
Selang beberapa hari berlalu, agaknya malam ini Ervita benar-benar tidak bisa tidur dengan nyenyak itu juga karena Irene berkali-kali terbangun dan menangis. Sebagai ibu, Ervita pun melihat apakah mungkin diapersnya penuh, atau tidak nyaman dengan pakaian yang dia pakai, sehingga Ervita meneliti satu per satu. Irene hanya bisa diam jika bersentuhan dengan Ervita dan meminum ASI.
Pandu pun malam itu ikut terjaga. Nemenin Ervita yang begadang.
"Tumben sih, Nda ... Irene tantrum kayak gini?" tanya Pandu.
Ervita pun menganggukkan kepalanya. "Iya, Mas. Aku juga bingung, sejak tadi, dia gak mau bobok dengan nyenyak," balas Ervita.
"Digantiin bajunya dengan yang baru dan bersih. Mungkin dia tidak nyaman dengan bajunya, Nda. Atau bagian mana yang kena gumoh-nya baby. Biar nyaman aja," ucap Pandu.
Mengikuti saran dari suaminya, Ervita pun mengganti semua pakaian baby yang dikenakan oleh Irene. Berharap, setelah pakaian yang dia kenakan lebih nyaman, Irene bisa tidur dengan nyenyak. Ervita juga mengucapkan minyak telon ke tubuh Irene supaya hangat.
"Nah, udah ganti semua. Sebentar ya, Sayang. Bunda bawa pakaian kotor kamu dulu yah," ucap Ervita.
Akan tetapi, Pandu segera mencegahnya. Pria itu sendiri yang berdiri dan menaruh pakaian kotor milik Irene ke tempat cucian. Sehingga Ervita tidak perlu duduk dan berdiri. Lebih Pandu yang berdiri terlebih dahulu. Kemudian dia kembali ke kamar.
Di saat bayinya sedang tantrum seperti ini, yang ada dipikiran Pandu justru kasihan dengan Ervita. Walau Ervita tidak mengeluh, tapi terlihat juga sekarang Ervita pun mengantuk. Untuk itu, Pandu turut terjaga dan menemani istrinya itu.
"Sini, Baby Irene ikut Yayah dulu," ucap Pandu.
Ervita pun menyerahkan Baby Irene ke dalam gendongan Ayahnya. Sementara Ervita memilih minum sebentar dan menguncir rambutnya. Terlihat Pandu yang menggendong Irene dan mencoba untuk menenangkan putrinya itu.
"Cup Sayang ... kok Irene nangis. Kenapa, Nak? Kalau sudah bobok yuk, kasihan Bunda yang capek dan mengantuk juga, Nak," ucap Pandu.
Ervita pun tersenyum. Dulu, kala begadang seperti ini, dia hanya melakukan seorang diri. Menggendong Indi dulu sembari mondar-mandir ke kanan dan ke kiri. Sembari sesekali melantunkan lagu anak-anak saja. Jika, sudah kecapekan dan mengantuk, Ervita tidur dalam keadaan sumber ASInya belum dimasukkan lagi.
"Enggak apa-apa, Mas. Terkadang bayi memang seperti itu kok. Mungkin beratnya akan bertambah besar. Jadi, wajar saja bayi terkadang rewel di tengah malam seperti ini."
__ADS_1
Ervita hanya berusaha membagikan pengalamannya dulu dengan suaminya, bahwa bayi memang terbiasa tantrum tengah malam seperti ini. Dia hanya mengingat saja bahwa dulu ketika Indi masih bayi juga pernah mengalami fase seperti ini.
"Terus nanti diamnya gimana, Sayang?" tanya Pandu.
"Sabar saja, Mas. Kalau nanti kita ikut bingung, bayinya malahan nanti ikut bingung dan menjadi tambah tantrum. Jadi, gak apa-apa. Mas Pandu kalau mau bobok, enggak apa-apa. Soalnya besok kan Mas masih mau bekerja," ucap Ervita.
Sebenarnya, memang esok Pandu masih harus bekerja, sehingga tidak masalah jika Pandu tidak menemaninya. Walau ditemani itu menyenangkan, tapi juga Ervita merasa tidak boleh egois.
"Sini, aku kasih ASI saja, Mas. Sapa tahu sehabis ini Irene mau bobok," balasnya.
Pandu kemudian menyerahkan Irene ke gendongan Bundanya. Dia masih menunggu ketika Ervita memberikan ASI untuk bayinya. Mengamati istrinya yang seakan terlihat tidak kelelahan, walau sebenarnya Pandu sangat tahu bahwa Ervita pun sekarang begitu kelelahan.
"Kalau capek bilang loh, Dinda. Aku tahu kamu pun juga capek. Irene ini cewek kok minumnya ASI kuat banget sih, suaranya meneguk ASI sampai kedengeran," ucap Pandu.
"Indi dulu waktu masih bayi juga seperti ini kok, Mas. Banyak minum ASI-nya. Makanya dulu itu, aku setiap kali habis memberikan ASI untuk Indi rasanya haus dan lapar. Kadang sambil memberikan ASI, aku minum air putih dingin dari kulkas," ucapnya.
"Iya, Mas. Habis haus banget," balas Ervita.
Sudah setengah jam berlalu, akhirnya Irene mau tidur. Untuk itu, dengan begitu pelan Ervita menidurkan Irene kembali di dalam box bayi. Kemudian dia mengajak suaminya untuk tidur.
"Sudah dini hari, Mas ... bobok yuk," ajaknya.
Pandu kemudian menganggukkan kepalanya. Pria itu segera menelisipkan tangannya di bawah kepala Ervita dan memeluk istrinya itu.
"Kamu juga bobok, Dinda. Istirahat. Besok pagi sudah harus bangun pagi. Dulu, aku begadang untuk kerja, membuat desain. Sekarang, begadang untuk menjaga baby. Rasanya luar biasa."
"Berat mana, Mas?" tanya Ervita.
__ADS_1
"Heheheh ... lebih berat menjaga bayi, Nda. Lebih mengantuk. Cuma ya enggak apa-apa. Dinikmati aja," balas Pandu.
Ervita pun tersenyum. "Dinikmati ya Mas ... nanti kalau Irene makin besar, makin tahu pola yang rutin. Makin tahu siang dan malam. Kayak Indi dulu, yang penting kita sabar aja," balas Ervita.
"Pastilah Dinda, aku akan menikmati waktu ini. Aku akan turut membersamai tumbuh kembangnya Irene dan juga Indi."
Rasanya hari sudah semakin larut, dan Ervita pun mengantuk. Sehingga, dia dengan cepatnya terlelap. Semoga saja, Irene bisa tidur dengan nyenyak dulu, karena kalau seorang ibu kurang tidur karena usai begadang rasanya juga pusing.
Akhirnya Pandu dan Ervita sama-sama terlelap. Lelah juga ketika tengah malam begadang. Malam. membuainya dalam mimpi. Hingga pagi menyapa, Ervita segera banyak dan kemudian melihat anak-anaknya. Irene masih terlelap. Sementara Indi juga masih tidur.
Sehingga Ervita segera bangun dan menyeduh Teh terlebih dahulu. Sebenarnya, Ervita masih sedikit mengantuk, tapi kewajiban seorang ibu rumah tangga adalah bangun pagi dan segera membersihkan rumahnya. Menyiapkan sarapan, dan juga memandikan anak-anaknya ketika mereka bangun nanti.
"Nda, kok sudah bangun?" tanya Pandu.
Rupanya Pandu sendiri juga tipe pria yang ketika istrinya bangun, juga ikut terbangun. Tidak nyaman ketika mendapati sisi ranjangnya kosong.
"Sudah, Mas. Siapin sarapan dulu buat Mas," balas Ervita.
Baru beberapa menit dan terdengar tangisan dari kamarnya. Sehingga Pandu kembali berlari ke kamarnya. Melihat putrinya yang terbangun.
"Putrinya Yayah sudah bangun. Sini, gendong Yayah dulu yah. Bunda baru di dapur," ucap Pandu.
Tidak berselang lama, giliran Indi yang terbangun dan mulai memeluk kaki Ayahnya. "Pagi Yayah," sapanya.
"Pagi, Mbak Didi ... sudah bangun?" tanyanya.
"Iya, sudah Yayah, waktu adik menangis tadi, Indi bangun kok," jawabnya.
__ADS_1
Pandu tersenyum, ada kalanya tangisan seorang bayi menjadi alarm di rumah yang bisa membangunkan seluruh anggota keluarga. Sama seperti Indi yang terbangun karena adiknya menangis. Namun, pagi seperti ini rasanya sangat menyenangkan dan sangat hangat untuk Pandu. Pagi yang dia sambut bersama keluarga kecilnya.