Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Ambangun Tresna


__ADS_3

Meninggalkan sejenaknya kerimutan rumah tangga Firhan dan Wati yang sedang kisruh. Sementara tidak jauh dari Solo, tepatnya di Jogjakarta, ada pasangan muda yang sedang menikmati perannya menjadi orang tua. Siapa lagi kalau bukan Ervita dan Pandu yang merasakan indahnya menjadi orang tua. Terlebih untuk Pandu, yang bagaimana pun juga Irene adalah putri biologisnya. Sehingga, Pandu pun belajar banyak dengan hadirnya Irene.


Bahkan seminggu usai Ervita melahirkan, Pandu sendiri rasanya masih ingin berada di rumah dan membantu istrinya itu. Terlebih ketika sekarang di rumah dia memiliki tiga wanita cantik yang melengkapi hari-harinya, rasanya rumah menjadi kian menyenangkan untuk Pandu.


"Kok enggak masuk kerja sih Mas?" tanya Ervita pagi itu.


"Masih ingin nemenin kamu, Nda," balas Pandu.


Memang rasanya, Pandu ingin menghabiskan banyak waktu di rumah. Lagipula, ini baru satu minggu usai Ervita melahirkan. Rasanya, dia masih ingin ada di rumah dan bisa melakukan banyak hal untuk istrinya.


"Kan kerja saja, tidak apa-apa. Mas. Aku baik-baik saja kok," balas Ervita.


"Jujur, Dinda ... melihat kamu melahirkan dulu sesakit itu, aku jadi pengen nemenin kamu dulu. Aku di rumah dua minggu yah," ucap Pandu.


Ervita membelalakkan matanya. Menurutnya sendiri, waktu dua minggu itu termasuk lama. Padahal, Ervita juga sudah sehat sekarang. Kemarin pun saat melakukan cek pasca bersalin juga jahitannya hampir kering. Dokter Arsy mengatakan bahwa Ervita harus makan sayur dan ikan, tidak perlu berpantangan apa pun. Selain itu, mengonsumsi buah sebagai sumber serat. Kendati demikian, Ervita masih disarankan untuk meminum vitamin C yang akan memulihkan kondisi ibu pasca bersalin dan menstimulasi jaringan kulit yang baru pada luka jahitan.


"Enggak kelamaan itu, Mas?" tanya Ervita.


Dengan cepat Pandu menggelengkan kepalanya. "Enggak, dua minggu udah pas. Lagian, kan kantor konsultasi juga punya sendiri kok. Aman. Aku justru bisa bantuin untuk yang jualan batik ini. Boleh yah?"


Mendengar jawaban dari suaminya, Ervita pun tersenyum. "Padahal lebih capek di rumah loh, Mas. Soalnya harus mengurusi tiga orang. Emangnya Mas Pandu enggak keberatan?" tanya Ervita.

__ADS_1


Memang ada orang yang beranggapan bahwa berada di rumah itu justru membutuh badan menjadi lebih capek, karena banyak diurusin. Mulai dari membantu istri yang jika dijabarkan bisa menjadi beberapa macam pekerjaan rumah. Sementara jika memilih masuk bekerja, hanya fokus untuk menyelesaikan pekerjaan saja dan tubuh tidak akan begitu capek.


"Capek untuk keluarga itu berkah kok, Nda," balas Pandu.


Ya Tuhan, Ervita begitu bahagia dengan jawaban dari suaminya. Seorang pria yang begitu mengutamakan keluarganya. Ya, Pandu adalah seorang family man. Seorang pria yang lebih suka menghabiskan waktunya bersama dengan keluarganya.


"Masyaallah ... kamu baik banget sih, Mas. Kayaknya, Tuhan menghujaniku dengan kebaikan deh setelah bertemu dengan kamu," balas Ervita.


"Enggak juga, Sayang. Kan memang keluarga harusnya seperti ini, Nda. Namanya itu Ambangun Tresna. Membangun kasih sayang. Bukan hanya kepada istri, tetapi juga kepada anak-anak. Nanti kalau kita sudah tua, juga menyayangi menantu dan cucu."


Ketika orang berumah tangga sejatinya memang seperti membangun sebuah rumah. Di mana membutuhkan material seperti pasir, semen, batu bata, dan lainnya. Semuanya disusun dengan sedemikian hingga sebuah rumah berhasil berdiri dan kokoh, bisa ditempati untuk sekian tahun lamanya. Begitu juga ketika membangun rumah tangga, dibutuhkan cinta, ketulusan, kesetiaan, dan komitmen untuk mempertahankan rumah tangga hingga ujung masa.


"Mas Pandu memang top, deh ... luar biasa."


"Anak-anaka kita pasti akan seneng banget memiliki Ayah seperti kamu. Luar biasa banget," balas Ervita.


Pandu pun tersenyum. "Aku juga senang memiliki kamu, Indi, dan Irene sebagai keluargaku. Aku janji, seumur hidupku, aku akan selalu menjaga dan membahagiakan kalian," balasnya.


"Amin, terima kasih banyak Mas Pandu. Semoga Mas juga selalu sehat selalu, pekerjaannya dilancarkan Allah. Lelahmu menjadi lillah untuk seluruh keluarga kita," balas Ervita.


"Amin, terima kasih doanya, Dindaku," balas Pandu.

__ADS_1


Kala mereka berbincang cukup lama, Irene pun terbangun dan menangis. Pandu tersenyum, sekarang dia pun tahu bahwa ketika seorang anak masih begitu kecil tangisan seolah menjadi alat komunikasi dari bayi kepada orang tuanya.


"Biar aku yang gendong Irene ke sini, Nda," ucap Pandu yang berinisiatif terlebih dahulu, dan sekarang si Yayah sudah berdiri.


Pandu pun berjalan menuju box bayi milik Irene dan kemudian menggendong bayinya itu. Belum memberikan kepada Ervita, karena Pandu merasa sesuatu yang basah kala mengggendong Irene.


"Sebentar, dicek Yayah dulu yah," ucap Pandu.


Ervita pun turut mendekat dan melihat suaminya yang tengah membersihkan Irene di sana. Ervita membiarkan saja, karena memang pengasuhan pun ada tanggung jawab Ayah dan Bunda. Seorang Ayah jika mau membantu untuk mengasuh anaknya yang masih bayi artinya justru bagus, karena sang Ayah mau terlibat secara langsung.


"Nda, minta tolong diapers dong," pinta Pandu.


"Iya, aku ambilin, Yayah. Pipis yah Irenenya?" tanya Ervita.


"Iya, penuh diapersnya," balas Pandu.


Setelah Irene selesai dibersihkan, barulah Ervita menimang Irene dan memberikannya ASI. Sementara Pandu membuang bekas diapers ke tempat sampah terlebih dahulu.


"Nah, kayak gini kan juga ambangun tresna, Nda. Tresnaku lan tresnamu," balas Pandu.


Yang dimaksudkan oleh Pandu adalah membangun cinta, melalui cinta yang dimiliki keduanya, cinta dari Pandu dan cinta dari Ervita. Sumber cinta yang akan dilimpahkan untuk kedua putrinya.

__ADS_1


"Nggih, Mas Pandu," balas Ervita.


Pandu pun tersenyum. "Menikmati masa memiliki bayi kecil dulu, Nda. Dulu waktu Indi bayi, aku juga tahu, cuma tidak banyak terlibat. Sekarang bisa terlibat secara langsung, rasanya sungguh menyenangkan."


__ADS_2