
Hari ini Pertiwi dan Damar akan menyambut bayi kecil mereka. Sehingga keduanya sudah bersiap di Rumah Sakit. Sementara, Lintang sekarang berada di rumah Pandu dan Ervita, memilih untuk bermain bersama dengan Indira.
"Mbak Lintang seneng enggak punya adik bayi nanti?" tanya Indira kepada Lintang.
"Ya, seneng sih, Ndi. Nanti kamu main ke rumah Eyang yah. Kita mainan sama adik bayi," ucap Lintang kepada Indira.
"Kan adik bayi gak bisa bermain Mbak. Adik bayi itu bobok, nangis, dan minta ASI," balas Indi dengan menunjukkan wajah polosnya.
Ervita dan Pandu yang mendengarkan cerita Indi pun tertawa. Anak sekecil Indi bisa mengamati bahwa bayi hanya bisa tidur, menangis, dan meminta ASI. Mungkin nanti Indi bisa benar-benar menjadi begitu menggemaskan kala adik bayinya sudah lahir. Bisa mengamati secara langsung adik bayinya nanti.
"Lintang nanti bobok di rumahnya Om Pandu dan Bulik Ervi mau enggak? Mama dan Papa kan baru di Rumah Sakit," ucap Pandu kemudian kepada keponakannya itu.
"Mama dan Papa enggak pulang tow Om?" tanya Lintang.
Pandu pun menggelengkan kepalanya perlahan. "Di Rumah Sakit dulu sampai Mamanya Mbak Lintang agak sehat. Bobok di rumahnya Om dan Bulik yah?"
"Bobok sama Indi?" tanya Lintang lagi.
Kali ini giliran Ervita yang menjawab. "Iya, tempat tidurnya Indi muat kok untuk berdua. Gimana mau enggak?"
Tampak berpikir dan juga sebenarnya sedih karena Mama dan Papanya berada di Rumah Sakit. Akhirnya Lintang menganggukkan kepalanya. "Iya, Om Pandu ... Lintang bobok di sini sama Indi yah. Kapan-kapan kalau udah, anterin Lintang ketemu Mama dan Papa yah," pinta Lintang kepada Om nya itu.
"Pasti, nanti Om anterin. Sekalian jenguk adik bayinya Mbak Lintang," balas Pandu.
Hingga akhirnya, malam harinya Lintang menginap di rumah Pandu dan Ervita. Lintang sudah menaiki tempat tidur di dalam kamar Indi. Dia tampak mengamati kamar Indi dengan banyak boneka Little Pony di sana.
"Aku boleh pinjem bonekanya satu enggak, Ndi?" tanya Lintang.
Indi tampak mengamati Bundanya terlebih dahulu. Hingga Ervita pun menganggukkan kepalanya perlahan. "Boleh, berbagi itu menyenangkan. Kan Mbak. Lintang cuma pinjem," balas Ervita.
"Aku yang pilihin bonekanya ya Mbak," balas Indi.
Lintang pun menganggukkan kepalanya. "Iya, buat dipeluk selama tidur aja kok," balasnya.
__ADS_1
Akhirnya Indi memilihkan boneka Pony berwarna oranye untuk Lintang. Sementara Indi sendiri memeluk boneka berwarna ungu, Twilight kesukaannya sejak kecil. Ervita merasa senang karena Indi yang masih kecil mau berbagi. Walau memang dia yang harus memilihkan untuk Lintang.
Pandu dan Ervita masih menunggu sampai Indi dan Lintang tertidur. Setelah keduanya tertidur, barulah mereka memasuki kamar mereka. Tampak Ervita sudah mengapit lengan suaminya itu. Memang agak manja, dan Ervita mengakui memang dirinya agak manja sekarang.
"Mau langsung tidur sekarang?" tanya Pandu kemudian.
"Nanti Mas, biasa ngobrol dulu sama kamu," balasnya.
Pandu pun tersenyum dan mengecup kening istrinya itu. "Boleh, Bumilku ini mau ngobrol apa sih sama Mas?" balasnya.
"Uhm, lihat Indi dan Lintang bobok berdua gitu membuatku teringat masa kecilku dulu sama Mei. Dulu, waktu aku kecil boboknya satu dipan sama Mei, Mas. Baru mulai dibuatin kamar pisah itu setelah aku SMP," ceritanya.
Ya, dulu ketika masih kecil Ervita tidur di dipan. Dipan sendiri terbuat dari kayu, biasa digunakan untuk duduk-duduk atau berbaring. Kemudian di atasnya diberikan kasur untuk tidur. Sebenarnya kata 'dipan' sendiri bukan dari bahasa Indonesia, melainkan kata serapan dari Belanda yaitu Divan. Lantaran orang Jawa sewaktu itu sukar mengucapkan konsonan huruf V, sehingga berganti konsonan huruf P. Sejak saat itu, orang Jawa selalu mengucapkan kata 'dipan'.
"Tahu gitu, dulu aku buatin dipan kayu ke Solo, Nda. Buat bobok kamu," balas Pandu.
Ervita pun tersenyum sekilas. "Kamu bisa aja sih, Mas. Dulu aku hamil tanpa suami, kamu mau nikahin aku. Sekarang, aku bilang dulu bobok di dipan, kamu mau buatin dipan untukku. Sweet banget sih, Mas," balas Ervita.
"Untukmu semua yang aku bisa bakalan aku berikan, Nda. Semuanya," balas Pandu dengan sungguh-sungguh.
"Kamu mau ke Rumah Sakit?" tanya Pandu kemudian.
"Enaknya gimana Mas? Aku sih manut kamu saja. Kamu maunya gimana, aku ngikut, Mas," balas Ervita.
Pandu sekarang tampak berpikir dan kemudian berbicara kepada istrinya itu. "Kita nunggu di rumah saja, Nda. Nanti sekalian jenguknya. Gimana?"
"Ya sudah, aku sih manut Mas Pandu saja. Manut sama suami," balasnya.
***
Selang dua hari kemudian ....
Pertiwi sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Ketika mereka berangkat ke Rumah Sakit hanya berdua. Sekarang, mereka pulang ke rumah bertiga. Tentunya bersama putra kecil mereka.
__ADS_1
Sekarang di kediaman Hadinata ramai karena semuanya berkumpul. Lintang dan Indi pun duduk dengan manis dan melihat bayi kecil dengan jenis kelamin laki-laki itu.
"Kenapa, Ndi ... mau adik bayi juga?" tanya Pertiwi kepada keponakannya.
Indi kecil pun menganggukkan kepalanya perlahan. "Iya, mau. Sebentar lagi kan Indi mau punya adik bayi juga," balasnya.
"Mau adik cewek atau cowok?" tanya Pertiwi lagi.
"Katanya Yayah dan Nda, cowok atau cewek tidak apa-apa. Semuanya sama. Yang penting Indi punya adik bayi kayak Mbak Lintang," balasnya.
Pertiwi pun tersenyum di sana. Rupanya memang Pandu dan Ervita sudah memberitahu Indi bahwa adiknya nanti bisa saja laki-laki atau perempuan. Indi juga tidak mempermasalahkan jenis kelamin adik bayinya.
"Namanya siapa Budhe?" tanya Indi kepada Pertiwi.
"Namanya Langit," balas Pertiwi.
Ervita pun sampai geleng-geleng kepala mendengar nama keponakannya yang baru lahir itu. "Namanya bagus banget Mbak," balasnya.
"Iya, sengaja ... biar huruf depannya L. Lintang ing Langit. Bagus kan?" balas Pertiwi.
Ervita pun menganggukkan kepalanya perlahan. "Yen ing Langit ana Lintang," balasnya.
Jawaban Ervita itu jika diartikan dalam bahasa Indonesia berarti, 'Jika di langit ada bintang.' Pun bagi Ervita pemilihan nama anak-anak Pertiwi terasa unik karena berkaitan dengan benda di angkasa. Langit dan Lintang. Nama yang bagus.
"Waktu itu aku kepikiran Angkasa, tetapi Mas Damar memilih Langit. Biar serasi sama Lintang, yang dimulai huruf L," balas Pertiwi.
"Selamat ya Mbak Pertiwi ... sudah lengkap sekarang, cewek dan cowok," balas Ervita.
"Makasih ya Vi ... hampir tiga hari pasti kamu direpotkan dengan Lintang yah? Aku dan Mas Damar mengucapkan terima kasih banyak karena kamu sudah nolongin kami," ucap Pertiwi.
Ya, sepenuhnya Pertiwi tahu tidak mudah ketika dititipin anak kecil. Terutama Lintang yang ceriwis. Jika tidak ada Ervita dan Pandu, sudah pasti mereka akan merasakan kesusahan.
"Sama-sama Mbak, itulah gunanya keluarga. Saling membantu, saling melengkapi satu sama lain," balas Ervita.
__ADS_1
Ya, memang itulah artinya keluarga. Di mana bisa saling guyub dan rukun. Saling kompak, saling membantu. Sebab support sistem untuk diri kita adalah keluarga kita.