
Usai dari Masjid Raya Sheikh Zayed Solo, Ervita dan Pandu kemudian pulang ke rumah. Namun, sebelum pulang dia mampir ke Pasar Gedhe, Solo untuk membeli beberapa takjil untuk nanti. Sekaligus ini adalah hari terakhir untuk mereka berada di Solo sebelum esok pagi akan kembali pulang ke Jogjakarta.
"Mas Pandu mau beli apa?" tanya Ervita kepada suaminya itu.
"Mau Dawet deh, Dinda. Dibungkus saja untuk nanti berbuka," balasnya.
Akhirnya, mereka menuju ke penjual Dawet Legendaris yang berada di Pasar Gedhe Surakarta. Tidak hanya membeli untuk diri sendiri, tapi Pandu juga membeli untuk keluarga mertuanya. Selain itu, sekalian Ervita membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang ke Jogjakarta besok.
Ingin membelikan Intip, Racikan Teh Tubruk, dan juga aneka jajanan dari Solo. Oleh-oleh yang akan Ervita bagikan untuk mertuanya dan juga untuk Mbak Pertiwi. Berbelanja ke Pasar Gedhe seakan membangkitkan kenangan sendiri untuk Ervita, teringat dengan dulu ketika kecil, bersama ibunya selama mengunjungi Pasar Gedhe.
"Aku dulu sama Ibu selalu ke sini loh, Mas. Belanja banyak dan juga pasti minum Es Dawet sama Ibu," cerita Ervita kepada suaminya.
"Seru ya, Nda ... masa kecil kamu. Terus, ketemu aku di pasar juga ya, Dinda. Pasar tradisional di Jogja," balas Pandu.
Ervita tersenyum, benar juga apa yang baru saja diucapkan oleh suaminya. Dulu, dia bertemu dengan Pandu untuk kali pertama di Pasar Beringharjo, salah satu pasar legendaris di Jogjakarta. Tidak mengira, pria yang dikiranya dingin dan irit berbicara itu kini menjadi pasangan hidupnya. Tidak mengira, dari sama-sama menjaga Kios Batik, ditolong oleh keluarga Hadinata, akhirnya Ervita diterima sebagai menantu.
"Benar juga yah, jodohku bertemu di pasar," balas Ervita.
"Pasar selalu menjadi tempat unik dan legendaris untuk kita berdua yah, Dinda," sahut Pandu.
Usai berbelanja cukup banyak jajanan sebagai oleh-oleh, sekarang mereka bersiap untuk pulang. Di sana juga Ervita menunjukkan gedung-gedung yang legendaris untuknya. Pandu pun sangat senang mendengarkan semua cerita istrinya itu.
__ADS_1
"Seru ya, Dinda," balas Pandu.
"Biasa aja sih, kebahagiaan anak kecil zaman dulu," balasnya.
"Semoga bersamaku, kamu juga selalu bahagia, Dindaku," ucap Pandu.
Pandu mengharapkan bahwa ketika bersamanya, Ervita akan selalu bahagia. Menjamin Ervita selalu bahagia adalah hal yang ingin selalu Pandu usahakan.
Berkendara beberapa belas menit, akhirnya mereka tiba di rumah Ervita. Pandu dan Ervita memilih mencuci tangan dan kaki, dan berganti baju dulu. Setelahnya, barulah mereka menemui anak-anak mereka.
"Nangis tidak, Bu?" tanya Ervita kepada Ibunya yang siang itu menjaga Irene dan juga Indi.
"Enggak nangis kok. Biasa, nangisnya kalu minta susu," balas Bu Sri.
"Ada Bu Ervi dan Ayah Pandu nih," sapa Mei begitu bertemu kakak dan kakak iparnya itu.
"Loh, sudah pulang?" tanya Ervita. Tentu saja, bisa bertemu adiknya walau sebentar Ervita merasa senang. Dia juga senang melihat Arka yang tumbuh begitu chubby. Walau hanya berselang beberapa minggu dari Irene, tapi Arka justru terlihat begitu besar.
"Keponakannya Ibu ... sini ikut Ibu," ajaknya.
Arka pun mau untuk digendong Ervita sebentar. Setelah itu, Tanto juga turun dan menyapa kakak iparnya. Tak lupa memberikan sedikit oleh-oleh dari Sidoarjo berupa Terasi dan Kopi Hitam.
__ADS_1
"Suwun ya, Tanto. Kopinya bisa buat nemenin lembur," balas Pandu.
"Mas Pandu sering lembur?" tanya Tanto kepada kakak iparnya itu.
"Beberapa kali kalau ada kerjaan ya lembur sih, tapi enggak sering juga. Sebisa mungkin waktu di rumah buat istri dan anak-anak," balas Pandu.
Tanto kemudian menganggukkan kepalanya. "Benar, Mas. Aku juga begitu sih, di rumah untuk istri dan anak. Apalagi Arka aktif banget. Harus diawasi dengan lebih ketat," balas Tanto.
"Anak cowok aktif banget yah?" tanyanya.
Tanto dengan cepat menganggukkan kepalanya. "Banget, Mas. Di kakinya kayak gak ada rem nya. Jalan itu kayak lari loh, Mas. Bikin kami jantungan," cerita Tanto lagi.
Pandu kemudian mengusapi puncak kepala Keponakannya itu. "Yuk, cah bagus main ke Jogjakarta. Di rumahnya Ayah ada pendopo, kamu bisa lari-lari atau guling-guling di sana. Main ke rumahnya Mbak Didi dan Mbak Irene," ucap Pandu.
"Wah, iya. Di pendopo itu pasti Arka seneng bisa dipel itu pendoponya. Bisa guling-guling di sana," balas Mei.
"Makanya diajak ke sana. Nanti aku jemput di Stasiun lagi," balas Ervita.
Mei dan Tanto sama-sama menganggukkan kepalanya. Pengen juga suatu saat nanti bisa mengajak Arka untuk main-main ke Jogja.
"Ini puasa di Solo, terus balik Jogja, Mas?" tanya Tanto lagi.
__ADS_1
"Iya, Indi sudah mulai sekolah dan aku kerja. Jadi, ya kembali ke Jogjakarta dulu. Nanti kemungkinan besar lebaran kedua akan ke Solo lagi," balas Pandu.
Seluruh keluarga menyambut baik rencana Pandu. Memang memiliki dua keluarga, sehingga dibagi-bagi lebaran pertama di Jogjakarta dengan keluarga Hadinata, kemudian lebaran kedua di Solo dengan keluarga besar Pak Agus.