Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Menginap di Solo


__ADS_3

Ketika di Solo, memang Pandu dan Ervita berencana untuk menginap semalam. Kalau di Jogja, Indi dan Irene akan tidur di dalam satu kamar. Sementara kalau di Solo, mereka akan tidur berempat dalam satu kamar.


"Kalau di Solo, bobok sama Yayah dan Nda," ucap Indi yang bobok di samping Ayahnya.


"Iya, kalau di Solo memang harus bobok barengan. Kalau di Jogja, di rumah kita kan ada kamar sendiri untuk kamu dan Adik Irene. Gak apa-apa yah, kan cuma semalam," balas Pandu.


Setelahnya Indi pun menganggukkan kepalanya. "Iya, tidak apa-apa kok, Yah. Yang penting sih, sama Yayah dan Nda kok. Kenapa kalau Om Firhan berusaha menemui Indi di Solo sih, Yah?" tanya Indi sekarang.


Pandu tidak mengira bahwa putrinya itu akan bertanya demikian. Akan tetapi, itu adalah bukti nyata bahwa Indi bisa memahami keadaan. Dia ternyata juga menghafal ketika di Solo, yang dicari Firhan adalah dirinya bukan Irene.


"Ya, kan ... tadi Om Firhan bilang pengen memiliki putri kayak Indi yang cantik dan pinter. Jadi, kalau tahu Indi ke Solo pasti Om nya nyamperin deh," balas Pandu.


Sebisa mungkin, Pandu memberikan jawaban yang bisa diterima oleh Indi. Pandu mengingat kembali bahwa tadi siang Firhan mengatakan itu. Sehingga ucapan itulah yang Pandu sampaikan kepada Indi.


"Kenapa enggak mencari Adik Irene?" tanya Indi.


"Belum ketemu Adik Irene kan Om Firhannya. Coba nanti kalau ketemu lagi, Indi coba tanya," balas Pandu.


Usai itu, Indi tampak terdiam. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh Indi yang masih kecil itu. Hingga akhirnya, Pandu mengusapi puncak kepala Indi.

__ADS_1


"Mbak Didi mikirin apa?" tanya Pandu.


"Enggak apa-apa kok, Yayah. Aneh aja sama Om Firhan yang suka sana Indi," balasnya.


"Sudah, gak usah dipikirkan. Kan tadi Om Firhan juga udah berjanji kan sama Indi. Inget enggak janjinya Om Firhan apa?" tanyanya.


Indi kemudian menganggukkan kepalanya. "Ingat kok Yayah. Om Firhan tidak akan menyebut dirinya ayah lagi. Kan Didi sudah punya Yayah sendiri. Ayahnya Indi kan Yayah Pandu," balasnya.


Pandu terharu mendengarkannya. Begitu juga dengan Ervita yang sejak tadi menjadi pendengar. Hatinya sering kali terketuk mana kala mendengar berbagai pertanyaan Indi. Dosa masa lalu yang tidak bisa ditutupi. Namun, sampai Indi besar pun akan tetap terbawa.


"Nda kenal Om Firhan yah? Kan Nda dan Om itu dari Solo," tanya Indi sekarang.


"Oh, kayak Indi sama Flo dan teman-teman di TK A yah, Nda," tanyanya lagi.


"Iya, begitu mbak Didi," balas Ervita.


Setelahnya Indi lebih memeluk Yayahnya. "Yang penting Didi anaknya Yayah. Putri kecilnya Yayah. Indi sayang Yayah," balas Indi.


Setelahnya, rupanya Indi benar-benar tertidur. Sementara Pandu yang mendengar suara Indi juga merasa terharu. Dia tahu bahwa perasaan anak kecil itu begitu tulus. Dia juga tahu bahwa sayangnya Indi kepadanya itu benar-benar tulus.

__ADS_1


"Indi sayang banget sama kamu, Mas," aucap Ervita.


"Aku tahu, Dinda. Kalau suatu hari nanti Indi tahu bahwa aku bukan Ayah kandungnya, Indi kecewa denganku tidak yah, Nda?"


Tiba-tiba pertanyaan itu terlontar dari Pandu. Jujur, Pandu takut jika suatu hari nanti Indi akan kecewa kepadanya. Padahal memang Pandu juga tidak ingin membohongi Indi. Yang Pandu inginkan bahwa putrinya itu bisa bahagia, tanpa berpikir siapa ayahnya sebenarnya. Toh, bagaimana pun juga Pandu memiliki kasih sayang yang sangat besar untuk Indi.


"Semoga suatu saat nanti Indi bisa menerima. Maafkan aku ya, Mas. Semua karena salahku. Andai aku dulu bisa menjaga diri dan tidak jatuh dalam dosa kala itu, sudah pasti akan seperti ini jadinya," balas Ervita.


"Masa lalu tidak bisa diubah, Dinda. Jika ada yang bisa perbaiki itu adalah masa depan. Semua salah di masa lalu, tidak bisa diperbaiki lagi, Dinda," balas Pandu.


Yang dikatakan Pandu adalah kepastian mutlak bahwa semua salah di masa lalu sudah tidak bisa diperbaiki. Jika ada yang bisa kita perbaiki itu adalah masa depan.


"Sudah, jangan bersedih gitu. Yang pasti, aku cinta kamu, Dinda. Aku menerima semua masa lalumu. Tidak akan mungkin aku mencintaimu sebesar ini jika aku tidak menerima masa lalumu juga," balas Pandu.


"Tetap ada rasa sedih, Mas. Terlebih Indi sangat kritis. Dia adalah anak yang cenderung bertanya terkait apa pun yang membuatnya penasaran. Hatiku sering pedih, ketika Indi bertanya dan aku tidak bisa memberikan jawaban," balas Ervita.


Pandu beringsut, dia memeluk Ervita. Menginap di Solo selalu memberikan cerita. Baik itu kisah baik dan sedihnya. Namun, Pandu berjanji bahwa cintanya untuk Ervita adalah cinta yang bisa memaklumi masa lalu.


Pandangan Pandu masih sama bahwa dulu Ervita hanyalah korban. Namun, sekarang Firhan pun juga sudah berubah dan memperbaiki diri. Sehingga, PR nya sekarang adalah menjaga supaya Indi baik-baik saja. Masa kecil Indi bisa tetap bahagia tanpa memikirkan semua yang terkait dengan asal-usul dirinya.

__ADS_1


__ADS_2