
Calon Ibu tentu akan merasa senang melihat bakal bayinya yang terlihat di dalam rahimnya. Namun, ada kesedihan yang melingkupi hati Ervita. Ketika dia bahagia melihat bakal janin yang akan tumbuh setiap harinya dalam rahimnya, ada rasa sedih karena anak yang dia kandung sekarang tidak memiliki Ayah.
Di kala Bidan Sri menjelaskan pertumbuhan janin di usia yang ketujuh minggu, Ervita tersenyum getir. Tidak suami, tidak ada Ayah si bayi yang bisa melihat pertumbuhan janin di dalam rahimnya itu.
"Janinnya sudah berusia 7 minggu ya Mbak Vita … kalau dilihat ini masih kecil, seukuran buah cerri. Di usia 7 minggu ini otak bayi berkembang pesat, kulitnya masih berupa selaput yang transparan. Nanti seiring dengan bertambahnya usianya, si bayi akan terus bertumbuh," jelas Bu Bidan Sri.
"Iya Bu," balas Ervita.
"Sama Mbak Vita ini terbilang tekanan darahnya rendah yah, jadi usahakan istirahat yang cukup, makan yang bergizi, dan nanti Ibu berikan penambah darah yah," balas Bidan Sri.
Ervita pun menganggukkan kepalanya secara lemah. Namun, agaknya untuk bisa menikmati makanan sehat dan bernutrisi tinggi harus Ervita tahan untuk sementara waktu. Semua itu karena uang yang dimiliki Ervita pun kian menepis. Bahkan, Ervita berpikir untuk mulai mencari pekerjaan, supaya Ervita bisa bertahan hidup dan juga menabung untuk biaya persalinan bayinya nanti.
"Masih ada yang ingin ditanyakan Mbak Vita?" tanya Bu Bidan itu.
"Tidak Bu, saya sudah jelas," balasnya.
"Baiklah, ini biaya pemeriksaan dan obatnya ya Mbak Vita. Semoga sehat selalu, pemeriksaan selanjutnya bulan depan. Ingat istirahat yang cukup dan juga makan makanan yang bernutrisi tinggi ya Mbak," pesan Bidan itu lagi.
Melihat pemeriksaan dan obat yang harus dia tebus sebesar Rp. 180.000, Ervita menghela nafasnya perlahan. "Biaya ini jauh lebih murah daripada periksa ke Dokter Spesialis Kandungan. Maafkan Ibu ya Dik ... hanya bisa memeriksakan kamu ke Bidan. Doa Ibu bahwa Adik di sini sehat selalu," ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Usai pulang, Ervita memandangi Buku Kesehatan Ibu dan Anak berwarna pink yang diberikan dari Bidan itu, dan melihat foto hasil USG, terlihat setitik kecil di kertas foto yang berwarna hitam itu. Tangan Ervita bergerak dan mengusapi hasil USG 2 Dimensi itu.
"Ini kamu ya Dik Bayi ... masih sekecil ini. Namun, Ibu yakin bahwa kamu setiap hari akan terus tumbuh. Haruskah Ibu kembali ke Solo dan kembali mencoba Nak? Mungkin saja melihat foto USG kamu, Ayah Biologis kamu mau bertanggung jawab atas diri Ibu dan juga Ibu mendapatkan maaf dari kedua orang tua Ibu."
***
Keesokan harinya ...
Berbekal buku KIA dan foto hasil USG pertamanya, Ervita memutuskan untuk pulang ke Solo. Wanita itu memilih pulang ke Solo dengan menaiki Kereta Prameks (Prambanan Ekpress) yang menghubungkan Kota Solo dengan Kota Jogjakarta. Lagipula, pengalaman sebelumnya lebih dari dua jam perjalanan dengan menggunakan sepeda motor membuat perut Ervita terasa begitu sakit kalau sampai di Jogjakarta.
Tujuan Ervita sekarang bukan untuk pulang ke rumahnya, tetapi untuk bertemu dengan Firhan. Ya, siapa tahu hati Firhan tergerak usai melihat Buku KIA yang dia bawa dan foto USG buah hatinya sendiri. Bahkan Ervita sudah menyusun rencana bahwa dia akan langsung ke kampusnya, dan menunggu Firhan di sana.
Begitu telah tiba di Fakultas Ilmu Ekonomi dan Bisnis, Ervita bertanya kepada beberapa temannya terkait keberadaan Firhan.
"Lihat, Firhan enggak?"
"Sorry, mau tanya lihat Firhan enggak ya?"
Beberapa mahasiswa dia tanyai, sampai akhirnya Ervita melihat sosok Firhan yang berada di kantin fakultas itu. Tanpa ragu, Ervita pun mendekat dan menghampiri pria itu.
__ADS_1
"Firhan," sapa Ervita dengan hati yang berkecamuk penuh kebimbangan.
Melihat kedatangan Ervita, Firhan terlihat enggan. Namun, pria itu hanya diam dan tidak merespons apa pun.
"Firhan, aku ingin bicara, bisa kita bicara berdua sebentar?" tanya Ervita.
"Bicara di sini saja," balas Firhan.
Ervita mengamati sekeliling. Bagaimana pun di kantin fakultas itu cukup ramai. Namun, bagaimana lagi jika Firhan hanya menginginkan untuk berbicara di sana. Walau ragu Ervita menunjukkan Buku KIA dan hasil USG yang dia dapatkan kemarin usai periksa.
"Firhan, ini adalah foto anak kamu, anak kita. Dia sudah berada di dalam rahim aku dan usianya sudah 7 minggu. Dia tumbuh di sini Firhan, apakah kamu tidak ingin bertanggung jawab atas anak kita?" tanya Ervita dengan lirih.
Firhan menatap tajam kepada Ervita. Sungguh, kata tanggung jawab tak pernah ada dalam kamusnya. Bertanggung jawab dan menikahi Ervita sama saja dengan merusak masa depannya untuk menjadi auditor usai lulus kuliah nanti.
"Setidaknya, tidak perlu bertanggung jawab atasku ... tanggung jawablah atas anak kita saja, Firhan. Jangan sampai anak kita lahir dan tak bernasab," ucap Ervita.
Sungguh, Ervita tidak bisa membayangkan sebenarnya jika hamil di luar nikah dan tanpa suami. Bukan hanya aib, tetapi membayangkan bahwa anaknya kelak hanya bernasab pada keluarga sang Ibu itu sangat memilukan. Terlebih, sudah pasti orang-orang akan menganggap bahwa anaknya nanti adalah anak hasil zina.
Oh Tuhan, Ervita yang berusaha membayangkannya saja sudah begitu sesak di dada. Dia datang dan menemui Firhan bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk anaknya kelak. Noda itu akan Ervita bawa sampai mati, tetapi untuk anaknya yang bahkan belum lahir pun jika benar dia terlahir tanpa Ayah, sudah pasti anak itu akan menanggung cela sebagai seorang anak yang tak bernasab.
__ADS_1