
Menempati rumah baru rupanya menjadi kesenangan tersendiri untuk Indira. Terlihat anak kecil itu menikmati suasana baru di rumahnya yang tentu saja berbeda dengan rumah yang sebelumnya mereka tempati di kediaman Hadinata. Namun, Indira tidak merasa berbeda, justru merasa semakin nyaman saja di rumah Pandu ini. Justru lebih merasa bahagia karena bisa menempel dengan Pandu.
"Yayah, uku ...."
Indira menyerahkan sebuah buku kepada Pandu dan meminta kepada Pandu untuk bisa membacakannya. Pandu pun menerima buku itu, dan segera membacakannya untuk Indira.
"Sini ... Ayah bacain yah. Indi suka buku?" tanyanya.
Indira pun menganggukkan kepalanya, "Iyahh ... aca ma Nda, (membaca sama Bunda)," ucapnya.
Pandu tersenyum dan dia segera membacakan buku dengan judul Papa itu. Melihat gambar-gambar yang tanpa dialog cerita itu, Pandu pun berusaha untuk menceritakan sesuai gambar yang dia lihat. Lantas dia melihat ke Ervita, seketika Pandu merasakan air muka Ervita yang berubah di sana. Bahkan dengan diam, Ervita tampak menyeka sendiri buliran air mata yang sudah tertahan di sudut matanya.
Pandu memilih menyelesaikan untuk membaca buku itu terlebih dahulu. Usai membacakannya, barulah dia menggeser tempat duduknya dan mendekat ke Ervita.
"Kenapa Dinda? Tadi kok nangis," tanyanya dengan perlahan.
Ervita menggelengkan kepalanya di sana, tetapi sesaat kemudian dia menyandarkan kepalanya di punggung Pandu, memejamkan matanya sesaat, dan juga kembali menyeka buliran air matanya. Sementara tangan Pandu menggenggam tangan Ervita di sana, menggenggamnya dengan begitu erat.
"Itu buku yang tidak pernah bisa aku bacakan untuk Indi. Sosok Ayah seperti apa, kegiatannya apa, di rumah seperti apa dengan anaknya, semua itu tidak pernah aku ceritakan kepada Indi. Itu semua karena, Indi tidak pernah memiliki Ayah sejak dia berada di dalam kandungan. Jadi, aku tidak pernah bisa membacakan buku itu," cerita Ervita pada akhirnya.
Pandu sekarang menjadi tahu alasan dari kesedihan dari istrinya itu. Lantas Pandu memberikan remasan di tangan Ervita yang sekarang dia genggam, dan juga mengusapi punggung tangannya perlahan.
"Itu dulu, Dinda ... sekarang kan Kakandamu bisa melakukan apa pun untuk Indi. Jangan menangis lagi. Aku tidak akan membiarkanmu menangis," balas Pandu.
Baru perlahan keduanya berbicara, rupanya Indira sudah memberikan buku yang lain. "Yayah, ini," ucapnya.
__ADS_1
Pandu pun menganggukkan kepalanya dan segera membacakan buku berjudul "Bella dan Balon Merah" itu. Tampak Indira mendengarkannya dengan begitu antusias. Hingga akhirnya, Indira tertidur di pangkuan Pandu. Begitu Pandu usai membacakan bukunya, pria itu tersenyum ketika melihat Indira sudah tertidur di pangkuannya.
"Yah, udah bobok. Cepet banget sih boboknya. Baru juga jam 19.00," balas Pandu.
"Dia memang terbiasa tidur jam segini kok Mas. Aku bobokkan Indi dulu yah," balas Ervita.
"Biar aku saja, Dinda ... aku tidurkan Indi dulu yah."
Pandu kemudian menyerahkan buku milik Indira kepada Ervita, sementara dia sendiri yang membopong Indira dan menidurkannya di atas tempat tidur. Tidak lupa menaruh boneka Little Pony kesukaannya itu di sampingnya.
"Bisa bobok sendiri kan?" tanya Pandu kemudian kepada Ervita.
Terlihat Ervita menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu, biasanya dia akan tidur denganku," balasnya.
"Biar Indi belajar bobok sendiri ya Dinda?" tanya Pandu kemudian.
Ervita pun menganggukkan kepalanya, "Iya ... tidak apa-apa. Sekalian belajar," balas Ervita kemudian.
Ervita kemudian mengamati Pandu yang masih mengamati Indira yang tertidur. Pandu meredupkan lampu di kamar tidur milik Indira, menggantinya dengan lampu tidur.
"Makasih Mas ... kamu memberikan kesempatan untuk Indi, kesempatan untuk bisa merasakan kasih sayang seorang Ayah," ucapnya.
"Sama-sama Dinda ... aku tuh sayang banget sama Indi. Sejak dia berada di dalam kandungan kamu. Dia bisa seimut itu, pasti mirip kamu yah," balasnya dengan berusaha mengalihkan pembicaraan supaya Ervita tidak lagi mellow.
Akan tetapi Ervita tetap saja menangis di sana, "Mungkin," balasnya.
__ADS_1
Pandu pun segera memeluk Ervita di sana, "Jadi mellow lagi. Nangis lagi. Masak iya, malam pertama di rumah baru kamu malahan nangis kayak gini," balas Pandu.
"Lha gimana lagi, aku terharu ... dia yang tidak mengenal sosok Ayah, akhirnya bisa mendapatkan figur seorang Ayah dalam diri kamu. Makasih Mas," balasnya lagi.
Pandu kemudian menggandeng tangan Ervita dan mengajaknya untuk masuk ke dalam kamarnya sendiri. Memeluk istrinya itu di sana, "Iya Dinda ... udah dong nangisnya. Malam pertama di rumah baru, malahan nangis. Santai saja Dinda ... Kanda akan selalu melindungi dan menjaga kalian berdua," balasnya.
"Iya, aku tahu Kanda," balas Ervita.
"Mau lanjut enggak? Merayakan ritual di rumah baru?" tanya Pandu kemudian.
Ervita pun mengurai pelukannya, dan menatap suaminya itu. "Mau ke Swargaloka lagi?" tanyanya.
Pandu terkekeh geli di sana, "Ya, kan kalau Dinda mau saja. Kanda mah bersedia," balasnya.
Ervita kemudian menggelengkan kepalanya di sana, "Besok saja yah ... tulangku sakit semua."
Pandu pun justru tertawa, "Padahal di Swargaloka ada Dewa Indra, Nda ... menunggu dua sejoli untuk memadu cinta," balasnya.
"Suruh dia menunggu ya Mas ... besok yah," balas Ervita lagi.
Pandu pun kemudian menganggukkan kepalanya, "Iya, santai aja Nda ... besok-besok juga tidak apa-apa. Tresno sliramu, Nda," ucapnya.
Pandu mengatakan bahwa dia cinta kepada Ervita dalam bahasa Jawa, "Aku tresno sliramu." (Aku cinta padamu - dalam bahasa Indonesia).
Sungguh indah malam itu, keluarga kecil yang menghuni rumah baru. Kebiasaan baru dan pengalaman baru juga untuk Indira dan Ervita. Kini, mereka tidak hanya tinggal berdua, tetapi ada sosok Ayah yang akan mereka lihat sebagai sosok yang hebat bagi keduanya.
__ADS_1