Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Keputusan Bulat


__ADS_3

Rasanya, kali ini Firhan benar-benar merendahkan harga dirinya. Seumur hidupnya tidak pernah dia merendahkan diri dan mengiba seperti ini. Akan tetapi, demi menyelamatkan nama keluarganya, Firhan akan berupaya untuk bisa mendapatkan maaf dari Tiana. Lebih dari itu, seyogyanya jikalau bisa akad esok hari bisa tetap berlangsung.


"Tiana, tolong pikirkan sekali lagi," pinta Firhan kali ini.


Air mata yang mengalir dari kedua matanya, membuat wajah Tiana begitu sembab di sana. Jangan dipikir bahwa keputusan ini tidak berat untuk Tiana. Justru, keputusan ini teramat berat. Bukan hanya keluarga Firhan yang mendapatkan malu, tetapi juga keluarganya. Akan tetapi, bagaimana lagi jika memangdirinya sudah memutuskan terlebih dahulu.


"Berikan jawaban Tiana ... tidak apa-apa, semuanya tergantung kepadamu," ucap Ibunya sekarang ini.


Tiana yang sedari tadi diam pun perlahan membuka suaranya, "Tidak Han ... aku tidak mau. Ini adalah keputusan bulat dariku," jawab Tiana dengan sesegukan di sana.


"Kenapa Yang? Kenapa, lagipula aku tidak mengambil sesuatu darimu dua pekan lalu," balas Firhan.


Tiana pun terdiam, tetapi air matanya terus saja mengalir, dia menatap Firhan dengan kedua mata yang basah.


"Kamu menyembunyikan sesuatu dariku, Han," balas Tiana kemudian.


"Tidak ada yang aku sembunyikan darimu, Yang ... tidak ada," jawab Firhan.

__ADS_1


"Ada," sahut Tiana dengan begitu yakin.


Firhan tampak menghela nafas kasar, kali ini dia tidak tahu apa yang membuat Tiana  menuduhnya telah menyembunyikan sesuatu. Kali ini apa lagi yang dimaksudkan oleh Tiana. Rasanya, kejadian dua pekan lalu hanya sebuah alasan kecil yang digunakan oleh Tiana untuk membatalkan pernikahan esok yang akan berlangsung.


"Kamu sudah memiliki anak, Firhan!"


Tiana mengatakan itu dengan berteriak. Dia sungguh kehilangan kesabarannya. Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi Tiana selain mengetahui fakta bahwa calon suaminya rupanya sudah memili anak.


Deg!


Firhan sungguh tidak menyangka bahwa Tiana akan mengetahui masa lalu. Lantas siapa yang telah memberitahukan kepada Tiana bahwa dirinya sudah memiliki anak? Tidak mungkin jika Ervita yang memberitahunya, mengingat sekarang Ervita berada di Jogjakarta dan juga sudah menikah dua pekan belakangan ini.


Tiana menangis sesegukan di sana. Kebenaran yang pahit dan sekarang dia ketahui, nyatanya masih bisa disanggah oleh Firhan. Padahal Tiana sangat yakin bahwa dia mengetahui dari sumber yang bisa dipercaya.


"Siapa yang mengatakannya?" tanya Firhan sekarang.


"Rudy ... Rudy yang mengatakannya," balas Tiana.

__ADS_1


Mendengar nama sahabatnya Rudy disebut, rasanya Firhan benar-benar marah kepada sahabatnya itu. Selama ini Firhan selalu membagi masalahnya bahkan menceritakan semua keburukannya kepada Rudy dan sekarang justru sahabatnya sendiri yang membuka aibnya kepada Tiana.


"Hampir tiga tahun yang lalu, Firhan ... ketika Ervita dengan tiba-tiba menghilang dari kampus kita. Waktu itu, kamu yang merenggut kesuciannya dan tidak mau bertanggung jawab atas anaknya. Jadi, anak yang aku lihat waktu kita KKN dulu bukan anak pria yang mendampingi Ervita waktu itu. Akan tetapi, dia adalah anakmu. Dia adalah anakmu, Firhan!"


Tiana mengungkapkan semuanya itu dengan dada yang begitu sesak, air matanya terus-menerus mengalir. Mengetahui keburukan calon suaminya dari orang lain rasanya sangat menyesakkan. Lagipula, kenapa Firhan tidak berusaha jujur kepadanya. Andai Firhan yang mau berbicara jujur, reaksi Tiana tidak akan seperti ini.


"Itu tidak benar ... dia bukan anakku," balas Firhan lagi.


Tiana pun tersenyum getir menatap Firhan, "Bahkan yang sebenarnya anak kamu, darah daging kamu, tetapi kamu masih menyangkalinya, Han. Aku sangat yakin, bayi itu adalah anak kamu. Ervita adalah wanita baik-baik, tidak mungkin dia keluar dari kampus dengan tiba-tiba, mengingat dia juga adalah mahasiswa dengan IPK terbaik setiap semester. Kamu yang sudah merusaknya, dan tidak mau bertanggung jawab, Firhan!"


"Kamu tidak pernah tahu mungkin saja Ervita tidur dengan pria lain dan benihnya tercampur," sanggah Firhan lagi.


Sungguh, Firhan masih berusaha menyangkal. Baginya sekarang justru kabar masa lalunya dengan Ervitalah yang menjadi sumber petaka semua ini.


"Rudy menceritakan semuanya kala kamu meniduri Ervita saat di Tawang Mangu. Ya, di villa yang sama ketika kamu mengajakku ke sana dua pekan lalu. Kamu sendiri yang membuka semua aibmu kepada Rudy dan Rudy menceritakan semua kepadamu. Jadi, pergi dan minta maaf kepada Ervita. Tanggung jawablah atas anak itu," ucap Tiana kemudian.


Firhan menggelengkan kepalanya, "Tidak ... dia bukan anakku. Lagipula, aku sangat yakin tidak ada getaran di dalam dada ini kala bertemu dengannya. Dia bukan anakku," balas Firhan lagi.

__ADS_1


Tiana kemudian menatap Firhan di sana, "Pergilah Firhan ... bagiku, hubungan kita sudah selesai. Tidak ada lagi jalinan di antara kita. Lebih baik bagiku mengetahui semua sekarang, memang sakit, tetapi akan aku jalani. Sementara kamu, cari pertobatanmu. Memang tidak mungkin kamu menikahi Ervita, tetapi tanggung jawabnya secara material dan moral untuk anak yang tidak bersalah itu. Semua di antara kita sudah selesai."


Usai mengatakan semuanya, Tiana berlari masuk ke dalam kamarnya. Lebih baik baginya mengetahui kebusukan Firhan sekarang, daripada ketika usai pernikahan barulah dia mengetahui. Toh, malu yang sekarang sama-sama mereka tanggung, perlahan-lahan akan menghilang dengan sendirinya. Namun, satu hal yang menjadi pertimbangan Tiana bahwa salah memilih pasangan hidup, penderitaannya akan berlangsung untuk seumur hidup. Maka dari itu, Tiana lebih memilih memutuskan semuanya sekarang, dia tidak mau menyesal seumur hidup karena telah salah memilih pasangan hidup.


__ADS_2