
Jika di Jogjakarta, kemarin keluarga besar Hadinata sudah menikmati ketupat lebaran lengkap dengan Opor Ayam dan Sambal Goreng Krecek kesukaan Pandu. Di Solo, Bu Sri justru membuat Sup Manten. Sup Manten adalah sup yang biasanya disajikan saat pernikahan, kala ada pengantin. Isian dari Sup Manten itu adalah wortel, jamur salju, kacang kapri, galantin, sosis, dan juga kuah yang dibuat dari ayam kampung yang direbus.
"Makan dulu yah? Ibu masak Sup Manten. Sup Manten ini kesukaannya, Ervi loh Mas Pandu," ucap Bu Sri.
Memang Bu Sri hari ini sengaja memasak Sup Manten yang adalah makanan kesukaan Ervita. Ketika anaknya pulang ke rumah di hari Idul Fitri, Bu Sri ingin memasakkan apa yang disukai Ervita. Selain itu, mungkin orang-orang sudah kenyang dengan aneka menu khas lebaran yang bersantan. Sehingga, sekarang lebih baik untuk membuat Sup Manten yang gurih dan segar. Ketiga cucunya yaitu Indi, Irene, dan Arka juga bisa makan karena tidak pedas.
"Wah, Pandu juga suka itu, Bu," balas Pandu.
"Makan yah Mas Pandu, biar Ibu yang ambilin," tawar Bu Sri.
Ervita menahan Ibunya, "Tidak usah, Bu ... biar Ervi yang mengambilkan untuk Mas Pandu. Terima kasih banyak ya, Bu. Selalu mengingat Ervi," balasnya.
"Pasti, Ibu akan selalu mengingat dan menyayangi kamu, Vi. Kamu adalah anaknya Ibu. Kasih Ibu itu sepanjang masa," balas Bu Sri.
Selalu ada saja pembicaraan menyentuh ketika Ervita sudah bersama dengan ibunya. Pembicaraan yang membuat haru. Ervita pun merangkul Ibunya itu.
"Terima kasih banyak, Bu ... Sup ini juga kesukaan Mas Pandu dan anak-anak di rumah," balasnya.
"Sudah sana. Suamimu dilayani dulu, anak-anak biar sama Ibu dan Bapak. Biar Ibu yang suapin Indi dan Irene," balas Bu Sri.
Akhirnya Ervita mengambilkan makan untuk suaminya terlebih dahulu. Menyerahkan sepiring Sup Manten dengan galantin itu untuk suaminya. Setelahnya, Ervita juga mengambil untuk dirinya sendiri, menikmati makanan kesukaannya itu bersama dengan suaminya.
"Hmm, enak yah, Dinda," ucap Pandu kala baru satu kali mengunyah makanannya.
__ADS_1
"Iya, masakan Ibu memang enak kok, Mas," balas Ervita.
"Mirip dengan masakan kamu. Enak ... iya, setelah kemarin menu dengan aneka santan, sekarang makan yang kayak gini. Jadinya enggak eneg," balas Pandu.
Ervita tersenyum mendengarkan suaminya itu. Namun, Ervita juga setuju. Kemarin satu hari full menyantap makanan dengan kuah santan yang kental. Sekarang, mendapatkan Sup seperti ini justru suka.
"Mau nambah?" tanya Ervita.
"Sebenarnya mau tambah, tapi malu sama Ibu," balas Pandu.
Ucapan Pandu rupanya terdengar oleh Bapak Agus, seketika Pak Agus pun menyuruh Pandu untuk nambah lagi. "Tambah Mas Pandu ... gak usah malu. Di rumah orang tua sendiri," balas Pak Agus.
Pandu pun tersenyum dengan menundukkan wajahnya, serta Ervita yang mencubit paha suaminya itu. Geli saja melihat tingkah suaminya itu.
"Ya sudah, terserah saja," balas Pandu.
Akhirnya, Ervita mengambilkan lagi makanan untuk suaminya. Usai makan, mereka beristirahat sejenak. Siang hari di Solo kala itu terasa begitu panas. Indi dan Irene juga senang bermain dengan Arka. Hingga akhirnya ada tamu yang datang tiba-tiba ke kediaman Bapak Agus.
"Kula nuwun," sapa pria itu.
"Ya, silakan masuk," balas Bu Sri.
Tidak menyangka ternyata yang datang ke rumahnya adalah Firhan. Ya, pria yang adalah tetangganya dan sekaligus masa lalu dari putrinya itu menginjakkan kakinya ke rumah di hari lebaran itu.
__ADS_1
"Ada apa, Mas Firhan?" tanya Bu Sri kepada Firhan.
Tampak Firhan menghela napas panjang dan menatap Bu Sri dan Pak Agus bergantian. Kemudian dia mengambil posisi sungkem di kaki Pak Agus dan Bu Sri.
"Bapak dan Ibu ... sugeng riyadi. Sekaligus Firhan dapat untuk memohon maaf lahir dan batin. Maaf untuk setiap dosa dan salahnya Firhan di masa lalu yang sukar di maafkan oleh Bapak dan Ibu," ucapnya.
Rupanya kedatangan Firhan kali ini adalah untuk meminta maaf lahir dan batin kepada keluarga Ervita. Firhan ingat bahwa selama beberapa tahun ini, dia belum meminta maaf khusus kepada orang tua Ervita. Padahal, Firhan pernah merusak anak gadisnya. Menghamilinya dan tidak mau bertanggung jawab.
"Tidak apa-apa, Mas Firhan. Semua hanya masa lalu. Kita tutup buku yang lama. Sekarang Mas Firhan sudah bahagia dengan Mbak Wati dan akan menjadi ayah juga. Jalani hari dengan baik dengan ridho Allah," balas Pak Agus.
Memang jika mengingat semua kesalahan yang terjadi di masa lalu hanya ada membuat dendam yang tak berkesudahan. Akan tetapi, adalah jauh lebih baik untuk memaafkan. Dulu, memang Pak Agus benci dengan Firhan. Berusaha datang dan meminta pertanggungan jawab, tapi pria itu selalu mengelak dan menganggap putrinya adalah gadis murahan. Sekarang, sudah tahun demi tahun berlalu. Tidak ada lagi dendam.
"Alhamdulillah, jadi saya dimaafkan Pak?" tanya Firhan.
"Iya, kita sama-sama kembali ke fitri," balas Pak Agus.
Pak Agus membantu Firhan berdiri. Tidak perlu melakukan sungkem seperti ini. Toh, pada kenyataannya masa lalu tetap menjadi masa lalu. Lebih baik untuk benar-benar menutup buku dan juga melakukan yang terbaik dengan pasangan dan keluarga masing-masing.
Ketika Firhan kembali duduk, sorot matanya bersitatap dengan Indi yang baru saja keluar dari kamar orang tuanya. Mata bertemu dengan mata, ada butiran bening di sudut mata Firhan, tapi di satu sisi Indi menggenggam erat tangan Yayahnya.
"Indi," sapa Firhan dengan rasa yang sesak.
Indi menengadahkan wajahnya menatap Yayahnya. Hingga Pandu menganggukkan kepalanya secara samar. Pandu menggandeng Indi untuk duduk bersama di ruang tamu.
__ADS_1
Suasana hening, dan Firhan tengah berusaha untuk merangkai kata. Sementara Indi seolah waspada dengan situasi yang terjadi sekarang. Tidak mengerti, tapi hatinya berkata bahwa dia membutuhkan rasa aman dari sosok Yayahnya.