
Berada di ruangan sendiri yang sedikit berada dari aula, ada panitia yang datang dan memberikan kotak snack untuk Pandu dan Ervita. Setidaknya ada sedikit camilan yang mereka nikmati untuk mengisi perut. Ervita dan Pandu pun mengucapkan terima kasih kepada panitia.
"Oh, iya Mas Pandu ... minggu depan terlibat lagi untuk memberikan contoh nyata bisnis batik dari Hadinata kepada mahasiswa ini bisa enggak?" tanya panitia itu.
"Coba nanti saya obrolkan dengan Ibu dulu ya Mas," jawab Pandu.
"Iya, kalau bisa ya Mas ... biar mahasiswa juga bisa tahu bahwa batik di sini juga bisa merambah pasar di luar kota Jogjakarta. Mbak Ervitanya bisa dilibatkan lagi Mas. Makasih ya tadi bagus banget dan kompak banget tadi," balas sang panitia.
Ada sekilas senyuman di wajah Pandu, "Iya Mas, karena sudah latihan dulu tadi. Jadi bisa saling bekerja sama," balasnya.
Setelah itu, Pandu dan Ervita memilih menikmati snack itu dulu. Keduanya juga masih hanya diam dan fokus untuk menikmati snack yang diberikan pihak penyelenggara.
"Misal, diminta lagi. Minggu depan bantuin lagi ya, Vi ... bisa enggak?" tanya Pandu kemudian.
"Tanya ke Ibu dulu ya Mas ... soalnya Indi enggak ada yang gajian. Kalau nitip ke Ibu lagi juga enggak enak," jawabnya.
"Oh, iya ... nanti aku coba bicara sama Ibu dan minta tolong untuk nitip Indi sekalian deh," balas Pandu.
Kira-kira keduanya masih berada di tempat itu sampai lima belas menit lamanya. Hingga, mereka berpamitan dengan panitia yang ada di sana. Kemudian, Pandu hendak mengajak Ervita untuk makan siang terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah.
"Makan siang dulu ya, Vi," ajak Pandu.
"Iya Mas ... boleh," balasnya.
Kemudian Pandu mengemudikan mobilnya menuju kawasan Mijilan. Kawasan yang terkenal sebagai sentra Gudeg di Jogjakarta. Memang Mijilan ini letaknya lebih jauh dari rumah Pandu. Akan tetapi, jika ingin Gudeg, maka Mijilan adalah tempat yang harus dikunjungi.
"Kok ke arah Keraton, Mas?" tanya Ervita yang merasa cukup bingung.
__ADS_1
"Iya, ke Mijilan, Vi ... kan sentra Gudeg ada di Mijilan, dan juga di Barek. Di sana ada Gudeg yang dibuat dari Manggar," jawab Pandu.
"Manggar yang bunga kelapa itu?" tanya Ervita.
"Iya, bunganya kelapa itu bisa dibuat Gudeg juga. Pernah cobain?" tanya Pandu.
Ervita menggelengkan kepalanya, "Belum ... bahkan baru dengar sekarang kalau ada Gudeg Manggar," balasnya.
"Kapan-kapan aku ajak ke Barek, biar kamu bisa cobain Gudeg Manggar."
Ervita hanya tersenyum, "Tidak usah Mas Pandu, nanti malahan merepotkan. Ervi banyak merepotkan Mas Pandu dan keluarga," balasnya.
"Tidak apa-apa, Vi ... orang hidup kan saling tolong-menolong. Kalau aku sih selama masih bisa menolong ya aku akan menolong sebisaku," balas Pandu.
Di area Mijilan, kemudian Pandu menghentikan mobilnya di salah satu penjual Gudeg di sana. Dia mengajak Ervita untuk turun dan memesan dua porsi Gudeg untuknya dan untuk Ervita. Tidak lupa memesan dua gelas Teh hangat yang akan mereka minum bersama.
"Kamu tahu filosofi Gudeg ini Vi?" tanya Pandu kemudian.
"Enggak Mas ... ada filosofi di balik makanan yang lezat ini yah?" tanyanya.
Ervita nampak menghentikan sejenak dentingan sendok dan garpunya lantas menatap pada Mas Pandu. "Apa ya Mas? Setahuku ini menceritakan filosofi orang Jawa pada umumnya untuk selalu sabar karena proses memasak Gudeg yang sangat lama."
Pandu pun menganggukkan kepalanya. "Bener banget. Memasak gudeg dipahami sebagai cerminan sempurna dari filosofi Jawa yang penuh nilai ketenangan, kesabaran dan teliti, tidak terburu-buru dan anti-sembrono." jelasnya sembari sesekali menyantap nasi Gudeg di hadapannya.
"Ternyata orang zaman dulu kalau membuat sesuatu itu sampai dipikirkan filosofinya ya Bin... bukan hanya sastrawan Barat aja yang membuat sesuatu dan kaya nilai filosofis. Di Indonesia pun sama. Aku yakin enggak hanya di Jogjakarta atau masyarakat Jawa pada khususnya, suku-suku lain di bangsa kita pun memiliki pemikiran dan filosofis yang tinggi," balas Ervita.
Pandu kemudian menatap sekilas ke Ervita, "Mungkin banyak pelajaran yang kita petik dari makanan ini, Vi ... supaya kita itu melatih diri untuk sabar, teliti, dan tidak sembrono. Mungkin di masa lalu, kita banyak salah, dan sekarang mengurangi kesalahan. Di masa lalu, mungkin kita kurang teliti, sekarang ya lebih teliti. Intinya belajar dari kesalahan. Sebab, saat kita bersalah pun sebenarnya kita juga belajar untuk menerima kesalahan itu dan mengambil hikmah atasnya."
__ADS_1
Mendengar apa yang disampaikan oleh Pandu, seakan mengingatkan Ervita dengan salahnya dulu. Dirinya yang tidak sabar, tidak teliti, bahkan sembrono. Sampai hasil dari kesalahannya juga harus dia tanggung sendiri.
"Iya Mas ... aku juga sadar bahwa aku banyak salah di masa lalu. Dalam masa menanggung salahku, ya aku diminta untuk sabar. Ujian sekolah mungkin hanya bersalah beberapa hari atau satu pekan saja. Cuma ujian hidupku akan terus berlanjut, dan tadi sebenarnya aku tahu dia sedang berusaha untuk merendahkan aku. Makasih banyak untuk nasihatnya, Mas Pandu," balas Ervita.
"Bukan buat kamu, Vi ... kita semua harus sabar. Jangan tergesa-gesa dengan sesuatu yang menggoda mata dan iman kita. Lebih baik terlambat, daripada ujungnya kita akan menyesal lagi," balas Pandu.
"Iya Mas Pandu ... terima kasih. Ngomong-ngomong, Mas Pandu apa enggak punya pacar gitu? Mas Pandu kan sudah dewasa dan juga berpenghasilan sendiri juga," tanya Ervita kepada si anak Juragan Batik itu.
"Enggak Vi ... sudah tiga tahunan jomblo. Pengennya sih nanti kalau sudah benar-benar yakin ya maunya serius saja. Langsung nikah saja. Daripada nanti terluka," balas Pandu.
Sekilas Ervita mendengar bahwa mungkin saja ada luka di hati Pandu hingga pemuda tampan dan sudah berpenghasilan sendiri itu masih betah sendiri. Bahkan ada keinginan langsung menikah saja, daripada terluka.
"Kamu sendiri kapan mau bangkit lagi?" tanya Pandu kemudian.
Ervita tersenyum getir di sana, "Aku mungkin tidak akan menikah, Mas ... fokus membesarkan Indi saja. Aku takut dengan pria yang mungkin saja tidak ada pria yang tulus sekarang. Lukaku terlalu dalam, Mas ... entah sampai kapan luka itu masih ada aku juga tidak tahu," balas Ervita.
Sementara Ervita sendiri merasakan bahwa usai jatuh karena seorang pria, dia menjadi trauma dengan pria bahkan memiliki pemikiran bahwa mungkin sudah tidak ada lagi pria yang benar-benar tulus. Oleh karena itu, Ervita kemungkinan besar akan tidak menikah saja dan fokus untuk membesarkan Indira.
"Mungkin sekarang belum, Vi ... tapi, Indira butuh sosok Ayah juga," balas Pandu.
Ervita kemudian menundukkan wajahnya, "Aku akan berusaha menjadi Ibu dan sekaligus Ayah untuk Indira, Mas ... daripada nanti aku terluka, agaknya sekarang aku tidak berani untuk mengambil risiko," balas Ervita.
"Jika, pria itu bertanggung jawab?"
Rupanya Pandu masih bertanya dan juga terlihat menunggu Ervita untuk memberikan jawaban.
"Aku tidak mau, Mas ... sudah cukup satu kali dia menyakiti aku, menolakku, dan membuat semua kemalangan ini terjadi. Bahkan selama ini juga aku dan Indi bisa bertahan kok tanpa Firhan. Jadi, aku tidak mau. Aku tidak mau sembrono lagi," balas Ervita.
__ADS_1