Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Pertanyaan Indi


__ADS_3

Rupanya selang beberapa saat, Indi kemudian turun dan mencari Yayah dan Bundanya. Oleh karena itu, Ervita dan Pandu yang sebelumnya berada di dalam kamar sekarang keluar dan menemui Indi. Tentu ada Pandu yang hatinya begitu bergetar.


"Yayah," panggil Individu dengan suaranya yang khas.


Untuk panggil, panggilan Yayah dari Indi itu sangat spesial untuk Pandu. Saking spesialnya, Pandu seolah merasa tidak rela jika sampai ada yang dipanggil Indi dengan panggilan Ayah. Menurut Ervita, sikapnya wajar. Sebab, bentuk karena dia takut kehilangan Indi. Kasih sayangnya memang sangat tulus untuk Indi sampai tak ingin jika Indi memanggil orang lain dengan panggilan Ayah.


"Ya, Mbak Didi ... ada apa?"


"Yayah, Didi bingung loh. Didi mau bertanya sama Yayah dan Nda," tanyanya lagi.


Pandu menganggukkan kepalanya. Setelah itu, dia memangku Indi. Tentu Pandu akan menjawab apa yang menjadi pertanyaan Indi. Walaupun tentu, Pandu akan mencoba menjawab secara sederhana.


"Sini, Didi mau tanya apa sama Yayah?" tanya Pandu.


Indi kemudian mulai bersuara sekarang. "Yayah, kenapa Om itu tadi, meminta Didi memanggilnya Ayah?"

__ADS_1


Pertanyaan yang kritis dan tentunya sangat sensitif dari seorang Indi. Pertanyaan yang tentunya bersangkutan dengan asal-usul Indi. Ervita yang mendengarkannya pun juga tampak bingung memberi jawaban kepada Indi.


"Tadi Mbak Didi perasaannya bagaimana?" tanya Pandu.


"Didi bingung, Yayah. Kan Didi udah punya Yayah, dan Yayahnya kan Yayah Pandu," jawabnya.


Indi memiliki pengenalan tersendiri. Berdasarkan pengalamannya selama empat tahun bahwa sosok Yayah yang dia tahu adalah Pandu. Selain Pandu, Indi tidak mengenal sosok Yayah yang lain. Wajar jika Indi menjadi bingung.


Anak kecil seusia Indi juga bisa kebingungan. Terlebih mereka mengenal sesuatu dari kebiasaan sehari-hari yang akhirnya menjadi pengalaman. Oleh karena itu, anak-anak seusia Indi biasanya tidak mudah dekat dengan orang baru. Sebab, dia terbiasa dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.


"Indi tahunya Yayahnya siapa?" tanya Ervita kemudian.


"Yayah Pandu," jawab Indi.


Ervita menganggukkan kepalanya. "Didi sayang banget sama Yayah yah? Sampai mau nangis gitu?"

__ADS_1


Sekali lagi Ervita memberikan pertanyaan supaya Indi bisa mengungkapkan perasaannya. Anak kecil juga bisa mengungkapkan perasaannya. Pertanyaan jenis stimulasi bisa diberikan kepada anak-anak. Selain itu, ketika anak mulai bercerita, sebaiknya orang tua mendengarkan. Memberi waktu untuk menjadi seorang pendengar yang baik.


"Didi sayang banget sama Yayah. Kan Yayah juga sayang Didi. Didi selalu sayang Yayah," balasnya.


Kedua bola mata Pandu berkaca-kaca sekarang. Bagaimana pun juga hatinya selalu tersentuh jika itu menyangkut Indi. Dia sangat tahu, bahwa hubungannya dengan Indi bukan berdasarkan darah, tapi sayangnya bisa dipastikan layaknya seorang ayah kepada anak kandungnya sendiri.


"Yang Indi tahu Yayahnya kan memang Yayah. Tidak usah bingung yah. Daripada nanti Indi jadi sedih," balas Ervita.


"Didi ndak mau punya Yayah yang lain, Nda. Yayahnya Didi hanya Yayah Pandu saja."


Sekarang Indi menangis. Tangan kecilnya tampak melingkari leher sang Ayah. Wajahnya berurai air mata. Ervita yang melihatnya saja juga begitu terharu.


"Kamu selalu menjadi putrinya, Yayah. Putri kecilnya Yayah ... dunianya Yayah. Yayah selalu sayang kamu," balas Pandu dengan memeluk Indi.


Berawal dari pertanyaan yang pada akhirnya membuat Pandu sampai terharu. Hatinya sangat tersentuh sekarang. Sejak dulu, jika sudah bersangkutan dengan Indi, rasanya hati Pandu menjadi lebih mudah tersentuh.

__ADS_1


__ADS_2