Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Kembali Lagi ke Sekolah


__ADS_3

Selama lebaran anak-anak diliburkan oleh pihak sekolah. Bahkan Indi sendiri mendapatkan liburan sampai dua pekan lamanya. Namun, sekarang libur lebaran akan segera usai. Itu artinya Indi juga kembali bersiap ke sekolah.


"Ayo, Mbak Didi ... disiapkan dulu tasnya. Besok sudah mulai sekolah loh," ucap Ervita kepada anaknya itu.


Indi yang sedang main pun menganggukkan kepalanya. Dia kemudian berlari ke kamarnya, tepatnya di meja belajar dan kemudian melihat tas sekolahnya. Merapikan buku-bukunya, kemudian dia melihat masih ada PR yang masih belum dia kerjakan.


"Nda, bantuin Didi dong, Nda," pintanya.


Ervita pun mendekat, kemudian dia melihat Indi dan ingin tahu tentunya bantuan seperti apa yang dibutuhkan oleh putrinya itu. Oleh karena itu, Ervita pun akan segera memberikan bantuan.


"Mau dibantuin Nda apa, Mbak?" tanya Ervita.


"Ini, Nda ... ada PR menebalkan huruf. Bantuin Didi memegang pensilnya dong, Nda," pintanya.


Ervita tersenyum, tangannya terulur dan mengacak perlahan puncak kepala putrinya itu. Kemudian dia membantu Indi untuk memegang pensil. Hal yang wajar, kadang anak TK A juga bingung dan merasa kaku untuk memegang pensil. Begitu juga dengan Indi, walau sudah beberapa bulan sekolah, kadang dia juga kesusahan untuk memegang pensil.


"Begini, Sayang ... coba yah. Hati-hati yah nulisnya, ikuti garis putus-putusnya ini biar rapi," ucap Ervita.


Indi pun berusaha keras untuk bisa menebalkan huruf L, M, N, dalam huruf kapital dan huruf kecil itu. Terlihat sangat konsentrasi. Hingga, Indi menaruh pensilnya dan kemudian berbicara lagi kepada Bundanya.


"Pegang pensil lama-lama capek, Nda," keluhnya.


"Semangat Mbak Didi ... nanti kalau lama-lama gak capek kok. Dulu, waktu Nda seusia kamu begitu juga, pegang pensil capek dan tangannya sakit. Semua itu karena belum terbiasa. Kalau sudah terbiasa, nanti sudah enak, menulisnya juga menjadi lebih rapi," balas Ervita.


Sebagai seorang Ibu, Ervita juga membagi pengalamannya sendiri. Bagaimana dia dulu juga sama seperti Indi. Kesusahan untuk memegang pensil. Namun, belajar dan bisa pun karena terbiasa. Membiasakan diri, sampai akhirnya menjadi bisa.


"Nda dulu kayak Didi?" tanyanya.

__ADS_1


"Iya, Nda dan Yayah dulu juga seperti kamu, Mbak. Kan Nda dan Yayah juga pernah menjadi anak kecil. Tidak langsung menjadi orang dewasa seperti ini," balas Ervita.


Tampak Indi menganggukkan kepalanya. Dari sini dia pun belajar bahwa dalam hidup manusia ada yang namanya proses. Dia jadi tahu bahwa kedua orang tuanya juga tidak langsung berubah menjadi orang dewasa dan besar. Melainkan dari anak kecil yang setiap harinya semakin bertumbuh.


"Ya, sudah ... Didi kerjakan lagi yah, Nda ... temenin yah," pinta Indi.


"Bunda sambil menjaga Adik Irene ya, Mbak ... kan Yayah juga sudah bekerja. Tidak ada yang menjaga Adik," balas Ervita.


"Oke, Nda. Nda sama Adik, Didi mengerjakan PR di sini," balasnya.


Senangnya Ervita karena putrinya itu bisa diajak bekerja sama. Ketika Yayahnya bekerja, Indi juga bisa menyesuaikan diri. Anak-anaknya bersikap kooperatif itulah kunci Ervita bisa mengurus anak-anak dan rumah bersamaan. Sebab, anak-anak juga bisa memahami dan bekerja sama.


***


Keesokan Harinya ....


"Masih ngantuk, Nda," balasnya.


"Bangun dong, Mbak ... ini sudah mau masuk ke sekolah loh," ucap Ervita.


Namun Indi yang dibangunkan justru meronta dalam tidurnya. Setelahnya, dia menangis. Tidak mau sekolah katanya. Sekali lagi, jika sudah terlalu lama liburan, anak-anak akan seperti Indi. Masih suka tantrum tiba-tiba. Beralasan masih mengantuk, tidak mau sekolah dan sebagainya.


"Hiks ... besok saja sekolahnya, Nda," ucap Indi yang benar-benar menangis.


Ervita menghela napas panjang, harus lebih sabar. Bagaimana pun ada kalanya anak-anak juga menjadi seperti ini. Jadi, Ervita mengusapi rambut Indi.


"Sekolah dong, Mbak ... kan Mbak Didi punya cita-cita mau menjadi anak yang pinter seperti Yayah. Kalau tidak rajin sekolah dan belajar, bisa pinter darimana coba? Yuk, bangun dulu. Nda mandiin yuk, nanti ke sekolah di antar Yayah," ucap Ervita.

__ADS_1


Ketika Indi masih menangis, dia menunggu. Tidak mau emosi pagi-pagi. Lebih sabar. Sebab, kalau dia emosi, yang ada tangisannya Indi justru semakin menjadi-jadi.


"Ya sudah ... dimandiin Nda yah," balas Indi.


Setelah tangisan Indi menjadi lebih reda, Ervita kemudian memandikan putrinya itu. Dia mengguyuri badan Indi dengan air hangat dan tersenyum menatap putrinya.


"Tuh, cantik gini ... putri kecilnya Yayah kok, masak mau gak rajin sekolah," ucap Ervita.


"Maaf, Nda," balas Indi.


"Sama-sama, Sayang ... yuk, udahan yuk. Dingin nanti. Bunda pakaikan seragam yah," balas Ervita.


Akhirnya Ervita mengeringkan tubuh Indi dengan handuk, masih mengusapkan minyak telon di tubuh Indi, dan kemudian mengenakan seragam hari Senin untuk Indi. Lantas, Ervita juga menguncir rambut Indi dan kemudian menemani Indi sarapan.


"Berangkat sekolah dulu, Nda ... bye," pamit Indi dengan melambaikan tangannya.


"Iya, pegangan Yayah yah. Kan Yayah naik sepeda motor hari ini," pesan Ervita.


"Iya, Nda ... bye bye Bundaku Sayang ...."


Ketika Indi berbicasra manis seperti itu, ada haru di dalam hati Ervita. Putri kecilnya yang juga melimpahkan rasa sayangnya untuknya. Pandu kemudian mengecup pipi istrinya itu.


"Jangan terharu ... Bye, Dinda ... Yayah dan Didi berangkat yah. I Love U," pamit Pandu.


"Iya, hati-hati Mas ... I Love U too."


Selalu ada cerita tentang anak dan kegiatan sekolahnya. Kadang tidak berjalan mulus. Sama seperti Indi yang tantrum di pagi hari dan masih menginginkan liburan. Namun, kuncinya adalah sabar dan tidak tersulut emosi, sehingga semua bisa berjalan dengan baik.

__ADS_1


Yang lebarannya sudah usai dan anak-anak kembali ke sekolah semangat yah. 🤗 Happy Reading💘


__ADS_2