
Walau usai menempuh perjalanan dari Jogjakarta menuju Surabaya, agaknya tak menyurutkan keduanya untuk menggapai Swargaloka bersama. Justru kesempatan ini akan dimanfaatkan Pandu dan Ervita dengan sebaik mungkin untuk memperbanyak waktu berdua yang lebih berkualitas.
Pandu ketika merasa tubuhnya lebih tenang, dan nafasnya mulai stabil, pria itu lantas berguling ke sisi kiri Ervita dan membawa Ervita ke dalam pelukannya.
"Capek?" tanya Pandu kemudian kepada istrinya itu.
"Lemes," balas Ervita.
Bagaimana tidak lemas, jika semua rangkaian bercinta dari pemanasan hingga menuju ke puncak saja dilalui bersama hampir dua jam lamanya. Sudah pasti, Ervita merasa begitu lemas.
Pandu pun terkekeh di sana, dan mengusapi puncak kepala istrinya itu. "Mau minum?" tanya Pandu kemudian.
"Iya," balas Ervita.
Pandu pun turun kembali dari tempat tidur dan mengambilkan air mineral untuk Ervita, dan lantas menyondorkannya kepada istrinya itu. "Minum dulu Dinda," ucap Pandu.
Ervita pun berusaha duduk, dan merapikan rambutnya sebentar, barulah meminum air putih itu, sementara Pandu kembali duduk dan merangkul bahu istrinya itu.
"Dapat Bandeau dari mana Nda?" tanya Pandu dengan mengangkat Bandeau berwarna hitam dari sisi tempat tidur itu.
"Oh, itu ... dapat dari kado pernikahan dulu," balasnya.
"Beli yang banyak, Nda ... sexy banget kamu tadi," balas Pandu.
Namun dengan cepat Ervita menggelengkan kepalanya perlahan, "Gak ah, aku terlalu malu untuk memakainya," balas Ervita.
Pandu pun kembali tertawa, "Senyamannya kamu saja. Apa pun aku gak masalah kok. Cuma, aku berbicara jujur kalau tadi kamu sangat sexy. Pertama kali melihat kamu dengan sesuatu yang berbeda."
"Pertama kali juga mencoba begituan, malu," balas Ervita.
__ADS_1
Ervita kemudian melirik ke jam yang ada di dekat nakas dan di sana sudah nyaris tengah malam. Ervita kemudian kembali berbaring dan menarik selimut berwarna putih itu untuk menutupi tubuhnya. Pun Pandu yang turut berbaring di sisi istrinya itu.
"Dahsyat loh Nda, tadi itu," ucap Pandu dengan kembali memeluk Ervita.
Agaknya momen bercinta yang menurut Pandu begitu dahsyat. Dia merasakan dirinya meledak, pecah. Efeknya pun Pandu merasakan bahagia. Bersama Ervita, Pandu pun tak ragu untuk mengakui bahwa perasaannya kalau bercinta. Justru, ini adalah komunikasi antara suami istri saling mengakui kepuasan kala bercinta. Tidak ada kepura-puraan. Sebab, keterbukaan dalam bercinta bisa membuat rumah tangga kian harmonis. Hubungan antara suami dan istri kian rekat.
"Kamu juga merasakannya tidak?" tanya Pandu kepada Ervita.
"Tanpa aku menjawab, kamu juga sudah tahu bagaimana reaksiku Mas." Ervita membalas dengan mencerukkan wajahnya ke dada suaminya itu.
"Boleh tidak Nda, semalam kita bobok kayak gini saja. Tanpa batas sehelai benang pun tidak," tanya Pandu.
Sebab jika di rumah, begitu bercinta dan kemudian bersih-bersih pastilah mereka akan mengenakan kembali pakaian mereka. Takut juga jika Indi terbangun dan juga anak bisa melihat hal-hal yang seharusnya tidak mereka lihat.
"Kelihatannya mandi dulu aja deh Mas ... lengket loh," balas Ervita.
"Mandi kilat aja yah ... tengah malam," balas Pandu.
"Dingin Mas, kena AC," ucap Ervita.
"Ada aku ... pelukanku lebih hangat dari selimut ini," balas Pandu.
"Kita bisa trending ini, dalam dua setengah jam sudah keramas dua kali," balas Ervita dengan terkekeh karena teringat dengan Tweet yang trending baru-baru ini mengenai keramas.
"Wah, dia kalah, Nda ... dia keramas tiga kali, kalau aku bisa lima kali deh," balas Pandu.
Ervita pun memukul dada suaminya itu, "Lima kali, aku bisa gak bisa jalan dong Mas," balasnya.
"Gak apa-apa, selama di hotel, gak bisa berjalan tidak apa-apa. Kemana-mana aku gendong," balas Pandu.
__ADS_1
"Sisi lain diri kamu yang seperti ini seru juga loh Mas ... kamu tidak sependiam pembawaanmu. Buktinya kalau sama aku, kamu banyak bicara, dan omes kayak gini," balas Ervita.
Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Iya ... cuma kamu saja yang tahu rahasiaku ini, Dinda ... bersama kamu, aku sudah mengekspresikan diriku sendiri, tanpa takut dihakimi."
Mungkin orang-orang akan menghakimi jika memang seseorang berlaku yang kurang tepat, sementara dengan pasangan kita lah, kita bisa menjadi diri sendiri, melebur dalam keseharian. Memiliki kedekatan bukan hanya secara fisik, tetapi juga dekat dengan hati dan juga emosi.
"Anggap empat hari ini waktu pacaran berdua Sayang ... semoga nanti pulang dan tidak lama setelahnya, kita mendapatkan berkah momongan."
"Amin," sahut Ervita mengaminkan harapan suaminya itu.
"Besok jam 10.00, aku ketemu klien dulu ya Dinda ... kamu di hotel dulu tidak apa-apa kan?" tanya Pandu.
"Iya, kalau waktunya bekerja ya bekerja sama Mas ... aku di dalam hotel saja, menikmati city view kota Surabaya," balas Ervita.
"Iya, yang bisa dinikmati ya dinikmati dulu. Aku juga tidak akan lama kok. Habis makan siang, aku sudah kembali. Doakan kali ini konsepku dipakai yah, biar tambah tabungan untuk masa depan nanti," balas Pandu.
"Amin ... semoga berhasil Mas. Aku turut mendoakan," balas Ervita.
Hampir jam 01.00, keduanya baru terlelap bersama. Di balik selimut putih itu, benar-benar tercetak kepolosan mutlak. Saling memeluk dan juga saling terlelap untuk mengistirahat tubuh mereka.
***
Dear Bestie,
Untuk part Bulan madu ini memungkinkan akan ada konten dewasa. Apakah pembaca berkenan? Mungkin satu hingga dua hari. Jika tidak, maka cukup ini saja ya bagian dewasanya. Supaya pembaca nyaman, walau sebenarnya ini bagian dari se-x edukasi juga.
Selalu dukung Muara Kasih Ibu Tunggal yah, berikan like, komentar, dan vote.
Terima kasih,
__ADS_1
Kirana ^^