Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Keras Hati yang Dilunakkan


__ADS_3

Sementara itu di Solo ....


Masalah keluarga Firhan dan Wati belum menemukan titik temu. Bahkan sudah tiga minggu berlalu dan Wati masih memilih untuk tinggal bersama orang tuanya. Masih enggan untuk kembali ke Solo dan juga tinggal dengan Firhan.


"Wati, kalau ada masalah dengan suami itu diselesaikan dengan baik-baik. Tidak baik kalau kami terus-menerus tinggal dengan Bapak dan Ibu di sini," ucap Pak Utomo, Bapaknya Wati.


"Wati masih ingin menenangkan diri, Pak," balasnya.


Kemudian Bu Utomo pun turut memberikan nasihat. "Yang dikatakan Bapakmu itu benar, Wati. Bukannya Bapak dan Ibu tidak mau kamu di sini lama-lama. Akan tetapi, tetangga juga sudah bertanya-tanya kenapa kamu sudah berminggu-minggu di sini dan tidak ada suami kamu."


Yang disampaikan oleh Ibunya, memang benar. Itu juga karena beberapa tetangga yang sudah bertanya kenapa Wati sudah beberapa minggu berada di rumah orang tuanya. Sementara suaminya tidak turut menyertainya. Para tetangga pun berpikir bahwa Wati sedang ada masalah dengan suaminya.


"Nanti Wati pasti akan kembali ke Solo, Bu ... hanya saja, Wati perlu mempersiapkan diri dulu," balasnya.


Agaknya memang Wati masih perli mempersiapkan hati dan dirinya. Syarat yang Wati berikan adalah suaminya itu bisa berubah, selain itu juga Wati mengharap suaminya bisa meminta maaf kepada mantan pacarnya dulu.


"Istri adalah milik suaminya, Wati ... jadi berlarut-larut. Nanti justru semakin runyam masalahnya. Maafkan suamimu. Jika, bukan karena selingkuh atau Firhan mendua hati, suami layak untuk dimaafkan kembali," ucap dari Ibunya.


Memang kesalahan Firhan bukan karena wanita lain, hanya cek-cek dan berujung pemaksaan di ranjang. Namun, sebenarnya di dalam hatinya, Wati menginginkan bisa memiliki keturunan. Untuk itu, dia berharap bahwa Firhan mau terbuka dan mau untuk berobat terlebih dahulu.


"Apa perlu Bapak mengantarkan kamu pulang kembali ke rumah suamimu?" tanya Pak Utomo lagi.


"Tidak perlu, Pak," balas Wati.


"Kalau tidak, kenapa juga berlama-lama di sini dan justru tidak menyelesaikan masalah kalian berdua?" balas Pak Utomo.


Sekarang, Wati merasa terdesak. Niatnya untuk bisa mendinginkan pikiran, dan mendinginkan hatinya. Akan tetapi, justru sekarang orang tuanya sudah mendesaknya untuk pulang.

__ADS_1


"Beri waktu lagi untuk Wati ya, Pak ... beberapa hari lagi Wati akan kembali ke Solo," balasnya.


"Baiklah, Ti ... tapi jangan lama-lama, yah. Kalau semakin lama, nanti masalah rumah tangga kamu justru semakin tidak selesai. Dulu, juga suami kamu datang ke mari dan kamu tidak mau mengikutinya pulang," balas ibunya.


"Iya, waktu itu juga karena Wati merasa masalah kami belum selesai," jawabnya.


"Diselesaikan baik-baik, dengan kepala dingin. Kunci berumahtangga itu adalah komunikasi. Sehingga, saling berkomunikasi untuk mencari solusi rumah tangga kalian," balasnya.


Memang ada kalanya, komunikasi di antara Firhan dan Wati itu macet. Sering kali untuk pembicaraan mereka juga mentah dan juga seperti tidak mendapatkan titik temu. Agaknya, kali ini Wati memang harus memperbaiki semua yang dengan suaminya. Secara khusus untuk masalah komunikasi.


***


Sementara itu di tempat lain ....


Firhan tengah berbaring di kamarnya, dan kemudian pandangannya menatap lurus pada langit-langit di kamarnya. Ada masa di mana Firhan menyesali dengan apa yang sudah dia lakukan terhadap Wati.


Ketika orang berbuat salah, ada kalanya mereka adalah manusia yang sukar untuk mau mengakui salahnya dan meminta maaf. Lebih suka untuk mengeraskan hatinya. Jika, mengubah perilakunya saja, Firhan akan berusaha. Akan tetapi, jika meminta maaf kepada Ervita, rasanya Firhan tidak bisa. Sebab, dia yakin semua yang terjadi dalam hidupnya adalah karena Ervita.


"Bukan hanya hidupnya yang hancur. Hidupku pun juga hancur, Ti ... aku gagal menikah dengan Tiana dulu, aku mengalami kecelakaan, kakiku yang tidak sempurna, dan sekarang sistem reproduksiku yang terganggu. Aku juga menderita. Hanya saja, semua menyalahkanku karena aku tidak mau bertanggung jawab," gumamnya dengan lirih.


Cara manusia untuk menyingkapi sesuatu memang berbeda-beda. Ada yang melihat kesalahan, kemudian berusaha minta maaf, dan memperbaiki diri. Namun, ada pula yang melihat kesalahan itu dan melimpahkannya kepada orang lain.


"Selain itu, Bapakku juga sampai stroke. Apakah semuanya itu masih kurang Ti?"


Hingga akhirnya, terdengar suara ketukan pintu di rumah Firhan. Sehingga, Firhan pun segera beringsut dan kemudian mulai membukakan pintu dan melihat siapa yang datang.


"Firhan," sapa ibunya yang sore itu datang ke rumah Firhan.

__ADS_1


"Bu, kok jauh-jauh ke sini? Ibu naik apa?" tanya Firhan.


"Ibu naik ojek online, Han," balasnya.


Firhan kemudian mempersilakan Ibunya untuk masuk ke dalam rumah. Kemudian, dia turut duduk di ruang tamu bersama dengan Ibunya.


"Kenapa Ibu ke mari?" tanyanya bingung.


"Han, ini sudah berapa minggu berlalu. Temui Wati, dan ajak dia pulang ke rumah," balas Bu Yeni.


Rupanya, Bu Yeni datang jauh-jauh ke Solo Utara karena ingin menyampaikan kepada Firhan bahwa sebaiknya Firhan menjemput Wati. Bu Yeni satu pemikiran dengan orang tua Wati bahwa masalah dalam rumah tangga dalam dibiarkan berlarut-larut. Oleh karena itu, sebaiknya benar-benar diselesaikan.


"Jadi, apakah Firhan harus ke Karang Anyar lagi, Bu?" tanyanya.


"Iya, harus. Jemputlah Wati," balas Bu Yeni.


"Nanti kalau akhir pekan, Bu," balas Firhan lagi.


"Kenapa tidak sekarang. Perjalanan hanya satu setengah jam. Kalau salah, akui salah, Han. Selesaikan semuanya dengan baik-baik," nasihat dari Bu Yeni lagi.


Di sana, Firhan menganggukkan kepalanya. Dari kecil hingga dia besar, ada sesuatu yang dia tidak pelajari dan lakukan, yaitu perihal mengakui kesalahan dan meminta maaf. Sekarang, ketika harus meminta maaf itu menjadi hal yang sangat sulit untuk Firhan.


"Sekarang Bu?" tanyanya.


"Iya, sekarang. Mau menunggu berapa lama lagi?"


Firhan menghela nafas panjang. Haruskah dia menuju ke rumah Wati sekarang juga? Jika sudah sampai di sana, akankah Wati memaafkannya?

__ADS_1


__ADS_2