
Akhir pekan ini diisi Ervita dengan mempersiapkan kamar bayi untuk bayi kecilnya nanti. Pandu pun dengan keahliannya di bidang interior sudah mendesain dengan sedemikian rupa untuk bayinya. Bahkan Pandu yang menggambar sendiri bagian dinding dengan gambar pelangi, notasi musik, hingga boneka. Ervita pun kagum dengan kemampuan suaminya itu.
"Kamu bisa menggambar ya Mas?" tanya Ervita mengamati suaminya yang mengaplikasikan kuas dan cat warna di dinding.
"Bisa, Nda ... walau tidak expert," balasnya.
"Sebagus ini kok ndak expert. Ini mah bagus banget Mas. Yang nulis aksara Jawa ini kamu juga Mas?" tanya Ervita lagi.
"Iya, aku bisa menulis dengan Aksara Jawa kok, Nda. Dulu kan waktu SMP pernah lomba Bahasa Jawa seprovinsi. Jadi suka saja dengan bahasa Jawa," balas Pandu.
Walau sudah mengenal lama, rupanya menarik juga melihat kemampuan lain suaminya. Bisa tahu ternyata suaminya itu mahir menggambar dan juga pernah mengikuti perlombaan Bahasa Jawa. Di kawasan Jogja dan Solo memang sering kali ada perlombaan Bahasa Jawa untuk anak-anak di jenjang sekolah SD, SMP, dan SMA. Lombanya pun beragam mulai dari Cerdas Tangkas, Geguritan atau Puisi dalam bahasa Jawa, menyanyikan lagu atau tembang Macapat, dan juga berpidato dalam bahasa Jawa yang disebut Sesorah.
"Pinter dong Mas ... keren," balas Ervita.
Pandu pun tersenyum perlahan. "Ya, biasa saja, Nda. Gak begitu pinter juga. Makanya dulu, kalau tidak diterima di Desain Interior, aku bakalan ambil Sastra Jawa di Sebelas Maret, Solo. Sapa tahu kan ketemu kamu," balasnya.
Sekadar bercanda. Pada kenyataannya usia Pandu enam tahun lebih tua di atas Ervita. Sehingga, tidak mungkin juga dirinya bertemu dengan Ervita di Sebelas Maret, Universitas Negeri di Kota Solo. Ketika Pandu kuliah, Ervita masih SMP.
"Aku masih kecil, Mas. Masih SMP, kan kamu sudah tua," balasnya.
"Tua darimana coba? Aku masih muda loh. Pria muda dengan pikiran dewasa," balas Pandu dengan terkekeh perlahan.
Mendengar ada suara tawa di sisi kamar Indi, kemudian Indi pun menyusul Ayah dan Bundanya. Menanyai apa yang sedang dilakukan Ayah dan Bundanya sekarang.
"Yayah dan Nda baru ngapain?" tanyanya.
__ADS_1
"Indi sudah bangun tidur?" balas Pandu dengan menoleh ke belakang, melihat kedatangan Indi.
"Sudah, dengar Yayah dan Nda ketawa," balasnya.
"Ini Ayah baru menggambar di kamarnya adik bayi nanti," balas Pandu.
Indi pun menengadahkan wajahnya dan mengamati gambaran dari Ayahnya itu. Indi pun seakan takjud dengan hasil lukisan tangan sang Ayah yang sangat bagus. Bahkan Indi serasa ingin digambarkan juga oleh Ayahnya.
"Bagus banget Yayah ... kamarnya Didi juga dong," pintanya.
Pandu pun menganggukkan kepalanya. "Boleh. Didi mau kamarnya digambarin apa emangnya?" tanya Pandu.
"Unicorn, Yayah. Bisa?" tanyanya dengan menatap sang Ayah yang masih melukis di tembok.
Memang Pandu tidak bisa langsung mengiyakan. Melukis ini pun hanya dia lakukan sewaktu libur di akhir pekan saja. Untuk itu, dia pun mengatakan kepada Indi bahwa hanya bisa melukis di akhir pekan nanti.
"Iya Yayah ... biar sama kayak Adik," balasnya.
Ervita tersenyum menatap Indi yang juga ingin seperti adik bayinya, memiliki kamar yang temboknya dilukis sendiri oleh Ayahnya. "Mbak Didi sudah siap memiliki adik kan?" tanya Ervita perlahan.
"Iya, Nda ... mau adik bayi kayak Mbak Lintang," jawabnya.
"Iya, nanti adik bayinya kayak Mas Langit itu," balas Ervita.
Indi pun menatap wajah Bundanya. "Kok manggilnya Mas, Nda? Kan lebih gede Didi. Langit kan masih bayi," balasnya.
__ADS_1
"Iya, walau usianya lebih gede Indi, tapi karena Langit anaknya Budhe Pertiwi dan Pakdhe Damar, jadi Indi manggilnya Mas yah. Mas Langit," balas Ervita.
Seakan memang begitulah tradisi di Jawa. Di mana bayi kecil pun jika terlahir dari saudara yang lebih tua akan dipanggil Mbak, Mas, atau Kakak. Ervita sebatas mengajari Indi berdasarkan dengan tradisi masyarakat Jawa pada umumnya.
"Adik bayinya nanti nangis kayak Mas Langit, Nda?" tanyanya.
"Iya, semua bayi juga menangis, Mbak Didi. Dulu waktu Mbak Didi masih bayi, juga menangis kayak Mas Langit," balas Ervita.
"Adik bayinya juga minum nen ASI kayak Mas Langit juga Nda?" tanya Indi lagi.
"Benar, Mbak Didi. Nanti minum ASI-nya Bunda. Biar adik bayinya sehat dan tumbuh kuat," balasnya.
Indi pun mengangguk-anggukkan kepalanya mendengarkan jawaban dari Bundanya. "Mbak Didi nanti adiknya disayang yah?" ucap Pandu sekarang yang melirik ke Indi.
"Iya, Yayah. Didi sayang adik kok," balasnya.
Rupanya Indi kecil pun mendekat ke Bundanya dan kemudian mengecup perut Bundanya yang membuncit.
Cup! Muah!
"Didi sayang Adik," ucapnya dengan memeluk Bundanya.
Ervita pun tersenyum dan mengusapi puncak kepada Indi yang dekat dengan perutnya yang membuncit. "Makasih Mbak Didi sudah sayang adik sejak adik di dalam kandungan. Saling sayang yah nanti," ucap Ervita. Rasanya begitu terharu ketika melihat seorang anak kecil menyatakan rasa sayangnya kepada adiknya.
"Iya Nda," balas Indi dengan kian memeluk Bundanya.
__ADS_1