Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Lebaran di Solo


__ADS_3

Keesokan Harinya ....


Setelah hari pertama Idul Fitri dihabiskan di kediaman Hadinata dan bersilaturahmi dengan keluarga besar Hadinata. Masih ada beberapa ikatan pedagang batik yang datang ke rumah. Sehingga, acara di kediaman Hadinata pun sampai sore hari.


Ervita pun juga berada di kediaman mertuanya sampai petang. Sebab, Ervita juga membantu Bu Tari untuk menghidangkan makanan. Ada beberapa saudara jauh juga yang datang.


Sekarang, malam hari di rumahnya, Ervita bersandar di rangkulan suaminya itu. Usai mandi keramas dan anak-anak sudah tidur terlebih dahulu. Mungkin juga kelelahan usai seharian bermain dengan Lintang dan Langit.


"Capek, Dinda?" tanya Pandu kepada istrinya itu.


"Capek, Mas. Cuma senang. Ketemu dan halal bihalal dengan pedagang batik juga. Dulu sering bertemu kan di Pasar. Setelah aku melahirkan dan punya anak kan berjualan batik online dari rumah,"balas Ervita.


Walau memang capek, tapi bisa bertemu dengan para pedagang batik di Pasar yang dulu sering bertemu membuat senang. Sekaligus halal bihalal dengan mereka semua. Rasanya senang.


"Dulu, setiap enam hari dalam seminggu ke pasar ya, Dinda. Sekarang kalau bisa dikerjakan dari rumah ya dari rumah saja. Biar enggak terlalu capek," balas Pandu.


"Kan dulu kalau sering ke pasar kan ada yang bahagia juga," balas Ervita dengan melirik Pandu.


Pria itu tertawa dan mengacak gemas puncak kepala istrinya. Namun, apa yang Ervita katakan memang benar adanya. Itu semua karena Pandu senang ketika dulu bisa bertemu dengan Ervita. Tidak perlu tempat mewah dan instagramable, Ervita dan Pandu justru dipertemukan di Pasar Beringharjo, Jogjakarta.


"Bahagia dong, Dinda. Cantik, kalem (halus), pinter, bisa yang gak suka," balas Pandu.


"Enggak sebaik itu juga, kan aku hamil di luar nikah, tuh," balas Ervita.


"Gak apa-apa. Aku tulus menerima kamu apa adanya kok. Dinda, sebenarnya malam ini aku pengen. Cuma, kamu pasti kecapekan. Jadi, habis dari Solo aja yah," ucap Pandu.


"Pengertian banget sih," balas Ervita.


"Yang cakep banyak, Dinda. Yang pengertian cuma Mas Pandu," balas Pandu dengan percaya diri.


Pasangan suami istri terkekeh bersama. Selalu saja ada cara untuk tertawa dengan hal-hal receh yang mereka bicara. Hanya dengan candaan receh seperti ini saja rasanya semua rasa lelah hilang.

__ADS_1


"Bobok yuk, Dinda ... besok aku harus nyetir jauh nih. Supaya gak kecapekan," balas Pandu.


Akhirnya, mereka memilih untuk tidur. Sebelum esok akan menempuh perjalanan jauh dari Jogjakarta menuju ke Solo. Hari kedua lebaran akan dilangsungkan di Solo.


***


Keesokan Harinya ....


Pagi hari, keluarga Pandu sudah bersiap untuk menuju ke Solo. Mengantisipasi kemacetan lalu lintas, sekarang mereka memilih untuk berangkat lebih pagi. Sebab, kedua orang tua satu di Jogja, dan satu di Solo. Supaya adil, maka sekarang mereka merayakan hari kedua lebaran di Solo.


"Kita kemana Yah?" tanya Indi.


"Ke Solo, Mbak Didi. Ke rumahnya Eyang," balas Pandu.


"Oh, oke Yayah," balas Indi.


Usai itu Indi tidak berkata apa-apa lagi. Memilih duduk di belakang dan membawa buku Ensiklopedia kesukaanya. Sementara di depan Ervita memangku Irene.


Ketika mobil Yayah Pandu melintasi area Sleman di kawasan Candi Prambanan, Indi menunjuk candi yang megah dan elok itu. "Yah, itu banyak bus besar. Apa banyak pengunjungnya, Yah?" tanya Indi.


Yang Pandu sampaikan memang benar adanya. Itu semua karena Jogjakarta adalah kota wisata. Ketika Lebaran justru sejumlah tempat wisata penuh dengan para wisatawan. Bahkan di Jalan Malioboro pun juga penuh dan ramai.


"Kalau di Solo?" tanya Indi lagi.


"Kalau di Solo, hari ini di Masjid Raya Sheikh Zayed penuh, Sayang. Bapak Presiden kan melaksanakan Sholat Ied di sana," jawab Ervita.


"Di Solo, Bunda?" tanya Indi lagi.


"Iya, Bapak Presiden kan itu aslinya orang Solo," jawab Ervita.


Mendengar jawaban Ervita, Indi kemudian tertawa. "Bapak Presiden sama seperti Nda yah. Orang Solo. Wong Solo," balas Indi.

__ADS_1


Ervita dan Pandu tertawa mendengar celotehan Indi. Sementara Indi hanya biasanya saja.


"Kalau tempat wisatanya, Nda?" tanya Indi.


"Bunda kurang tahu, Sayang. Mungkin Solo Safari penuh. Selain itu mungkin pada berwisata di area pegunungan di Tawang Mangu. Ada air terjun Jumog dan Grojogan Sewu di sana," balas Ervita.


Indi yang mendengarkannya pun menganggukkan kepalanya. Memang di kota asal Ayah dan Bundanya ada sejumlah tempat wisata yang ramai ketika lebaran. Namun, Indi sekarang hanya ingin ke rumah Eyangnya saja, dan bermain dengan Arka.


Setelah mengemudikan mobil kurang lebih satu setengah jam, sekarang Ervita dan Pandu sudah tiba di rumah orang tua Ervita. Mereka disambut dengan bahagia oleh Pak Agus dan Bu Sri.


"Sugeng Riyadi, Eyang," sapa Indi mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri dalam bahasa Jawa.


"Yuh, pinternya cucunya Eyang. Mbak Didi yang cantik dan pinter," balas Pak Agus.


Setelah itu tentunya Ayah Pandu dan Ervita melakukan tradisi sungkeman terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya. Sama seperti kemarin, Pandu meminta maaf dengan menggunakan bahasa Jawa.


"Kulo ngaturaken sembah ngabekti dhateng panjenengan, ugi nyuwun pangapunten ing sadeleme manah dumateng sedaya agengipun kelepatanipun tindak tanduk ingkang katingal menapa mboten katingal. Mugi mugi Allah nglebur dosa kulo lan panjenengan ing dinten riyaya meniko."


Pandu mengucapkan itu dengan sungkem kepada Bapak dan Ibu mertuanya. Arti dari ucapan itu adalah.


Saya mengucapkan bakti kepada Anda. Sekaligus meminta maaf sedalam-dalamnya atas segala kesalahan perbuatan yang kurang berkenan. Semoga Allah melebur dosa saya dan Anda di hari raya ini.


"Sama-sama ya, Mas Pandu. Bapak juga minta maaf kalau banyak salah kepadamu. Orang tua tempatnya salah. Semoga kita sama-sama kembali ke Fitri yah," balas Pak Agus.


Pun begitu juga dengan Ervita yang mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri dan meminta maaf dalam bahasa Jawa halus atau biasa disebut Krama Inggil. Ervita sampai menangis mengingat dosa dan salahnya dulu di masa lalu.


"Sudah, jangan menangis. Ibu dan Bapak juga tempatnya salah. Semoga ke depannya semakin baik. Kamu dan keluarga selalu diberkahi Allah, dilimpahi dengan semua kebaikan," ucap Bu Sri.


Mengakhiri sungkeman, Ervita memeluk Bapak dan Ibunya. Lantas dilanjutkan dengan makan bersama dan cucu-cucu pun mendapatkan salam tempel dari Eyang di Solo dan ada dari Mei dan Tanto.


"Lahir batin ya, Mbak Ervi ... kalau ada salah minta maaf," ucap Mei kepada Ervita.

__ADS_1


"Sama-sama ya, Mei. Mbak kalau banyak salah, juga minta maaf," balas Ervita.


Lebaran kali ini rasanya sempurna. Bisa membagi waktu dan kesempatan. Sehari di Jogja, dan selanjutnya di Solo. Merayakan indahnya hari raya dalam kebersamaan.


__ADS_2