
Hari ini adalah hari yang di mana adik kandung Ervita, yaitu Mei akan melangsungkan pernikahannya. Oleh karena itu, malam sebelum dilangsungkan akad, kediaman Bapak Agus sudah didekorasi dan juga dipasang janur kuning sebagai tanda bahwa keluarga Agus sedang memiliki kerja di sana.
Penjor dari janur pun juga dipasang di depan gang yang hendak masuk ke dalam rumah. Para tetangga juga guyub rukun untuk rewangan (masak bersama untuk menghidangkan makanan bagi para tamu), serta beberapa tamu juga sudah datang di malam Midodari ini.
"Besok kamu akan menikah ya Mei ... semoga lancar, semoga Tanto bisa menjadi pasangan yang tepat untuk kamu. Jodoh dunia dan akhirat," ucap Ibu Sri kepada putri bungsunya.
"Amin ... makasih Bu. Ngomong-ngomong, apa Mbak Ervi tidak pulang ya Bu? Apakah tidak ada yang memberitahunya kalau Mei mau menikah besok?" tanya Mei kepada sang Ibu.
"Tidak mau, Mei ... sebenarnya Ibu sudah meminta tolong kepada Lusi. Hanya saja, Ibu juga tidak tahu apakah Ervi akan datang atau tidak," balasnya.
"Bu, besok ... jika memungkinkan Mbak Ervi pulang, tolong jangan dimarahin ya Bu. Mei sudah sampaikan kepada Mas Tanto dan keluarga perihal masalah keluarga kita, dan keluarga Mas Tanto tidak masalah kok. Jadi, tolong jangan dimarahin ya Bu. Kasihan kalau Mbak Ervi sampai datang dan mendapatkan marah dari Bapak dan Ibu," ucap Mei.
Bu Sri pun menitikkan air matanya. Tidak mengira bahwa itu adalah permintaan dari putri bungsunya. Namun, Bu Sri sendiri juga tidak yakin apakah besok Ervita akan datang atau tidak. Sebab, keluarga Ervita di Solo pun juga tidak tahu di mana keberadaan Ervita sekarang. Menurut Lusi, Ervita tinggal di Jogjakarta, tetapi Jogjakarta itu luas, dan mereka tidak tahu alamat yang pasti.
"Mei pengen hari bahagia Mei bersama Mas Tanto itu bisa dihadiri Mbak Ervi ... cuma Mbak Ervi bisa datang atau tidak ya Mei tidak tahu," balasnya.
Bu Sri pun menghela nafas dan mengusapi bahu putri bungsunya itu, "Ya, kita lihat saja besok ya Mei ... kita lihat apakah Ervita akan pulang dan datang di hari pernikahan adik kandungnya sendiri atau tidak," balas Bu Sri.
***
Keesokan harinya ....
Pandu sudah bersiap dengan mengenakan Kemeja Batik lengan panjang, berpadu dengan celana hitam dari bahan yang halus. Pria itu sudah pamit dengan Bapak dan Ibunya untuk mengantar Ervita pulang ke Solo guna menghadiri pernikahan adik kandungnya. Tentu saja, Bapak Hadinata dan Bu Tari pun mendukung Pandu, dan juga meminta Pandu untuk bisa menjaga Ervita dan Indira. Sebab, di Solo sesuatu apa pun bisa saja terjadi.
"Dijaga ya, Ndu ... kita tidak tahu apa yang terjadi di Solo nanti. Tidak mudah juga datang ke rumah dengan membawa anak kecil. Sangat susah bagi Ervita," ucap Pak Hadinata.
"Nggih Pak ... Pandu pasti jagain Ervi dan Indi kok," balasnya.
__ADS_1
Bu Tari pun menepuki bahu putranya itu, "Dijaga yang benar ya Pandu. Bawa baju ganti, jika mendadak harus menginap atau gimana, taruh di bagasi saja, biar Ervita tidak curiga. Intinya kamu sudah siap untuk terus menemani dia," balas Bu Tari.
"Aman Bu ... sudah Pandu masukkan ke bagasi mobil kok. Ya sudah, Pandu pamit nggih Bapak dan Ibu. Doakan hari ini lancar dan semuanya bisa terlaksana dengan baik," pamitnya.
Usai berpamitan dengan Bapak dan Ibunya, Pandu kemudian menjemput Ervita dan Indira di rumah yang dia tinggali.
"Vi ... Ervi, berangkat sekarang," ajaknya dengan mengetuk pintu rumah itu.
"Ya, Mas Pandu ... sebentar," balas Ervita.
Terlihat Ervita yang sudah mengenakan dress batik juga, Indi pun mengenakan dress batik dengan motif senada dengannya. Itu adalah dress untuk Ibu dan anak yang diberikan oleh Bu Tari dan baru kali ini Ervita kenakan. Ervita pun membawa ransel kecil sebagai perlengkapan Indira di sana, seperti pakaian ganti, diapers, dan camilan.
"Sudah siap?" tanya Pandu.
"Iya Mas ... sudah," balas Ervita.
Pemuda itu segera meminta ransel yang sudah disediakan Ervita dan kemudian memasukkannya ke dalam mobil. Setelah itu, dia membukakan pintu depan di samping kursi kemudi bagi Ervita dan Indira. Kemudian Pandu mengitari mobilnya dan baru duduk di belakang kemudi.
"Berangkat sekarang yah," ucap Pandu.
Dengan tenang pemuda itu melajukan mobilnya menyusuri jalanan di kota Jogjakarta, hingga melintasi Sleman, terus mengikuti jalan provinsi menuju Klaten, hingga hampir dua jam perjalanan mereka sudah tiba di Solo.
"Sudah di Solo, Vi ... rumah kamu di mana?" tanya Pandu kemudian.
"Dekat Universitas itu, Mas," balasnya.
"Oh, Kampus Bengawan yah?" sahut Pandu.
__ADS_1
Ervita pun menganggukkan kepalanya, "Iya ... belakangnya," sahutnya.
Pandu melajukan mobilnya menyisiri Jalan Protokol Slamet Riyadi, mengitari patung Slamet Riyadi di sana, melewati Pasar Gedhe, dan mengambil arah ke satu-satunya universitas negeri yang ada di Solo itu. Tentu Ervita pun turut mengarahkan jalannya kepada Pandu.
"Belum banyak yang berubah," gumam Ervita.
Pandu pun tersenyum di sana, "Padahal sudah hampir 3 tahun ya Vi ... kehamilan kan 9 bulan dan usia Indi yang sudah 2 tahun," balas Pandu.
"Benar Mas ... nah, ambil jalan yang lurus ya Mas. Nanti sudah dekat dengan rumah Bapak dan Ibu," balasnya.
Pandu menganggukkan kepalanya, dan mengikuti instruksi yang diberikan Ervita.
"Mas, aku takut," aku Ervita ketika kian dekat dengan kediaman Bapak dan Ibunya.
"Santai Vi ... tidak usah takut ... kamu tidak sendirian, ada aku. Ingat kan aku akan jagain kamu dan Indi," ucapnya lagi.
Ervita menghela nafasnya, "Itu Mas ... Janur kuning dan Penjor itu, gang masuk nanti sudah rumahnya Bapak dan Ibu," ucap Ervita.
Sudah sampai di depan jalan masuk ke rumahnya, hati Ervita benar-benar berdebar-debar. Keringat dingin pun mengalir begitu saja di keningnya. Kedatangannya kali ini apakah diharapkan atau tidak, tetapi masih ada rasa takut di hati Ervita untuk menghadapi Bapak dan Ibunya.
"Yuk, Vi ... turun. Ayo," ajak Pandu.
Ervita menghela nafas dan sudah nyaris menangis, "Aku takut, Mas ... bagaimana ini," balasnya.
Pandu tersenyum, "Berani menghadapi, Vi ... apa pun yang terjadi, kamu tidak sendirian kok. Ada aku, aku akan selalu menemani kamu," ucapnya.
Ervita menenangkan dirinya, dan suara hati yang terus berkecamuk di dalam hati. Entah kali ini dia berani melangkah dan mendatangi hari bahagia adiknya? Atau dia menjadi pecundang yang tidak berani menghadapi kenyataan? Rasanya Ervita sangat takut, gugup, dan juga panik sekarang ini.
__ADS_1