


"Mantannya Mas Pandu itu Mbak," balas Ervita dengan terkekeh geli.


Mendengar jawaban dari Ervita, Pertiwi justru geleng-geleng kepala. "Astaga. Jadi dia, Ndu? Lina itu? Ya ampun, untuk wanita kayak gitu kamu sampai tidak bisa move on sekian tahun. Ya Tuhan, untuk bukan dia yang jadi adik iparku," ucap Pertiwi.


"Bukan karena orangnya yang bikin susah move on, Mbak ... tapi dikhianatinya sama temen sendiri itu yang bikin sakitnya tuh di sini," balas Pandu dengan menunjukkan ekspresi wajah yang biasa saja.


Pertiwi tampak mendengus kesal. "Ck, untung bukan dia istri kamu. Cantik sih, tapi kayak Nenek Lampir. Bisa dipastikan Bapak dan Ibu bisa langsung tekanan darah tinggi nanti," balas Pertiwi.


"Sudah Mbak ... kan memang bukan dia," balas Pandu.


"Jangan disesali, Ndu. Itu berarti Tuhan itu punya cara untuk menunjukkan kepada kamu, bahwa dia memang bukan yang tepat untuk kamu. Pasangan itu, garwa, yang sesigaring nyawa itu untuk seumur hidup, Ndu. Jangan sampai, salah pilih dan penyesalananya seumur hidup," ucap Pertiwi lagi.


Pandu yang serius mengemudikan stir mobilnya pun menganggukkan kepalanya. "Benar Mbak ... sudah tidak nyesal. Tuhan sudah gantikan dengan tulang rusuk yang pas. Cocok, dan juga bisa saling mengerti Pandu. Pandu sudah bahagia sama Dinda," balasnya.


"Nah gitu, Mbak juga setuju dan bahagia. Sejak pertama lihat Ervi, Mbak itu setuju. Beneran loh, Vi ... kamu itu tidak neko-neko, lembut juga, kayak putri Solo gitu. Cocok buat Pandu yang kalem," balas Pertiwi.


Ervita sejak tadi nyatanya hanya tertawa saja. "Sudah Mbak ... nanti kepalanya Ervi membesar loh ini, sampai helm saja tidak muat," balasnya.


"Serius Vi ... orang itu harus bisa menempatkan diri di hadapan orang lain. Menaruh hormat itu yang harus dilakukan, Vi. Sementara ketika seseorang merendahkan orang lain, aku gak yakin dia bisa menerima dirinya dengan benar juga," balas Pertiwi.


"Ya, Pandu mungkin nikahnya gak telat Mbak. Menjelang tiga puluh tahun baru nikah. Namun, pernikahan ini sekali untuk selamanya, dan tidak akan beralih ke lain hati. Selamanya hanya Ervi buat Pandu," aku Pandu.


Pertiwi pun perlahan tersenyum, "Nah, gitu. Jangan diladeni. Selama kita tidak membuka celah, sudah pasti akan langgeng itu kuncinya. Berkacanya tidak perlu jauh-jauh. Berkaca pada Bapak dan Ibu yang bisa harmonis dan selalu sarimbit sampai tua," balas Pertiwi.

__ADS_1


__ADS_2