
Hari yang berkesan untuk Pandu dan Ervita. Hari yang mereka mulai dengan menyambut surya yang indah, dan juga menikmati Soto Bathok di tepian area persawahan. Setelahnya, mereka kembali pulang ke kediaman orang tua mereka. Setibanya di rumah, Ervita dan Pandu berganti untuk mandi terlebih dahulu, dan mereka berkumpul bersama di Pendopo yang ada di kediaman Hadinata.
Ada Indi dan Lintang yang akrab bermain boneka Little Pony, dan juga orang dewasa yang berkumpul bersama. Sangat senang rasanya bagi Pak Hadinata dan Bu Tari melihat anak dan cucu berkumpul bersama. Memang ada falsafah Jawa yang mengatakan, "Mangan ora mangan sing penting kumpul". Yang diartikan adalah "makan atau tidak makan yang penting berkumpul." Akan tetapi, bagi keluarga Hadinata, mereka mendukung penuh impian dan keinginan anak-anaknya. Namun, ada masa di mana mereka merasa rindu bisa berkumpul bersama seperti ini.
"Sudah tadi lihat matahari terbitnya?" tanya Pak Hadinata kepada anak-anaknya yang berkumpul di Pendopo.
"Sudah Pak ... akhirnya kesampaian juga. Sudah lama banget Pertiwi enggak ke Ratu Boko. Tetap indah dan eksotis," balasnya.
Tampak Pak Hadinata pun menganggukkan kepalanya, "Ya, begitu ... di Lampung kan jauh. Ketika di Jogja pengennya main ke mana-mana," balasnya.
"Iya Pak ... mumpung berada di Jogja. Nanti kalau sudah menginjak sembilan bulan kehamilan juga sudah berdiam di rumah, Pak ... khawatir kalau melahirkan sewaktu-waktu," balas Pertiwi.
"Ya, benar, Ndug ... bahaya. Kalau di rumah kan pas waktunya kontraksi dan merasa mau hamil, ada Bapak dan Ibu yang di rumah. Bisa langsung bergerak cepat," balas Bu Tari.
Pertiwi pun menganggukkan kepalanya, "Iya Bu ... sama seperti dulu, waktu hamil Lintang. Sudah sembilan bulan malahan jalan-jalan ke Mall, dan di sana terasa hamil. Untung waktu itu, ada Pandu yang bisa diandalkan dan langsung membawa Pertiwi ke Rumah Sakit. Kali ini gak mau lagi. Panik banget waktu itu."
Bu Tari pun menganggukkan kepalanya, "Makanya nanti di rumah saja. Kalau Pandu pas di rumah ya bisa dimintai tolong untuk menganter ke Rumah Sakit. Kalau Pandu waktu kerja, ya ada sopir di Kios Batik yang bisa dimintai tolong," ucap Bu Tari.
Pertiwi pun menganggukkan kepalanya. "Iya Bu ... Pertiwi merasa bersalah karena membuat seluruh keluarga khawatir dulu," balasnya.
Ya, waktu dulu memang Pertiwi ketika sedang jalan-jalan ke Mall. Niatnya ingin cuci mata dan juga membeli beberapa perlengkapan bayi. Selain itu, di usia kandungan yang sudah 9 bulan, Dokter Kandungan menganjurkannya untuk bisa berjalan-jalan karena jalan kaki bagus untuk Ibu yang akan melahirkan. Akan tetapi, waktu itu justru Pertiwi merasakan perutnya yang kontraksi. Rasanya begitu sakit hingga ke pinggang. Selain itu keringat dingin pun membanjiri tubuhnya.
Untunglah kala itu, dia jalan-jalan bersama Pandu. Sehingga adiknya itu dengan sigap membawanya ke Rumah Sakit. Walau Pandu sendiri panik, tetapi pria itu sangat tenang dan dia memberikan kabar kepada orang tua dan Damar, kakak iparnya bahwa Pertiwi dilarikan ke Rumah Sakit karena mengalami kontraksi.
__ADS_1
Berkaca dari pengalaman sebelumnya, Pertiwi pun berjanji pada dirinya sendiri dan keluarganya bahwa ketika usia kehamilannya sudah menginjak 9 bulan nanti, dia akan lebih banyak berada di rumah. Daripada merasakan kontraksi di tempat seperti mall, atau yang ramai lainnya.
"Iya gitu ... jadikan masa lalu sebagai pengalaman," balas Bu Tari.
Hingga sore hari Ervita, Pandu, dan Indi masih berada di kediaman keluarga Hadinata. Hingga sore, Pandu berpamitan kepada Bapak dan Ibunya. Untuk pulang ke rumah dan tentunya istirahata.
Begitu sampai di rumah, Pandu menyempatkan dirinya bermain dengan Indi terlebih dahulu. Sebab, sepanjang hari Indi lebih banyak menghabiskan waktu bersama Lintang. Oleh karena itu, sekarang dimanfaatkan Pandu untuk bermain bersama dengan Indi.
"Tadi seharian Indi main apa saja sama Mbak Lintang?" tanya Pandu kepada Indi.
"Main Little Ponny, Yayah ... sama Mbak Lintang cerita kalau adiknya cowok," balasnya.
Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Iya, adiknya Mbak Lintang nanti cowok," balasnya.
"Nanti Didi manggilnya apa Yayah?" tanyanya.
Di dalam aturan Jawa memang ada aturan tua "Awu" berdasarkan garis keturunan atau hubungan darah, atau berdasarkan usia. Mereka yang lahir dari 'awu' yang lebih tua walau usianya jauh lebih muda akan tetap dipanggil Mbak atau Mas. Sementara yang lahir lebih dahulu, walau usianya lebih banyak karena berdasarkan dari garis keturunan akan dipanggil Adik.
"Manggilnya Mas dong Yah? Mas Bayi?" tanya Indi.
"Iya, manggilnya Mas Bayi," balas Pandu.
"Kalau manggil anaknya Bulik Mei apa, Yayah?" tanya Indi lagi karena dia ingat bahwa di Solo, Bulik Mei juga akan memiliki bayi.
__ADS_1
"Kalau sama anaknya Bulik Mei dan Om Tanto dipanggil Adik," jawab Pandu.
Indi pun tampak menganggukkan kepalanya, "Oke Yayah ... jadi Didi memiliki Mas Bayi dan Adik bayi yah," balasnya.
"Benar ... nanti kalau adiknya Mbak Didi lahir, punya Adik Bayi sendiri," balas Pandu.
"Adiknya cewek atau cowok Yayah?" tanya Indi kemudian.
"Mbak Didi maunya punya adik cowok atau cewek?" tanya Pandu yang justru kembali bertanya kepada Indi.
Untuk beberapa saat Indi terlihat diam, kemudian barulah anak kecil itu menjawab. "Uhm, adiknya cewek saja, Yayah. Biar bisa temenin Indi main boneka, dan main Dakon. Kayak yang Yayah dan Bunda ajarin dulu," jawabnya.
Pandu tersenyum di sana. Rupanya Indi justru menginginkan memiliki adik perempuan. Rasanya begitu lucu. Jika memang nanti bayi yang dikandung Ervita perempuan, Pandu akan menjadi satu-satunya pria di dalam rumah.
"Nanti kalau Bunda melahirkan, kita lihat dan sambut sama-sama yah ... adiknya mau cewek atau cowok tidak apa-apa ya Mbak Didi. Kan bayi itu anugerah dari Tuhan," balas Pandu.
"Iya Yayah ... Yah, ini jam berapa? Kok Didi sudah mengantuk," tanyanya sembari menguap.
"Baru jam tujuh malam, Nak," balas Pandu.
"Didi bobok ya Yayah. Besok Didi main sama Mbak Lintang lagi boleh?" tanyanya.
Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Boleh ... yang penting diusahakan jangan berantem yah. Sama saudara yang rukun. Saling sayang. Kan Indi dan Mbak Lintang itu Kakak dan Adik," balas Pandu.
__ADS_1
Indi pun menganggukkan kepalanya dengan mata yang sudah terasa berat, "Iya Yayah."
Setidaknya ketika berdua dengan Indi, baik Ervita atau Pandu selalu memberikan didikan, arahan, atau pengetahuan kepada Indi. Beberapa ahli dan psikolog anak mengatakan waktu menjelang tidur adalah waktu terbaik untuk memberi tahu kepada anak. Otak anak akan merekam, dan sampai ke alam bawah sadarnya. Selain itu, ajaran yang baik juga harus diulang-ulang supaya anak memahami sesuai dengan tingkat usianya juga. Oleh karena itu, di kala hendak tidur seperti ini Ervita dan Pandu selalu mengajarkan dan menuturkan hal yang baik kepada Indi. Dengan harapan apa yang tabur, akan Indi lakukan dan tuai di kemudian hari.