
"Masuk sini Pandu ... sejak kemarin hanya menunggu di luar saja. Tidak apa-apa. Baby-nya enggak sedang minum ASI kok," ucap Bu Tari yang meminta Pandu untuk masuk.
Sebab, memang sejak kemarin Pandu hanya menunggu di luar saja. Melihat bahwa Ervita juga tidak sedang memberikan ASI, sehingga Bu Tari meminta Pandu untuk masuk.
"Di luar saja, Bu," balas Pandu.
"Masuk sini ... sini lihat bayinya ini loh lucu," ucap Bu Tari.
Setelah dipanggil Bu Tari dan diminta untuk melihat bayinya, barulah Pandu memilih masuk dan pria yang santun itu tampak menganggukkan kepalanya.
"Permisi Ervi ...."
Pandu masuk dan menyapa Ervita di sana. Lantas Pandu melihat ke bayi kecil yang ada di gendongan ibunya itu. Tampak Pandu mengulas senyuman tipis di sana.
"Sudah diadzankan bayinya?" tanya Pandu kemudian.
Ketika Pandu bertanya demikian, Ervita menggelengkan kepalanya, "Belum, sejak lahir belum diadzankan ... karena Indira tidak punya Bapak," balasnya dengan tergugu di sana.
__ADS_1
Sekali lagi, Ervita diingatkan dengan keberadaannya sekarang ini bahwa Indira lahir hanya memiliki Ibu saja, tidak memiliki Bapak. Maka, sejak bayi itu lahir tidak ada yang mengumandangkan adzan di telinganya. Semoga Allah menuntun dan meridhoi. Namun, sia-sia saja karena tidak ada Bapaknya sebagai muadzinnya.
"Boleh aku adzanin?" tanya Pandu kemudian.
Walau terlambat, karena memang lebih baik diadzani begitu bayi lahir, tetapi juga Pandu tidak bisa masuk ke dalam kamar tindakan karena dia bukan suaminya. Serta, pasti organ reproduksi Ervita terlihat di sana karena memang pasti area di bawah sedang dibersihkan dan juga dijahit kembali.
Ervita kemudian menganggukkan kepalanya, "Jika berkenan, silakan Mas Pandu," ucapnya.
Pandu kemudian meminta bayi Indira dari gendongan Ibunya dan menaruhnya sejenak di atas brankar, menghadap ke arah kiblat kemudian membaca iqomat di telinga kiri, terlihat bibir Pandu yang bergerak dan tanpa terdengar suaranya. Lantas, Pandu beralih ke telinga kanan bayi Indira dan mengumandangkan adzan di sana.
Suara adzan yang lembut dan juga sampai menggetarkan hati. Ervita sampai menitikkan air mata karenanya. Lantunan adzan yang membuat Ervita memejamkan matanya dan turut menyuarakan adzan itu dalam hatinya.
Mengakhiri iqomat dan adzannya, Pandu lantas mencium kening bayi Indira di sana dan menyerahkannya lagi kepada Bu Tari.
"Ikut Mbah Putri lagi yah," balas Pandu dengan tersenyum dan kemudian pria itu mengambil duduk di kursi yang ada di kamar perawatan Ervita itu.
Mendengungkan adzan dan iqomat pada masing-masing telinga juga merupakan doa dan harapan orang tua agar sang buah hati senantiasa menyembah Allah. Sebab hal pertama didengar ketika dia lahir ke bumi adalah seruan untuk menyembah Allah.
__ADS_1
Lantas Bu Tari kembali bersuara, "Sudah Vita ... sekarang makan dulu. Sama Pandu itu loh. Dia juga belum makan tadi karena diajak Ibu buru-buru ke sini," balas Bu Tari.
Ervita menganggukkan kepalanya dan kemudian mengambil tempat duduk dan membuka rantang berisi nasi dan aneka lauk itu.
"Makan yang banyak ... semuanya dimakan, yang penting bukan yang pedes dulu saja," ucap Bu Tari lagi.
"Iya Bu ... makasih banyak," balasnya.
Pandu rupanya menunggu Ervita mengisi piringnya, setelah Ervita mengisi piringnya barulah Pandu mengisi piringnya sendiri. Kemudian Pandu melirik sejenak ke arah Ervita.
"Makan ini, Ervi ... hati ayam," ucap Pandu yang langsung menaruh hati ayam yang dimasak bacem itu ke dalam piring Ervita.
"Eh, sudah aja Mas ... ini sudah banyak," balasnya.
"Tidak apa-apa," balas Pandu.
Kemudian Ervita menatap sekilas ke Pandu, "Makasih ya Mas Pandu tadi Indira sudah diadzanin. Terima kasih banyak," ucapnya.
__ADS_1
"Hmm, iya ... sama-sama," balas Pandu.
Selanjutnya keduanya memilih makan bersama dalam diam, sementara Bu Tari tampak menggendong Indira dan mengucapkan kata-kata kebaikan (di dalam bahasa Jawa sering disebut dengan mengudang) kepada Indira.