Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Ilustrasi Ilalang dan Gandum


__ADS_3

Lina berdecih, sungguh tidak mengira bahwa Ervita rupanya berani juga untuk menyahut kata-katanya. Memang Ervita tidak berapi-api, tetapi terlihat jelas bahwa Ervita memang tidak takut untuk membalas perkataan Lina.


“Bahkan kalau lenyap pun tidak ada yang mencarimu,” sahut Lina.


Sungguh, begitu kesalnya Lina saat ini. Dia pikir seorang Pandu tidak akan pernah move on darinya. Akan tetapi, justru terlihat bahwa Pandu terlihat begitu menyayangi Ervita dan juga tidak menyangka dalam waktu lima tahun, Pandu juga sudah memiliki anak. Ya, Lina berpikir bahwa Pandu memang sudah cukup lama menikah dan Indira adalah anaknya Pandu, anak kandungnya.


Pandu tahu bahwa dari jauh, ada Lina yang tampak mengajak Ervita berbicara, sehingga begitu Ervita sudah duduk di sampingnya, Pandu pun segera bertanya kepada istrinya itu.


“Tadi kenapa Nda?”


“Oh, itu … tidak apa-apa kok Mas,” jawabnya.


“Dia mengganggu kamu?” tanya Pandu lagi.


“Ya, biasa … kenapa mantan selalu suka begitu ya Mas … ada enggak sih mantan yang bisa aling berhubungan baik tanpa harus menyakiti,” balas Ervita.


Sebab, dalam benak Ervita kenapa mantan selalu bersikap begitu. Firhan pun sikapnya juga tak kalah berbeda dari Lina. Suka menjelekkan dan juga menyudutkan seseorang atas masa lalu yang telah terjadi.


“Ya, mungkin tabiatnya memang seperti itu, Nda,” balas Pandu.


Mungkin di belahan bumi yang lain ada mantan yang bisa saling berhubungan baik. Akan tetapi, Pandu dan Ervita sama-sama diperhadapkan dengan mantan yang justru mengusik masa lalunya dan tidak segan untuk merendahkan mantan pacarnya dulu.


“Habis ini kita datangi Bapak dan Ibu ya Mas … enggak enak, kan kita ke sini bareng-bareng. Malahan sekarang kita ninggalin Bapak dan Ibu,” ajak Ervita kepada suaminya itu.


Pandu pun menganggukkan kepalanya, “Iya Dinda … biar Indi makan es krimnya dulu yah. Nanti kita samperin Bapak dan Ibu,” balasnya.

__ADS_1


Hingga akhirnya, setelah es krim yang dimakan Indira sudah habis, kemudian mereka mulai mencari Bapak Hadinata dan Bu Tari. Bergabung kembali dengan orang tua mereka yang menunggu di Omah Batik.


“Bapak dan Ibu, maaf kami lama,” sapa Ervita begitu bertemu dengan kedua mertuanya.


“Tidak apa-apa, Vi … menyenangkan Indi. Biar seneng yah,” balas Bu Tari.


Rupanya ketika keluarga Hadinata sedang berkumpul dan hendak menentukan ke mana tujuan wisata selanjutnya. Ada Lina yang kembali berpapasan dengan mereka, bahkan Lina turut menyapa Pak Hadinata dan Bu Tari.


"Bapak dan Ibu ... masih ingat saya tidak?" sapa Lina dengan menjabat tangan Bu Tari dan Pak Hadinata.


Tentu saja, keduanya tidak pernah lupa dengan Lina, mantan pacar Pandu dulu. Kisah apa yang terjadi hingga Pandu bisa tidak move on bertahun-tahun lamanya dan seolah Pandu menjadi pria yang antipati dengan seorang wanita.


Pandangan Bu Tari dan Pak Hadinata kini terarah kepada Ervita yang kala itu berdiri di belakang Pandu. Ada hati yang mereka jaga, dan itu adalah hati Ervita. Bisa saja usai bertemu dengan Lina bisa membuat Ervita sakit hati.


"Iya, tahu," balas Bu Tari singkat.


Sungguh, tidak enak melihat hal seperti ini, tetapi Ervita berusaha tenang. Dia sudah meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan terpengaruh. Baginya semuanya adalah masa lalu dan tidak akan mempengaruhinya.


"Tapi bukan jodohnya, Pandu sudah berjodoh sama Ervi," balas Pak Hadinata.


Lina pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Kalau Pandu mau cari istri lagi sapa tahu ... kan pria bisa berpoligami," balas Lina.


Kali ini Ervita hanya bisa menghela nafas di sana, Bu Tari pun yang menunduk dan melirik kepada Ervita. Dalam iman mereka memang seorang pria diperbolehkan untuk poligami, menikah lagi asalkan bisa bertanggung jawab. Akan tetapi, wanita pun akan sakit hati jika dimadu.


"Wah, aku gak niat dan minat sama sekali. Punya istri satu saja sudah bahagia lahir batin," celetuk Pandu.

__ADS_1


Jawaban yang Pandu berikan memberikan penegasan bahwa memiliki Ervita saja, dirinya sudah bahagia lahir dan batin. Tidak perlu mencari kebahagiaan yang lainnya.


"Monggo Bapak dan Ibu, kita lanjut ke tempat selanjutnya," ajak Pandu kemudian.


"Duluan Lin," balas Bu Tari dan Pak Hadinata di sana.


Mereka berlima pun segera memasuki mobil dan Ervita yang masih bersikap begitu tenang.


"Tidak usah dimasukkan hatiya Vi," ucap Bu Tari kepada Ervita.


"Iya, Buk ... tidak kok," balas Ervita dengan menganggukkan kepalanya.


"Kamu tahu kan siapa dia?" balas Bu Tari lagi.


"Iya, mantan pacarnya Mas Pandu," balas Ervita dengan menghela nafas sepenuh hati.


Pandu kemudian melirik kepada Ervita di sana, "Maaf ya Nda ... justru bertemu dengan dia di sini. Jujur Nda, aku sama sekali tidak ada niat dan minat untuk mendua. Satu-satunya permaisuri di hati aku hanya kamu," ucap Pandu dengan sungguh-sungguh.


Pak Hadinata pun turut menganggukkan kepalanya, "Benar, Vi ... janga dimasukkan hati yah. Pandu dan Lina pernah punya masa lalu, dan yang paling penting yang berharga dan akhirnya mendampingi Pandu adalah kamu. Jangan sampai ada ilalang yang tumbuh di antara benih gandum, hingga ilalang itu tumbuh meninggi hingga mematikan si gandum. Pangkas, kalau perlu cabut saja akar ilalang itu. Jangan dimasukkan hati," nasihat dari Pak Hadinata.


Ervita pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, "Nggih Pak ... Ervita baik-baik saja. Insyaallah, selalu percaya sama Mas Pandu. Juga, untuk ilalang itu, akan Ervita bumihanguskan," balasnya dengan sedikit tertawa.


"Syukurlah Nduk ... ya, benar ... bisa menyingkapi hidup dan masalahnya ya Vi ... rukun. Rukun berumahtangga itu harganya mahal. Jangan sampai ada hal-hal yang membuat kalian berdua congkrah (berseteru - dalam bahasa Indonesia)," nasihat dari Bu Tari.


"Nggih Bu," Ervita dan Pandu sama-sama menjawab.

__ADS_1


Mungkin kehidupan rumah tangga mereka masih hitungan baru, baru dua bulanan berjalan. Rintangan, halangan, dan juga cobaan bisa saja singgah. Akan tetapi, mereka akan ingat setiap nasihat baik dari kedua orang tua mereka untuk membina rumah tangga. Tidak akan memberikan ilalang tumbuh di antara gandum. Sebelum ilalang itu tumbuh kian membesar dan mengganggu pertumbuhan tanaman gandum, lebih baik memusnahkan akarnya terlebih dahulu dan membiarkan tanaman gandum akan tumbuh subur hingga menguning dan berbulir.


__ADS_2