
Ketika menempati lingkungan baru memang membuat orang untuk bisa menyesuaikan dirinya. Dengan tempat, suasana, dan juga orang-orang yang tinggal di sekitarnya. Begitu juga yang akan dialami Ervita bersama Indira. Jika sebelumnya, mereka hanya tinggal di kost, kini ada ruangan yang jauh lebih besar untuk mereka tempati bersama. Ada Bu Tari dan keluarga Hadinata yang dekat dengannya.
"Ini rumahnya, Ervi ...."
Pandu menghentikan mobil di depan pintu gerbang rumahnya yang luas. Di dalam satu pekarangan itu ada dua rumah yang berdiri di sana. Rumah besar dengan sebuah Joglo (rumah khas Jawa Tengah dan Jogja) yang berdiri di depannya. Joglo yang semuanya dibuat dari kayu jati dari Jepara dan diprenis warna cokelat yang indah, ada juga hiasan batik yang menandakan bahwa pemilik rumah adalah Juragan Batik. Joglo itu berbentuk terbuka yang dimanfaatkan untuk pemanis sebuah rumah besar. Ada kalanya di Joglo ini dijuga digunakan keluarga Hadinata untuk bersantai sore, dan menerima tamu karena memang di sana ada meja dan kursi.
Sementara di sampingnya ada rumah kecil model minimalis. Rumah kecil inilah yang akan ditempati Ervita. Terlihat Bu Tari sudah menyapa Ervita.
"Sini-sini, masuk sini Ervita ... ini gubuknya Ibu," ucap Bu Tari.
Ervita pun tampak kagum, "Ini bagus banget Bu ... Joglo yang dikombinasikan dengan bangunan yang modern. Bukan gubuk ini, Bu," balas Ervita.
Bu Tari pun tersenyum di sana, "Nanti kalau sore bisa nyantai di sini. Atau jemur Indira di sini juga boleh. Anggap rumah sendiri," balas Bu Tari.
Kemudian Bu Tari mengajak Ervita ke rumah kecil yang ada di samping rumah, rumah dengan desain minimalis dengan dua kamar di sana.
"Ini rumahnya ... sudah Ibu dan Pandu bersihkan. Ada yang kurang enggak?"
Ervita masuk dan mengamati rumah itu. Walau kecil, tapi bagus dan bersih. Sementara Pandu sendiri yang mengangkati barang-barang milik Ervita dan memasukkannya ke dalam rumah.
"Perlu dibantuin enggak Mas Pandu?" tanya Ervita.
__ADS_1
"Enggak, gak usah ... kamu usai melahirkan, tidak usah mengangkat barang-barang berat," balas Pandu.
Namun, tidak berselang lama ada pembantu di rumah itu yang membantu Pandu menurunkan barang-barang Ervita dari mobil pick up-nya, sehingga Pandu mendapatkan bantuan.
"Ini kamarnya Ervita ... sudah kamar mandi dalam juga di kamar yang besar ini. Jadi, kamu tidak usah bingung. Kamu bisa menempati ini dengan bayimu. Ini juga ada box bayi, ini milik keponakannya Pandu dulu," jelas Bu Tari.
Kemudian Ervita menatap kepada Bu Tari, "Jadi, Ibu sudah punya cucu yah?" tanya Ervita.
Bu Tari pun menganggukkan kepalanya, "Iya ... Kakaknya Pandu, namanya Pertiwi. Cuma sekarang ikut suaminya di Lampung, suaminya pegawai negeri di Bandar Lampung," jawab Bu Tari.
"Oh ... enggak kangen cucu Bu?" tanya Ervita lagi.
"Ya kangen ... cuma kan jauh, jadi enggak bisa sering-sering jenguk. Bisa berkumpul kalau lebaran. Rumah ada ramai. Cucunya Ibu baru satu, Vita ... cewek juga, namanya Lintang," cerita Bu Tari.
"Anak-anak begitu kalau sudah dewasa bakalan ikut suaminya. Dulu Pertiwi pulang ke Jogja karena hamil besar, katanya mau melahirkan dekat sama Ibunya, biar dibantuin Ibunya. Setelah Lintang berusia tiga bulan, dibawa balik lagi ke Lampung. Lintang sendiri sudah mau satu tahun usianya," cerita Bu Tari lagi.
Kemudian Bu Tari tertawa, "Ya sudah, kamu istirahat dulu. Dilihat rumahnya. Tidak usah sungkan. Pokoknya rumah ini kamu tempati. Untuk makan, nanti Mbok Minah yang akan mengantar ke sini. Yang penting kamu sama Indira betah," balas Bu Tari lagi.
Sementara Pandu mengambil sebuah kunci dari saku celananya, "Ini kunci rumah ini, Ervi ... semoga betah yah," ucap Pandu. Pria itu kemudian menganggukkan kepalanya dan juga menuju ke Pendopo Joglo dan menghilang masuk ke pintu yang menghubungkan ke rumah utama.
Sementara Ervita melihat rumah itu, dari kamar yang akan dia tempati. Bahkan di dalam kamar itu ada AC. Mungkin Bu Tari sengaja menyediakannya supaya Indira tidak biang keringat. Di samping rumah, ada mesin cuci dan tempat untuk menjemur pakaian juga.
Menempati rumah itu, Ervita merasa terharu. Seolah Ervita menyadari bahwa tangan Tuhan memang begitu panjang untuk menolongnya.
__ADS_1
"Ya Allah ... terima kasih. Ervita rasanya sampai tidak bisa berkata-kata. Di saat Ervita seolah berada di pengasingan, justru ada orang baik yang pasti digerakkan Allah untuk menolong Ervita. Ervita yang tidak punya siapa-siapa di sini, justru seolah mendapatkan keluarga baru. Dengan mendapatkan kebaikan dari Bu Tari seperti ini, bagaimana Vita membalasnya ya Allah ...."
Setelah itu, Ervita menidurkan Indira perlahan di box bayi. Dengan terisak pula dia memberitahu Indira.
"Kita mulai hidup bersama di rumah ini ya Indira. Beradaptasi di tempat yang baru. Bersyukur ada orang-orang baik yang menolong kita ya Nak ... di saat kita benar-benar berbeban berat, ada keluarga Hadinata yang menolong kita. Doakan nanti Bunda bisa bekerja dan mengumpulkan Rupiah untuk membeli rumah berdua yah, sehingga kita tidak lagi menumpang kepada orang lain."
Ya, Ervita merasa begitu getir. Hidup harus menumpang kepada orang lain. Semoga saja, di lain waktu Ervita bisa mengumpulkan uang dan membeli rumah kecil yang bisa dia tempati bersama Indira. Sekarang tujuan Ervita untuk hidup dan bertahan hanya Indira, satu-satunya keluarga yang dia miliki.
***
Keesokan harinya ...
Menempati rumah baru yang lebih nyaman, dan juga tidak pengap rupanya membuat Indira bisa tidur dengan begitu lelapnya. Kala itu, Ervita memilih tidur dalam satu tempat tidur dengan Indira. Sebagaimana kebiasaannya di kost. Sehingga jika Indira terbangun, menangis, dan meminta ASI, Ervita bisa langsung mendengar dan memberikan ASI untuk bayinya itu.
Luar biasa, semalam Indira bahkan tidak rewel. Ervita yang sudah merasa tidur lebih lama sampai beberapa kali terbangun dan melihat putrinya itu yang tidur dengan begitu pulas. Bahkan pagi ini Indira bangun juga tanpa tangisan. Biasanya, ketika di kost, Indira pasti bangun dengan menangis. Sampai terkadang Ervita sungkan jika tangisan Indira membuat beberapa penghuni kost lainnya terganggu.
"Adik boboknya semalam pules banget sih ... mungkinkah adik betah yah di sini? Bangun pagi juga enggak nangis-nangis. Habis ini berjemur sebentar ya, Dik ... biar sehat, kena sinar matahari pagi yang membuat kamu lebih kuat."
Setelahnya, Ervita merapikan rambutnya, menguncirnya saja, kemudian menjemur Indira di depan rumah. Ya, rumah yang Ervita tempati memang menghadap ke Timur sehingga memang ketika pagi, sinar matahari mengarah ke rumah itu.
Dengan duduk di kursi kayu yang ada di depan rumah itu, Ervita menjemur bayi Indira yang akan dikenakan diapers saja. Mengusapi bagian kepalanya karena biasanya bayi ketika lahir bentuk kepalanya belum bulat sempurna, mengusapi telinganya, dan juga mengubah posisi Indira menjadi tengkurap, supaya bagian punggungnya juga terkena sinar matahari.
"Jemur dulu ya Adik ... biar sehat. Habis ini minum susu dan mandi ya," ucap Ervita dengan lirih dan terus memangku Indira. Memangku bayi itu kurang lebih lima belas menit saja.
__ADS_1
Benar yang dikatakan Bu Tari, di sini bisa menjemur Indira. Sementara kala Ervita di kost. Dia harus turun ke bawah dan dekat dengan jalan banyak mahasiswa berlalu lalang setiap paginya, sehingga membuat Ervita tidak nyaman juga. Di sini, tanpa lalu lalang banyak orang dan tanpa asap kendara. Sudah pasti lebih sehat juga untuk Indira.