Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Sholat Idul Fitri


__ADS_3

Semalam Indi sangat bersemangat mengikuti takbir keliling. Sampai Yayah Pandu bertanya-tanya dalam hati apakah putrinya itu tidak kecapekan. Sebab, jarak tempuhnya terbilang jauh dan mereka harus berjalan kaki, tangan menggenggam obor, dan mulut yang terus mengumandangkan adzan. Akan tetapi, Indi justru sangat semangat. Bisa menyelesaikan semuanya sampai selesai.


"Sudah selesai Mbak Didi, kita pulang ke rumah yah?" ajak Yayah Pandu kepada Indi.


"Iya, Yayah. Acaranya apa hanya takbir saja, Yah?" tanyanya.


Pandu tentu menggelengkan kepalanya. "Tidak, inti dari seluruh ibadah puasa kita itu adalah esok hari, Sayang. Besok pagi akan digelar Sholat Ied, atau Sholat Idul Fitri," jelas Pandu.


Sekarang Indi agaknya tertarik dengan apa yang disebutkan Yayahnya, "Sama seperti Sholat di rumah yah, Yah?"


"Dasar sholatnya sama, Mbak. Namun, sholat ini dilakukan khusus di Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Hikmah dan keutamaan salat Idul Fitri yang pertama yaitu sebagai rasa syukur atas kegembiraan dan kebahagiaan kaum muslimin dengan banyaknya kebaikan dan rahmat Allah SWT."


"Didi ikut ya, Yah?"


Pandu tersenyum. Sebab, sebenarnya Pandu sudah berniat untuk mengajak Indi menjalankan ibadah sholat di dekat rumah. "Tentu boleh saja, Mbak Didi. Besok sama Yayah dan Nda yah. Adik Irene dititipkan ke Bibi yang ada di rumahnya Eyang," balas Pandu.


"Ya, Yayah. Ajarin Didi yah, Yayah. Makasih Yayah," ucap Indi yang masih menggandeng tangan Yayahnya berjalan ke rumah.


Setibanya di rumah, Ervita membantu Indi membersihkan diri, kemudian menemani putri kecilnya itu tidur. Ervita mengusapi puncak kepala Indi dan masih berbicara dengan putri sulungnya.


"Nda, besok Didi ikut Sholat Ied yah," ucapnya.


"Iya, boleh, Mbak Didi. Oleh karena itu, Mbak Didi bobok dulu. Besok bangun pagi dan sholat berjamaah bersama-sama. Pandai ya, Mbak Didi. Semoga sampai besar nanti Allah tuntun Mbak Didi," balas Ervita.


Indi pun mengangguk-anggukan kepalanya. "Dibimbing Yayah dan Nda yah. Makasih Bunda. Selamat malam, Didi Sayang Nda."


Usai mengatakan semua itu, Indi pun terlelap. Dia segera tidur karena esok pagi sudah ingin melakukan Sholat Ied Berjemaah di dekat rumahnya. Ervita menunggu sampai Indi benar-benar tidur, setelahnya barulah menuju ke kamarnya menyusul suaminya.

__ADS_1


"Capek Mas?" tanya Ervita ketika masuk ke kamar dan melihat Pandu sudah rebahan di ranjang.


"Lumayan, Dinda. Cuma seneng banget ketika Indi semangat dan kayak gak ada lelahnya," balas Pandu.


"Mau aku buatkan minum dulu?" tawar Ervita kepada suaminya.


"Boleh, Nda. Air putih saja," pinta Pandu.


Oleh karena itu, Ervita kembali keluar kamar dan mengambilkan air putih untuk suaminya. Barulah Ervita kembali ke kamar dengan membawa segelas air putih.


"Silakan Mas Pandu," ucapnya.


"Makasih Dinda."


Pandu pun beringsut dan mulai meminum air putihnya. Kemudian menaruh gelas itu di samping nakas. Kemudian Ervita perlahan menaiki ranjang, duduk di sisi suaminya.


"Pasti, Dinda. Aku akan membimbing anak-anakku ke jalan yang benar. Kita dasari dengan baik, supaya bisa menjadi pegangan untuk Indi dan Irene saat dewasa nanti."


"Aku sering terharu, peran kamu sebagai Yayah untuk Indi itu sangat luar biasa. Hatiku sebagai Ibu kadang juga terharu dan menangis melihat kalian berdua," balas Ervita.


Pandu kemudian merangkul istrinya itu, membawa kepala istrinya untuk bersandar di dada bidangnya. Dagunya bergerak di atas puncak kepala Ervita. Pandu juga tahu hati Ervita yang sering sensitif dan terharu seperti ini.


"Jangan terharu. Aku kan hanya melakukan peran dan tanggung jawab sebagai seorang Yayah. Sama nanti aku memperlakukan Indi dan Irene. Sebagai mana janjiku bahwa aku tidak akan membeda-bedakan keduanya. Janji," balas Pandu.


Sudah pasti Ervita percaya. Dari sejak Irene lahir sampai sekarang juga kasih sayang dari suaminya untuk anak-anaknya itu sama besarnya. Tidak membedakan anak kandung dan anak sambung.


"Santai saja, Nda. Nanti kalau udah, kita bobok yah. Kita sholat berjamaah bersama-sama. Kita rayakan hari raya Idul Fitri dengan bersujud terlebih dahulu kepada Allah," balas Pandu.

__ADS_1


Akhirnya, Ervita dan Pandu sekarang sama-sama mengambil posisi untuk tidur. Wanita itu terlelap dalam dekapan suaminya. Sembari merasakan detak jantung sang suami yang seakan menjadi alunan tersendiri yang membuatnya mudah tertidur.


***


Keesokan Harinya ....


Pagi hari keluarga Pandu sudah bangun. Ada Bibi atau ART di rumah Bu Tari yang datang ke rumah untuk menjaga Irene. Sedangkan sekarang Pandu, Ervita, dan Indi berangkat ke tempat diberlangsungkannya sholat Idul Fitri di pelataran masjid yang ada di dekat rumahnya.


Tentu kaum pria dan wanita dibedakan duduknya. Akan tetapi, Pandu sengaja mengambil duduk tepat di garis batas antara jemaah pria dan wanita. Di belakangnya sudah ada Ervita dan Indi. Mereka bersama jemaah yang lain khusyuk mengikuti rakaat sholat Idul Fitri. Banyak bersyukur bisa melampaui satu bulan ibadah puasa dengan baik. Indi juga tenang ketika mengikuti shalat Berjemaah. Ketika pemuka agama memberikan siraman rohani juga Indi mendengarkannya dengan baik.


Setelah itu, Sholat Idul fitri ditutup dengan Halal Bihalal antar jamaah. Saling berjabat tangan dan bermaaf-maafan.


"Selamat Idul Fitri, Mas Pandu dan keluarga ...."


"Selamat Hari lebaran, Mas Pandu dan Mbak Ervi."


"Sugeng Riyadi (dalam bahasa Jawa digunakan untuk mengucapkan selamat hari raya)."


Sungguh luar biasa. Dengan tetangga yang tidak pernah melihat pun bisa melihat, menyapa, dan mengucapkan Idul Fitri. Benar-benar terasa kekerabatan dan kembali ke fitri.


***


Dear Pembaca Setia,


Saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga di hari yang Fitri, kita diampuni dosanya dan bisa mengampuni sesama kita. Kembali ke fitri dan selalu beroleh kemurahan dan perlindungan dari Allah.


Salam kasih,

__ADS_1


Kirana🙏


__ADS_2