
Tidak terasa beberapa pekan sudah berlalu, dan sekarang perut Ervita sudah lebih terlihatan walau pun belum begitu besar. Di pagi hari, Ervita juga tidak begitu mengalami morning sickness dan lemas seperti di awal-awal kehamilan dulu. Hanya saja, Ervita masih suka untuk memakai minyak kayu putih. Menurutnya dengan menggunakan minyak kayu putih bisa membuat tubuhnya lebih hangat, dan juga tidak terlalu mual.
"Masih mual ya Nda? Kok masih bau Minyak kayu putih?" Pandu bertanya kepada istrinya itu karena memang tercium aroma minyak kayu putih sewaktu duduk di dekat Ervita.
"Beberapa hari ini sudah sehat dan tidak lemes, Mas ... tetapi akunya masih memakai minyak kayu putih biar hangat. Kenapa, Mas Pandu enggak suka yah?" tanyanya kepada suaminya itu.
Pandu kemudian menggelengkan kepalanya, "Enggak ... suka-suka aja, apa pun tentang kamu, aku selalu suka kok, Nda," balasnya.
Ervita pun tersenyum di sana, "Oh iya, Mas ... nanti waktunya cek kehamilan lagi. Anterin ya Mas," pintanya kepada suaminya itu.
"Siap Dinda ... nanti Mas anterin kamu. Waktunya lihat perkembangan adik bayinya juga. Sama nunggu advice dari Dokter, sudah boleh bercinta enggak," ucap Pandu dengan tiba-tiba.
"Hmm, kenapa emangnya Mas?" tanya Ervita kemudian.
"Takut aja kalau bayinya pusing gara-gara ulah Yayahnya," balas Pandu dengan tertawa.
Lantas Ervita pun mencubit pinggang suaminya itu, "Pusing ... Bundanya juga pusing Mas. Kamu walau lembut, eksplorasinya banyak banget. Aku seperti cahaya lilin yang tertiup angin tahu," balas Ervita.
"Cahaya lilin yang tertiup angin, maksudnya?" tanya Pandu kemudian.
"Kebat-kebit," balas Ervita dengan tertawa.
Kebat-kebit sendiri adalah penjelasan dari makna layaknya cahaya lilin yang tertiup angin, dia bergerak dan gelisah, tidak tenang, dan tidak stabil. Itulah yang coba disampaikan Ervita kepada suaminya itu. Pandu pun tersenyum dan menggenggam tangan Ervita di sana.
"Kalau kamu kebat-kebit, aku mobat-mabit, Nda ... jadi, kita dalam kondisi yang sama. Berdebar-debar, dan juga tidak stabil. Hanya saja, ketika berhasil menggapai Swargaloka itu debaran itu berubah menjadi kenikmatan yang tiada duanya," balas Pandu.
"Kamu sudah berhasil membawaku ke Swargaloka dan juga ke Andromeda, terus mau ngajak aku ke mana lagi?" tanya Ervita kepada suaminya itu.
"Kamu mau ke mana? Ke Antartika?"
"Dingin, Mas ... aku gak kuat di sana," balas Ervita dengan tertawa.
__ADS_1
"Ya sudah, next time aku cari makna yang indah untuk kita berdua. Sama, aku berangkat kerja dulu ya Sayang. Nanti jam tiga sore, aku sudah pulang kok. Kita periksanya jam lima seperti biasa kan?" tanya Pandu kemudian.
"Iya, jam 17.00 sore," balas Ervita.
Setelahnya, Pandu pun berpamitan kepada istrinya untuk bekerja terlebih dahulu di kantor konsultan desain interior milinya sendiri, dan nanti dia akan pulang seperti biasa. Setelah itu, Pandu akan mengantarkan Ervita ke Dokter Kandungan untuk pemeriksaan rutin buah hati mereka.
***
Sore harinya ....
Sekarang Pandu bersama dengan Ervita dan Indira sudah tiba di Rumah Sakit khusus Ibu dan Anak dan sudah mendaftar untuk melakukan pemeriksaan bersama Dokter Arsy. Pandu sudah merasa tidak sabar bagaimana tumbuh kembang janinnya nanti, dan tentunya dia berharap bahwa kehamilan Ervita kali ini akan baik-baik saja.
"Periksa apa lagi Nda?" tanya Indi yang bingung ketika diajak ke Rumah Sakit.
"Periksa adik bayinya, Mbak Didi ... kan setiap bulan, adik bayinya harus diperiksa, biar tahu pertumbuhannya," balas Ervita.
"Kalau dia berkembang, nanti perutnya Nda jadi besar kayak badut?" tanya Indi lagi.
"Kayak itu yang perutnya semakin membesar ya Nda," ucap Indi dengan menunjuk salah seorang wanita yang tengah periksa.
"Iya, nanti perutnya juga seperti itu kok," balasnya.
Kurang lebih menunggu 20 menit, barulah Ervita dipanggil namanya dan kemudian ditimbang berat badannya dan juga tekanan darahnya. Ada seorang perawat yang melakukan pengecekan itu, sebelum Ervita masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
"Berat badannya kok justru berkurang 2 kilogram ya Bu?" tanya perawat itu bingung.
Biasanya dengan bertambahnya bulan, berat badan akan mulai bertambah. Akan tetapi, justru dihadapi Ervita, sekarang berat badannya justru berkurang 2 kilogram. Pandu pun turut mengernyitkan keningnya, apa memang istrinya itu sedang di fase tidak begitu suka makan.
Kemudian mereka masuk ke dalam ruang pemeriksaan dan bertemu dengan Dokter Arsy di sana.
"Selamat sore, berjumpa lagi nih," sapa Dokter Arsy dengan ramah.
__ADS_1
"Selamat sore, Dokter," balas Ervita.
"Wah, ini yang sulung yah? Siapa namanya?" tanya Dokter Arsy kemudian.
"Namanya Indira, Dokter," balas Ervita kemudian.
"Baik, sekarang kita lakukan pemeriksaan dengan USG dulu ya Bu Ervita, kemudian akan dilanjutkan dengan konsultasi ya Bu," balasnya.
Ervita pun kemudian menaiki brankar dengan dibantu oleh suaminya, dan kemudian ada perawat yang mengangkat naik kemeja yang dikenakan Ervita, menunjukkan perutnya dengan sedikit sembulan di sana, dan kemudian USG gell mulai diberikan di atas permukaan kulit Ervita.
"Ya, sekarang Bu Ervita sudah memasuki usia kehamilan 17 minggu. Jika pemeriksaan sebelumnya keluhannya mual dan lemas di pagi hari, seharusnya di minggu ini kondisi tubuh bisa lebih baik. Tubuh bisa menyesuaikan diri dengan kondisi kehamilan. Masa-masa sulit di awal kehamilan sudah bisa ibu lewati," jelas Dokter Arsy.
Kemudian, Dokter Arsy menggerakkan tarnasducer di perut Ervita dan mulai mengukur janin yang juga terlihat di monitor. "Nah, di usia kehamilan yang sekarang panjang janin dari kepala sampai kaki sekitar 12 centimeter, dan berat badannya sekitar 150 gram. Bayi ibu akan mulai memasuki masa Osifikasi di mana tulang-tulang di tubuhnya akan mulai mengeras mulai dari tempurung kepala bayi dan tulang rawan. Plasenta juga sudah terlihat ya Bu ... silakan dilihat, ini adalah bayi ibu dan ini adalah plasentanya. Di pemeriksaan sebelumnya kan hanya ada embrio saja," jelas Dokter Arsy lagi.
Setelahnya transducer diarahkan ke bagian denyut jantung dan mulailah Ervita dan Pandu bisa mendengarkan denyut jantung bayinya.
Deg ... Deg ... Deg ...
"Ini adalah denyut jantung si baby ya, Bu ... sudah bisa terdengar," ucap Dokter Arsy.
Mendengar denyut jantung si baby adalah hal yang pertama untuk Pandu. Terlihat Pandu menunduk karena menitikkan air matanya. Sungguh luar biasa, bisa mendengar denyut jantung sebagai tanda bahwa bayinya hidup dan terus berkembang di dalam rahim Ervita.
"Yayah, nangis?" tanya Indi kepada Ayahnya.
Pandu pun buru-buru menyeka air matanya, dan menggeleng perlahan kepada Indi, "Terharu saja, Didi ... bisa mendengarkan detak jantung adik bayi," balas Pandu.
"Oh, itu tadi jantungnya Adik?" tanya Indi kemudian.
"Iya detak jantung adiknya Mbak Didi," balas Pandu yang kala itu memangku Indi.
Sementara Dokter Arsy dan Ervita pun melanjutkan pemeriksaan dan Pandu masih menjelaskan dengan sederhana untuk Indi. Setidaknya Indi yang masih kecil pun bisa belajar untuk mengenal adiknya sejak di dalam kandungan. Selain itu, adik juga belajar bahwa adiknya itu terus berkembang di dalam rahim Bundanya.
__ADS_1