Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Ketika Tarawih


__ADS_3

Tarawih adalah salat sunnah yang dikhususkan hanya pada bulan Ramadhan. Ketika bulan Ramadhan memang seluruh umat muslim disunahkan untuk menjalankan Salat Tarawih. Keutamaan dari salat itu adalah manusia akan diampuni dosa-dosanya dan juga mendapatkan pahala dari Allah.


Sekarang, Pandu dan Pak Agus menuju ke masjid yang berada tidak jauh dari rumahnya. Pandu sudah mengenakan kemeja koko lengan panjang berwarna putih, mengenakan sarung, dan memakai peci putih di kepalanya. Penampilan ayah muda itu jika begitu terlihat sangat santun. Sementara Ervita tidak ikut karena Irene dan Indi sudah kelihatan mengantuk sekarang. Sehingga, dia berada di rumah.


"Berangkat ke masjid dulu ya Dinda. Hati-hati di rumah," pamit Pandu.


"Iya, Mas. Hati-hati yah ... aku tunggu," balas Ervita.


Cukup hanya berjalan kaki dari rumah mertuanya, Pandu menuju ke masjid. Dia sudah menjalankan wudhu terlebih dahulu di rumah. Sehingga, begitu sampai masjid bisa langsung menjalankan Salat.


Kemudian mulailah salat berjamaah yang dipimpin oleh iman di masjid itu, kemudian menunaikan salat. Memang Salat Tarawih itu sangat dianjurkan saat Ramadhan. Sebab, barang siapa yang menjalankan Salat ini akan diampuni dosanya.


” Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan karena iman dan mencari pahala, maka dosa-dosa yang telah lalu akan diampuni ” ( HR. Bukhari dan Muslim )


Selain itu menjalankan Salat Tarawih layaknya menjalankan Salat semalam penuh. Sebagai para makmum dianjurkan untuk mengikuti Salat sampai selesai, karena akan mendapatkan pahalanya layaknya menjalankan Salat semalam penuh.


”Siapa yang shalat bersama imam sampai selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh."


Pandu juga mengikuti Salat secara penuh. Begitu khusyuk kala menjalankan ibadah Salat. Hatinya penuh syukur sekarang, di bulan Ramadhan ini begitu banyak berkah yang Allah limpahkan untuk Pandu. Istri dan anak-anak yang sehat, kehidupan keluarga yang adem ayem, dan Indi yang mulai menjalankan puasa adalah berkah untuk Pandu.


Hingga akhirnya usai Salat Tarawih berjamaah, seluruh umat bersalam-salaman dan menyapa satu sama lain. Tentu beberapa jamaah tidak begitu mengenal Pandu. Namun, inilah keistimewaan masjid bukan jamaah, bukan warga sekitar, tapi diterima dan dipersilakan turut beribadah. Masyaallah, bahkan musafir pun diperkenankan turut menjalankan ibadah di masjid.


Di antara banyak jamaah, rupanya ada sosok yang mengenali Pandu. Pria itu mendekat dan mengulurkan tangannya kepada Pandu, seraya tersenyum melihat Pandu di sana.

__ADS_1


"Pandu," sapanya.


Tentu saja Pandu merasa kaget. Tidak menyangka juga ada yang mengenalinya. Rupanya pria itu tidak lain adalah Firhan. Pandu mengangguk dan menyambut tangan itu, saling bersalaman.


"Firhan," balasnya.


Firhan tersenyum juga. Tidak mengira melihat Pandu kala menjalankan Salat Tarawih berjamaah. Sehingga Firhan segera datang dan menyapa Pandu. Menjalankan niat baik tidak ada salahnya. Lagipula, sekarang tidak ada masalah lagi antara Firhan dan Pandu.


"Bagaimana kabarnya?" tanya Firhan.


"Baik, tentunya sehat," balas Pandu.


Ketika sudah bertemu dengan Pandu kemudian Firhan memberanikan diri untuk menanyakan kabarnya Indi. Sebab, Firhan juga terkadang kepikiran Indi dan juga bertanya-tanya apakah Indi masih belum bisa mengenalnya dan menerimanya.


"Kabarnya Indi bagaimana?" tanya Firhan. Tentu saja ada perasaan tidak enak. Dia yang seharusnya adalah ayah biologisnya Indi justru bertemu kepada pria yang notabene hanya ayah sambung.


Di dalam hatinya Firhan merasa sangat senang tidak menyangka bahwa Indi sudah sekolah. Membayangkan Indi mengenakan seragam sekolah pastilah dia akan kelihatan lucu. Namun, bagaimana lagi tidak mungkin untuk melihat Indi sekarang.


"Kamu gimana kabarnya, Han?" tanya Pandu yang bertanya balik kepada Firhan.


"Alhamdulillah baik. Setelah sekian lama juga akhirnya, istri dipercaya Allah untuk mengandung, Ndu," cerita Firhan.


Wah, Pandu sangat senang. Jika Firhan dan istrinya mendapatkan karunia dari Allah tentu dia akan merasa senang. Terlebih Pandu juga tahu sudah lama Firhan dan istrinya menantikan untuk bisa menjadi orang tua.

__ADS_1


"Aku turut berbahagia, Han. Sudah berapa bulan?" tanya Pandu.


"Baru dua bulan, Ndu. Agak mual-mual begitu, tapi tidak apa-apa dijalani saja," balas Firhan.


"Iya, dijalani saja. Mendampingi istri hamil itu Masyaallah, luar biasa banget. Bisa melihat sendiri bagaimana bayi terus berkembang setiap bulannya," balas Pandu.


Firhan menganggukkan kepalanya. "Iya, aku akan sabar. Tidak akan mengulangi kesalahan di masa lalu yang menolak janin ku sendiri. Hasilnya, aku begitu menanti-nantikan buah hati hingga beberapa tahun lamanya. Mungkin karmaku juga karena dulu salah kepada Ervi dan Indi."


Di saat bersamaan, Pandu menggelengkan kepalanya."Saat kita menjalankan Tarawih, semua dosa-dosa kita sebelumnya sudah diampuni Allah. Dia mengampuni dosa masa lalu, masa kini, bahkan masa depan. Jangan begitu. Sekarang saja waktunya yang tepat untuk kalian berdua," balas Pandu.


Begitu teduhnya hati Firhan mendengarkan Pandu. Di satu sisi dia melihat sosok pria yang sangat yang mendampingi Ervita. Sosok yang bisa melihat hal yang positif, sekalipun yang terjadi justru adalah hal yang negatif.


"Ini Indi ikut ke Solo?" tanya Firhan kemudian.


Pandu menganggukkan kepalanya. "Iya, dia ikut ke Solo," jawabnya.


"Apakah kamu keberatan kalau aku ingin bertemu dengan Indi?" tanya Firhan.


"Aku tidak keberatan, Firhan. Hanya saja Ervita perlu tahu selain itu Indi masih trauma ketika ada pria lain yang mengenalkan dirinya sebagai ayahnya. Maaf, bukannya aku menghalang-halangi tapi Indi tahunya aku adalah Ayahnya," balas Pandu.


Tidak mudah juga bagi Pandu untuk mengutarakan semuanya. Akan tetapi, setidaknya Firhan harus tahu bagaimana ketakutan Indi. Anak kecil yang belum tahu banyak hal hanya tahu satu sosok ayah dan itu adalah Pandu. Walau hati Pandu juga berat mengatakan semua itu.


"Iya, aku tahu. Bagaimana pun kamu adalah Ayahnya Indi. Ayah yang dia sayangi," balas Firhan dengan hati yang getir.

__ADS_1


Pandu kemudian menepuk bahu Firhan perlahan. "Maaf yah, tapi semuanya butuh proses. Aku berdoa nanti kamu juga mendapatkan kasih sayang dari Indi," balas Pandu dengan tulus.


Sungguh, sekarang Firhan sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Dia terlanjur tersisih dari hidup Indi. Tidak mendapatkan kasih sayang dari putrinya sendiri. Akan tetapi, Firhan masih menaruh harapan semoga saja nanti Indi bisa mengenalinya sebagai sosok Ayah saja.


__ADS_2