
Cukup satu malam saja, Pandu mengajak Ervita menginap di Abhayagiri dan sekarang, mereka semuanya akan melakukan cek out. Serta keluarga Ervita pun akan kembali ke Solo. Untuk itu, Bapak Agus dan keluarga pun berpamitan kepada keluarga Hadinata.
“Bapak dan Ibu Hadinata, kami mengucapkan banyak terima kasih. Kami sudah diterima dengan sangat baik di sini. Lebih dari itu, anak kami, Ervita juga disayangi dan sangat dihargai di sini. Rasanya kami tidak bisa banyak berbicara selain mengucapkan terima kasih banyak. Sekarang, kami mohon pamit untuk kembali ke Solo. Kami titipkan Ervita kepada Bapak dan Ibu, kepada Mas Pandu. Jika ada salah, kami dengan tulus meminta maaf,” ucap Pak Agus kala itu.
“Sama-sama Pak … kalau ada waktu senggang, mari main-main ke Jogjakarta dan mengunjungi anak-anak di sini. Kami pun juga akan mampir ke Solo,” balas Pak Hadinata.
Setelahnya, Pak Agus dan Bu Sri memeluk Ervita di sana. “Sekarang sudah membina keluarga baru … jadi istri yang taat dan berbakti kepada suamimu. Bapak dan Ibu doakan kamu dan Mas Pandu selalu bahagia. Cepat mendapatkan momongan juga. Maafkan Bapak dan Ibu sekali lagi yah,” ucap Bu Sri kali ini.
Kemudian Pak Agus menatap menantunya di sana, “Mas Pandu … titip Ervi dan Indi yah. Tolong jika Ervi melakukan salah ditegur dengan baik-baik, saling menyayangi, dan ketika ada masalah bisa diselesaikan bersama-sama,” ucap Pak Agus kepada menantunya.
“Nggih Pak … Pandu akan menjaga Ervi dan Indi dengan baik,” balasnya.
Sebenarnya tanpa Pak Agus meminta pun, Pandu selama ini sudah menjaga Ervita dan Indi dengan begitu baik. Menjaga dengan caranya sendiri, dan selalu berbaik hati kepada Ervita dan juga Indi. Bahkan hampir tiga tahun ini, tanpa banyak orang tahu, Pandu lah yang akan selalu menjaga Ervita, bahkan tanpa sengaja pula Ervita mendengar tangisan Ervita di malam hari atau ketika tanpa sengaja di sedang duduk di pendopo rumahnya. Rasanya dia ingin melindungi Ervita dan menghapus air matanya.
Setelahnya keluarga dari Solo berpamitan dan meninggalkan Abhayagiri, sementara keluarga Hadinata juga melakukan cek out, dan akan bergegas untuk pulang ke rumah. Ada Bu Tari yang menatap bahagia kepada Pandu dan Ervita serta Indi di sana. Dulu, dia tidak pernah menyangka bahwa wanita belia yang datang ke Kios batik untuk mencari pekerjaan, kini justru menjadi menantunya.
“Kita pulang ya Nda,” ajak Pandu kepada istrinya itu.
Tanpa banyak bicara, Ervita pun masuk ke dalam mobil milik Pandu. Mengikuti kemana suaminya itu akan membawanya. Masih di area perumahan yang sama dengan milik keluarga Hadinata, hanya berbeda cluster saja. Bahkan rumah yang sana, dengan pendopo kecil di depannya.
“Rumah siapa Mas?” tanya Ervita dengan bingung. “Rumahnya Bapak dan Ibu kan gang setelah ini,” ucapnya.
Pandu pun tersenyum, “Kemarin di mahar pernikahan itu ada kunci kan? Ya itu kunci rumah ini. Rumah kita berdua,” balas Pandu pada akhirnya.
Ervita pun melirik ke berbagai seserahan yang ada di bagasi mobil Pandu karena memang Bapak Agus dan Tanto menata semuanya dan dimasukkan ke dalam bagasi Pandu. Tidak ada satu seserahan yang diambil oleh pihak keluarga Ervita karena Pak Agus dan Bu Sri menyadari bahwa semua mahar adalah milik Ervita. Lagipula, dalam kurun waktu yang lama Ervita berjuang untuk dirinya sendiri. Bahkan pernikahan kemarin pun, keluarga Hadinata juga yang membiayai semuanya. Walau Pak Agus sudah menyampaikan niatan untuk sharing biaya pernikahan, tetapi pihak Hadinata dengan sopan menolaknya. Sehingga Pak Agus memutuskan seluruh seserahan diberikan semuanya kepada Ervita.
“Itu kunci rumah ini?” tanya Ervita.
Pandu pun menganggukkan kepalanya, “Iya, kan semalam aku sudah bilang, kita akan hidup bersama … hidup berdua, mandiri. Seorang pria berhak untuk hidup mandiri tanpa naungan Bapak dan Ibunya. Jadi, hari ini mari kita belajar hidup sendiri. Ini adalah rumah baru dari Kakanda untuk Adinda,” balas Pandu.
__ADS_1
Sungguh, Ervita tidak menyangka. Semalam Ervita pikir bahwa ucapan Pandu hanya gurauan semata, dan juga tidak bermaksud untuk hidup mandiri dan tinggal di rumah baru secepat ini juga. Pria yang berdiri di sampingnya itu rasanya begitu penuh dengan kejutan.
“Ayo masuk,” ajak Pandu dengan menggenggam tangan Ervita dan menggendong Indira dengan satu tangan yang lainnya.
“Rumah Eyang Uthi?” tanya Indira dengan suaranya yang khas anak kecil.
“Rumah Eyang Uthi dan Kakung di sana, Indi … ini rumah kita. Rumahnya Ayah, Bunda, dan Indi. Bagaimana, Indi suka enggak?” tanya Pandu kepada Indira.
“Cuka … cuka, kalau rumah Eyang ma Mbak Lintang?” tanyanya lagi.
Pandu pun tersenyum, “Ya nanti kalau kangen Eyang dan Mbak Lintang, main ke sana yah …, tapi Mbak Lintang juga akan balik ke Lampung. Kan Papanya Mbak Lintang bekerja di Bandar Lampung,” balas Pandu memberikan penjelasan kepada Indira.
“Kalau Yayah?” tanya Indira lagi.
“Ayah di sini … akan selalu bersama Indira dan Bunda, oke,” balasnya.
“Ini Pendopo, Vi … bentuknya mirip dengan rumah Bapak dan Ibu. Ini aku yang mendesainnya, aku suka rumah dengan suasana Jawa seperti ini, bedanya di sebelah kiri pendopo ada air mancur buatan, biar rasanya adem dan asri dengan gemericik air. Lalu di depan itu masuk ke dalam rumah itu, ada Aksara Jawa (huruf Jawa). Kamu bisa baca itu?” tanya Pandu kemudian.
Ervita diam dan mencoba untuk membaca tulisan yang tercetak dengan Aksara berikut. “Griya Kakanda lan Adinda?”
Pandu pun menganggukkan kepalanya, “Iya … Griya Kakanda lan Adinda (Rumah Kakanda dan Adinda). Rumah kita. Pendopo ini hanya begini saja sih, kalau malam kita bisa melantai di sini ya Nda … sambil minum kopi,” ucap Pandu.
Ervita pun tersenyum di sana, “Iya, Mas Kanda,” balasnya.
Kemudian Pandu mengajaknya masuk ke rumah yang ternyata berbentuk minimalis modern dengan hanya satu lantai itu. Rumah yang dicat perpaduan warna nude, coklat, dan putih itu memiliki desain yang indah. Ada ruang tamu kecil, dan tiga kamar yang semuanya berada di lantai saja, dapur, dan juga area belakang yang difungsikan untuk menjemur pakaian.
“Rumah kita,” ucap Pandu lagi.
Ervita pun menitikkan air matanya, “Ini terlalu bagus, Mas … dari kamu atau dari Bapak dan Ibu?” tanyanya kemudian.
__ADS_1
“Dari aku … hasil bekerjaku bertahun-tahun, Dinda … suka?” tanya Pandu kemudian.
“Sangat suka,” balasnya dengan mengapit lengan suaminya itu.
“Amar Didi?” tanya Indira dengan tiba-tiba yang menanyakan kamarnya.
Pandu pun mengajak Indira ke kamar yang dihubungkan dengan connecting room di sana. Kamar dengan warna pink dan juga dicat dengan karakter Little Ponny di temboknya.
“Little Pony,” teriak Indira dengan begitu girangnya.
“Iya, ini akan jadi kamarnya Indi … Indi bobok sendiri berani?” tanya Pandu kemudian.
Terlihat Indira menggelengkan kepalanya, “Bobok ma Yayah dan Nda,” balasnya.
Pandu pun tersenyum, “Iya … bobok sama Ayah dan Bunda di sini yah. Suka tidak dengan kamar baru ini?” tanya Pandu.
“Suka,” balas Indira.
Ervita pun mengusapi puncak kepala Indira, “Ucapkan apa kepada Ayah?”
“Yayah, aciihh ….”
Indira mengucapkan terima kasih dan memeluk Ayahnya itu. Rasanya Pandu pun terharu bisa menghadirkan kebahagiaan untuk putri kecil itu. Tampak Pandu yang tersenyum dan memeluk Indira juga.
“Sama-sama Indi … putrinya Ayah,” balasnya.
“Didi oleh bobok ma Yayah?” tanyanya kemudian.
Pandu pun menganggukkan kepalanya, “Iya, boleh … boleh bobok sama Ayah sekarang.”
__ADS_1