
Kembali ke Kota Gudeg ....
Rumah tangga yang adem dan ayem itu adalah penggambaran dari rumah tangga Pandu dan Ervita. Dengan bertambahkan anak mereka, justru mereka semakin kompak untuk mengasuh Indi dan Irene. Pun, dengan Pandu yang terlihat semakin Ayahable ketika bisa mengajak kedua anaknya sekaligus.
Itulah yang terjadi sekarang ketika Ervita sedang mempacking batik yang dijual secara online. Sehingga di Pendopo itu, Pandu menggendong Irene di tangannya, dan ada Indi yang duduk di pangkuannya. Benar-benar terlihat sosok Ayahable. Bahkan Ervita pun tertawa-tawa kala melihat suaminya itu.
"Keren deh Yayah," ucapnya.
"Serasa sultan yah, Nda," balas Pandu.
Pandu merasa menjadi pria paling beruntung di dunia karena dikelilingi oleh wanita-wanita cantik di dalam rumahnya sendiri. Ada Ervita, Indi, dan juga Irene.
"Apalagi kalau anak-anak sudah dewasa ya, Yah ... serasa menjadi Sultan," balas Ervita.
Pandu kemudian menganggukkan kepalanya. "Nanti kalau Indi dan Irene makin dewasa, bagaimana dengan kita yah Nda?"
"Lha, kenapa Yah?" tanya Ervita lagi.
"Biasanya, ketika anak-anak sudah semakin dewasa. Mungkin saja ada Indi dan Irene yang akan kuliah di luar kota, atau bahkan ada yang bekerja di luar kota. Bahkan, bisa saja anak-anak kita mendapatkan jodoh yang jauh," balasnya.
Rupanya yang dikhawatirkan Pandu adalah ketika anak-anaknya sudah besar, dan kemudian bisa saja memilih kuliah di luar kota, bahkan mendapatkan jodoh yang jauh. Agaknya, Pandu sudah berpikir hingga sejauh itu. Sementara, Ervita justru tersenyum.
"Kalau memiliki anak perempuan ya seperti ini sih, Mas. Suatu saat nanti anak-anak kita akan dewasa, jadi ada kalanya kita sudah akan menua, menepi. Membiarkan anak-anak mengejar impiannya, bahkan dipersunting oleh pria lain," balas Ervita.
__ADS_1
"Aku mau menikmati masa-masa kejayaan menjadi Ayah dulu, Nda. Sebelum nanti Indi dan Irene semakin besar, dan mungkin mereka akan kuliah di luar kota. Selama anak-anak masih kecil, aku akan selalu mencurahkan kasih sayangku untuk anak-anakku," balas Pandu.
Ervita lagi-lagi tersenyum. "Yayah able deh kamu, Mas," balas Ervita.
"Ya, semoga bisa selalu begitu ya, Nda. Memiliki anak-anak gadis itu lebih susah, Nda. Aku harus menjaganya dengan baik. Jangan sampai terjadi yang buruk. Aku ingin mengantarkan Indi dan Irene berpendidikan tinggi, bisa menggapai cita-citanya. Yayahnya akan bekerja keras banting tulang untuk menyekolahkan Indi dan Irene," ucap Pandu.
"Cita-cita kamu begitu mulia, Yayah. Semoga Tuhan Allah akan mendengar doa dan harapan kita. Kita bisa menyekolahkan Indi dan Irene setinggi mungkin. Bundanya hanya lulusan SMA sih gak apa-apa. Yang penting anak-anaknya harus lebih berhasil dari Bundanya," balasnya.
Ya, Ervita sendiri melihat ke dirinya sendiri yang hanya lulusan SMA. Sebenarnya dia pernah merasakan menjadi mahasiswi untuk beberapa semester, tapi semua kandas saat dirinya hamil di luar nikah dan kemudian diusir dari rumah. Tidak ada peluang lagi untuk mengejar cita-cita.
"Kamu mau kuliah lagi gimana, Nda?" tanya Pandu.
Setidaknya jika hanya sekadar mau kuliah lagi, Pandu merasa masih kuat untuk menyekolahkan Ervita. Mengambil kuliah di Universitas Terbuka pun tidak menjadi masalah. Bisa diambil Sabtu-Minggu, atau perkuliahan online.
"Enggak usah, Mas. Aku sudah bahagia begini. Yang penting nanti anak-anakku bisa sekolah sampai tinggi," balas Ervita.
Di titik ini pun Pandu menunjukkan supportnya secara penuh untuk Ervita. Dia memberikan kesempatan untuk istrinya untuk menggapai impiannya, melanjutkan pendidikannya yang sempat terputus. Dengan memberi dukungan, tentu Pandu juga siap mengasuh anak-anak, ketika dirinya kuliah nanti.
"Gak usah, Mas ... terima kasih. Ditabung saja untuk anak-anak kita," balas Ervita.
"Iya, Nda ... penting kamu nanti jika ada impian atau cita-cita di masa depan nanti, jangan lupa bilang ke aku. Yang pasti, aku akan selalu mendukung kamu," balasnya.
Ervita pun tersenyum. "Iya Yayah," balasnya.
__ADS_1
Pandu pun terkekeh geli. "Ihh, Ndanya Didi ya kayak Didi deh," balasnya.
"Ndak apa-apa, Yayah. Kan cuma bercanda," balasnya.
Indi yang sejak tadi diam, akhirnya ikut berbicara. "Yayah, nanti kalau besar Didi mau mau jadi seperti Yayah yah," ucapnya.
"Emangnya Didi tahu, Yayah kerja apa?" tanya Pandu.
"Iya, Nda bilang kalau Yayah itu desainer interior yang hebat. Didi mau jadi seperti Yayah yah," balasnya.
Pandu pun tersenyum, rupanya Ervita sering menceritakan perihal profesinya kepada Indi. Bahkan Pandu merasa senang ketika Indi nanti mau mengikuti jejaknya. Namun, jika Indi memiliki impian yang lain pun tidak masalah.
"Iya, boleh ... tapi suatu saat nanti jika Indi memiliki impian dan cita-cita yang lain, beritahu Yayah yah. Yayah akan bekerja dan menabung supaya bisa menyekolahkan Indi setinggi mungkin," ucap Pandu.
Indi pun menganggukkan kepalanya. "Iya Yayah ... nanti Didi akan cerita kok sama Yayah dan Nda. Kan katanya Yayah, Didi teman kecilnya Yayah," balasnya.
"Iya dong ... sahabatnya Yayah," balas Pandu dengan mengecup puncak kepala putrinya itu.
"Kalau Adik Irene ingin menjadi apa? Jadi seperti Yayah juga boleh," balas Ervita.
Pandu pun segera melirik istrinya itu. "Yah, masak dua-duanya desainer interior. Jadi Dokter, penulis, atau apa saja boleh kok," balasnya.
"Keren kali yah, kalau sampai bisa menjadi Dokter," balas Ervita.
__ADS_1
"Amin ... berdoa saja, Nda. Salah satu putri kita ada yang menjadi Dokter nanti," balas Pandu.
Banyak doa dan harapan yang mereka sematkan untuk masa depan. Semoga saja, memang Sang Pemilik Semesta akan memberikan jawaban untuk setiap harapan yang disematkan oleh Ervita dan Pandu sekarang ini.