Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Dua Garis Merah?


__ADS_3

Ervita merasakan hatinya menjadi menghangat kala mendengarkan Pandu yang masih ingat dengan dirinya saat hamil dulu. Entah itu karena Minyak Kayu Putih dan Inhaler yang selalu dia bawa ke kios batik, atau memang karena aroma tubuhnya yang bukan semerbak wangi parfum, melainkan wangi Minyak Kayu Putih. Akan tetapi, merasakan diingat oleh suami sendiri rasanya begitu menyenangkan.


"Pasti dulu kalau deket-deket aku baunya Minyak Kayu Putih ya Mas?" tanyanya.


"Ya, itu salah satunya. Cuma kan aku tahu kamu selalu bawa itu saat ke kios dulu. Sadar tidak, Nda ... aku selalu memperhatikan kamu," balas Pandu.


Ervita menggelengkan kepalanya perlahan, "Dulu, aku tidak tahu ... habisnya kamu pendiam banget dan kita jarang ngobrol. Kelihatannya setelah aku pindah ke rumahnya Ibu itu deh baru kita bisa ngobrol-ngobrol," balas Ervita.


Pandu mengulum senyuman di sana, "Iya, aku seneng saat kamu mau pindah ke rumah di depan itu. Setidaknya aku bisa turut mengawasi kamu, Nda ... walau tidak secara langsung, tetapi aku bisa melihatmu," balasn Pandu lagi.


Mungkin memang terkesan naif, tetapi Pandu merasa tenang bisa melihat Ervita setiap hari. Dia juga memperhatikan pagi hari ketika Ervita menjemur bayinya Indi di depan pendopo dan ketika wanita itu beraktivitas yang terlihat dari jendela kamarnya secara langsung. Mengamati Ervita menjadi kesenangan tersendiri untuk Pandu.


"Aku dulu itu kalau bangun pagi teler, Mas ... mual dan muntah gitu. Makanya minyak kayu putih itu menjadi senjata wajib yang harus dibawa. Tapi nanti jam 10-an atau menjelang siang gitu, aku sudah biasa saja," balas Ervita.


Pandu lantas melihat ke jam yang ada di rumah dan masih menunjukkan wajah 09-an, semoga saja memang Ervita tidak begitu lemas dan bisa menjadi lebih bersemangat. Pandu hanya merasa kasihan melihat Ervita yang lemas seperti tanpa daya.


"Gitu dulu kamu juga masih naik sepeda motor loh dari kostmu ke kios. Tahu gitu, dulu aku anter-jemput, Nda," balas Pandu.


"Dulu kamu enggak nawarin," balas Ervita dengan tersenyum.


"Aku kadang itu untuk melangkah terlalu takut, Nda ... aku bingung harus mendekatimu dengan cara apa. Terlebih aku tahu kisahmu dari Ibu, tidak mudah juga kan untukmu menerima kehadiran seorang pria," balas Pandu.


Ervita pun menganggukkan kepalanya, "Iya, aku begitu terlalu bodoh. Aku terperdaya. Andai saja, waktu itu bisa diubah," balas Ervita.


"Biarkan saja, jika tidak seperti itu kamu tidak akan memiliki Indi dan juga mungkin kita tidak bertemu. Semua yang semesta gariskan itu indah, terganting sudut pandang kita menyingkapinya."


Pandu seolah mengingatkan Ervita akan apa yang ada di masa lalu. Ya, semesta selalu memiliki cara untuk menggariskan sesuatu. Terkadang memang harus berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu, baru bahagia kemudian. Fase seperti itu memang ada dalam hidup manusia.


"Benar ya Mas ... jadi ya, sudah. Ikhlas, sabar, dan tawakal," balas Ervita.

__ADS_1


"Benar banget Dindaku. Kamu diproses Allah dengan semuanya itu. Kalau misal sekarang hamil, jangan takut yah ... aku akan bertanggung jawab secara penuh," balas Pandu.


Ervita pun beringsut untuk berbaring miring untuk bisa menatap wajah suaminya yang berbaring di sampingnya itu, "Jangan tinggalkan aku dan Indi ya Mas," pintanya.


"Tidak akan," jawab Pandu dengan sungguh-sungguh.


Pandu lantas menelisipkan tangannya ke bawah kepala Ervita dan membawa sang istri itu ke dalam pelukannya. Dalam hatinya, Pandu pun berjanji akan bertanggung jawab penuh atas Ervita dan juga tidak akan membiarkan istrinya itu seorang diri.


"Aku janji akan selalu bersama kamu. Dulu, kamu memang hamil Indi dan sampai melahirkan seorang diri. Sekarang, semuanya sudah berbeda. Jangan takut yah ... ada suami kamu. Aku bukan hanya sekadar berjanji, tetapi aku akan membuktikannya. Aku sudah belikan test pack untuk kamu, Nda ... besok pagi ditest  ya Nda. Jangan pikirkan hasilnya. Yang penting kita tahu dulu, kalau kamu lemes-lemes ini sakit kan aku bisa bawa ke Rumah Sakit. Kalau kamu sakit ini karena positif, ya tetap aku bawa ke Rumah Sakit sih, tapi ke Poli Kandungan," balas Pandu.


"Hmm, iya Mas ... kamu siap jadi Ayah kan Mas?" tanya Ervita kemudian.


"Aku sudah menjadi Ayah, Nda ... Yayahnya Didi. Cuma aku jujur, kehamilan kamu ini bersamaku adalah yang pertama untukku. Tidak dipungkiri aku bahagia. Cuma, aku tetap sayang Indi. Itu adalah hal mutlak untukku," balas Pandu.


Ervita menghela nafas panjang di sana, dan memeluk suaminya, mendusel di dada suaminya itu, "Jangan pernah berkurang sayangnya sama Indi ya Mas," pintanya.


***


Keesokan paginya ....


Mungkin karena penasaran juga bahwa istrinya itu sakit atau memang sedang ada sesuatu yang berkaitan dengan reproduksinya. Pandu pun bangun terlebih dahulu dan membangunkan Ervita yang tertidur di pelukannya.


"Nda, bangun Nda ... yuk, tes dulu. Sudah pagi," ucap Pandu dengan mengelusi puncak kepala Ervita.


Merasa dibangunkan, Ervita pun menggeliat perlahan dan kelopak matanya mulai bergerak-gerak di sana dan perlahan membuka. "Hmm, apa Yayah?" tanyanya.


"Kamu lupa yah? Tes dulu kan aku sudah belikan tes pack. Katanya tes itu baiknya dilakukan di pagi hari."


Yang disampaikan Pandu ini tepat karena memang sebaiknya menggunakan test pack di pagi hari setelah bangun tidur. Hal ini karena kondisi urine di pagi hari yang masih pekat, sehingga tes kehamilan bisa memberikan hasil yang lebih akurat.

__ADS_1


"Hmm, aku lupa," balas Ervita dengan mengubah posisinya dari berbaring menjadi duduk.


Mengumpulkan terlebih dahulu kesadarannya, kemudian Ervita hendak pergi ke kamar mandi. Akan tetapi, Pandu menghentikan tangan istrinya itu. Pria itu meraih laci yang ada di nakas dan memberikan tes pack dan juga gelas tampung urine di sana.


"Ini Nda ... sudah bisa kan caranya?" tanya Pandu.


"Iya sudah bisa kok. Tunggu di sini saja Mas," balas Ervita kemudian.


Akan tetapi, Pandu nyatanya justru mengantar istrinya itu ke kamar mandi dan menunggu di depan pintu kamar mandi. Dia menunggu dengan bimbang saat-saat istrinya itu berada di dalam kamar mandi.


"Nda, sudah belum?" tanya Pandu.


"Bentar Mas ... buang urine dulu," balas Ervita.


Pandu menghela nafas. Pria itu tampak mondar-mandir dan seakan ingin turut masuk ke dalam kamar mandi. Ketika tangan Pandu hendak membuka daun pintu kamar mandi, rupanya dikunci dari dalam.


Sementara di dalam kamar mandi, Ervita menunggu dengan cemas hasil uji reaksi kimia itu. Seakan dia teringat kala dulu melakukan test pack diam-diam. Namun, Ervita meyakinkan dirinya sendiri bahwa sekarang kondisinya sudah berubah, sehingga dia merasa lebih tenang karena hamil ada suami. Bukan hamil di luar nikah.


Akhirnya hasil uji pun telah keluar, Ervita mencuci semuanya dulu dan kemudian membuang gelas tampung urine ke tempat sampah. Setelahnya, barulah Ervita keluar.


Membuka pintu kamar mandi perlahan, Ervita sudah menangis di sana. Wajahnya memerah dan air mata membasahi pipinya. Pandu pun menghela nafas ketika melihat istrinya itu menangis.


"Kok malahan menangis. Kenapa Nda?" tanya Pandu.


Ervita menangis sampai sesegukan, dan kemudian memberikan test pack itu kepada suaminya, "Aku positif, Mas ... aku hamil," ucapnya dengan sesegukan di sana.


Hah! Pandu pun meneteskan air matanya dan segera memeluk Ervita dengan begitu eratnya. Tadi, dia pikir bahwa Ervita memiliki hasil uji negatif karena istrinya itu menangis. Ternyata yang terjadi justru sebaliknya. Betapa senangnya Pandu sekarang ini.


"Ya Tuhan ... terima kasih Tuhan, terima kasih. Hamba dipercaya mengemban amanat untuk memiliki buah hati," ucap Pandu dengan memeluk Ervita dengan begitu erat.

__ADS_1


__ADS_2