
Keesokan harinya ....
Pagi rasanya selalu menjadi waktu yang berat untuk Ervita. Dia masih saja merasakan mual dan muntah di pagi hari. Juga, dengan rasa lemas yang masih membuatnya tak ingin beranjak dari tempat tidur. Akan tetapi, Ervita berusaha untuk melawannya.
"Kalau lemes jangan dipaksa, Nda," ucap Pandu yang memperingatkan istrinya itu.
"Tidak apa-apa, Mas ... gak enak. Kamu sudah rajin dan juga siap dari pagi, masak aku mau bergelung di bawah selimut terus," balas Ervita.
"Ya gak apa-apa, Nda ... namanya juga ibu hamil. Kalau aku sih santai saja. Berapa bulan dulu kamu mual dan muntah begini Nda?" tanya Pandu lagi.
"Tiga bulan kalau tidak salah, Mas ... lama yah?" balas Ervita.
Pandu menganggukkan kepalanya perlahan, "Lama juga yah ... gak apa-apa, aku temenin Dinda. Penting sih kamu sehat saja. Gak usah memaksakan diri untuk bersih-bersih rumah, masak, dan sebagainya. Jangan menganggap semuanya menjadi beban," balas Pandu.
"Bukan beban, cuma jadi istri kok malas-malasan merasa malu," balas Ervita.
Pandu tersenyum di sana, "Gak usah malu. Sama suami sendiri juga. Oh, iya ... nanti aku pulang agak sore ya Nda ... mau bantuin Ibuk dan Bapak untuk nurunin stok batik yang terbaru di Kios," balasnya.
"Iya ... penting hati-hati ya Mas," balas Ervita.
"Tentu Dinda ... kalau ada yang ingin dimakan atau ngidam apa, bilang aja, nanti aku belikan sekalian pas sore," pesannya.
Hingga akhirnya Pandu berpamitan untuk berangkat kerja, sementara Ervita memilih untuk mengasuh Indi dan menemani anaknya itu bermain.
"Nda, kapan kita main ke Solo lagi?" tanya Indi kepada Bundanya itu.
"Kapan-kapan ya ... Ayah juga baru sibuk bekerja, nanti juga Ayah pulang lebih sore," balas Ervita.
__ADS_1
"Yayah pulang sore kenapa Nda? Yayah ndak ke Surabaya kan?" tanyanya.
Ervita menggelengkan kepalanya perlahan, "Enggak ... Yayah kamu bantuin Eyang Uthi dan Eyang Kakung di Kios Batik dulu," balasnya.
"Oh, iya Nda ... telepon Eyang Solo dong Nda," pinta Indi yang meminta kepada Bundanya untuk menghubungi Eyang yang ada di Solo.
Menuruti permintaan Indi, Ervita pun mengambil handphonenya dan kemudian menghubungi Ibunya yang ada di Solo.
"Halo Bu ... baru ngapain?" sapa Ervita melalui panggilan telepon itu.
"Ini, baru santai di rumah. Kamu baru ngapain?"
"Ini dicariin Indi, Bu ... Indi nyariin Eyangnya," balas Ervita.
Di sana, Bu Sri pun tertawa, "Kangen sama Uthi yah? Sini main ke Solo, Ndi ... Indi," balas Bu Sri.
"Iya Uthi ... kangen. Tante Mei ada Uthi?" tanya Indi lagi yang ternyata juga menanyakan Tantenya.
"Uthi ... Didi mau jadi Mbak loh, Uthi ... Nda mengandung, Uthi," cerita Indi kepada Uthinya.
Di Solo sana, tampak Bu Sri tampak senang. Benar-benar tidak menyangka bahwa Ervi juga tengah hamil, menyusul Mei yang hamil lebih dahulu.
"Alhamdulillah," balas Bu Sri dengan menitikkan air mata.
Situasi ini sangat kontras dengan tiga tahun lalu ketika Ervita hamil Indi. Tidak ada ucapan syukur kepada Yang Kuasa. Yang ada justru Ervi diusir dari rumah karena menyebabkan cela dalam keluarganya. Sekarang, ada syukur yang disebut ketika Ervita hamil lagi.
"Ngidam enggak Vi?" tanya Bu Sri kemudian kepada anaknya itu.
__ADS_1
"Belum Bu ... cuma mual kalau pagi dan juga lemes," balas Ervitra.
"Tidak sampai teler kan?"
"Tidak ... cuma sedikit lemes saja kok Bu ... untung Mas Pandu baik, jadinya Ervi justru dibantuin banyak," ceritanya.
Ya, Ervita merasa beruntung karena suaminya adalah sosok yang baik dan juga begitu perhatian. Sehingga Ervita merasa kehamilan kali ini secara mental, dia juga lebih stabil dan juga lebih tenang.
"Pengen sesuatu enggak dari Solo? Nanti Ibu belikan," balas Bu Sri. Sapa tahu Ervita di sana sedang ngidam sehingga bisa mengirimkan makanan untuk Ervita yang ada di Jogja.
"Tidak usah Bu ... nanti kalau Ervi dan Mas Pandu main ke Solo, mau mampir ke Pasar Gedhe untuk beli makanan tradisional dan beli Dawet di sana," balasnya.
Terdengar ada kekehan kecil dari Bu Sri, "Lah, kok kayak Mei ... kemarin Minggu, Mei dan Tanto ke Pasar Gedhe beli Dawet. Cuma beli Dawet terus pulang," balasnya.
"Ngidam juga ya Bu?" tanya Ervita.
"Iya ... ya kadang-kadang saja. Cuma tiap pagi yang mual-mual malahan Tanto. Meinya sehat-sehat saja. Katanya kapan-kapan Mei mau main ke Jogja, ke rumah kamu. Cuma ndak tahu kapan," balasnya.
"Main saja Bu ... kalau naik kereta, nanti biar dijemput Mas Pandu di Stasiun," balasnya.
Cukup lama mereka saling menelpon dan Indi pun juga mengatakan rasa kangennya kepada Uthinya yang ada di Solo. Serta, Indi juga ingin kapan-kapan bisa main lagi ke Solo dan bertemu dengan Uthi dan Kakung di Solo.
"Di hati-hati ya Vi ... hamilnya," pesan Bu Sri.
Di dalam hatinya, Ervi merasa tenang. Namun, juga seakan teringat dengan masa lalu di mana dia menjalani semuanya seorang diri. Tidak ada sapa hangat dan perhatian dari keluarganya. Dia benar-benar terisolasi dan jauh dari rumah. Namun, sekarang berbeda karena semua keluarga menyambut baik dan juga berpesan kepadanya. Mendengarnya saja Ervi menjadi mellow dan segera memeluk Indi yang duduk di pangkuannya.
"Kenapa Nda?" tanya Indi dengan bingung, ketika usai menelpon Bundanya terus memeluknya.
__ADS_1
"Bunda sayang Indi," ucap Ervita.
"Hu-um, Didi juga sayangggg Bunda," balas Indi yang kemudian balik memeluk Ervita di sana.