Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Waktu yang Berlalu


__ADS_3

Dua Tahun Kemudian ….


Tidak terasa putaran waktu kian melaju dengan cepat. Bayi kecil yang bernama Indira itu kini sudah berusia 2 tahun. Kali ini, Ervita merayakan ulang tahun Indira bersama keluarga Hadinata tentunya, yang kebetulan saat itu putri sulung keluarga Hadinata yaitu Pertiwi juga datang dari Lampung dengan putrinya, Lintang. Sehingga dengan berkumpulnya keluarga Hadinata, Ervita berinisiatif merayakan ulang tahun untuk Indira.


Di Pendopo yang terdapat bangunan Joglo itu, seluruh keluarga Hadinata berkumpul dan menyanyikan lagu ulang tahun untuk Indira. Sementara Ervita yang memangku Indira meniup kue ulang tahun dengan bentuk Little Pony kesukaan si kecil Indira.


"Selamat ulang tahun Putrinya Bunda ...."


Ervita mengucapkan selamat ulang tahun dengan mencium pipi putrinya itu.


Diikuti Bu Tari, Pak Hadinata, Mbak Pertiwi, Lintang, dan juga Pandu yang memberikan ucapan selamat ulang tahun untuk Indira. Terlihat Indira kecil pun begitu bahagia.


"Terima kasih banyak Bapak dan Ibu, Mbak Pertiwi dan Mas Pandu, sudah dibolehin merayakan ulang tahun Indi di sini," ucap Ervita.


"Sama-sama. Indi juga sudah kayak cucu sendiri. Tidak apa-apa," balas Bu Tari.


Usai itu, kue pun dipotong dan dimakan bersama-sama. Terlihat Indira yang bermain bersama Lintang. Rupanya Indira dan Lintang yang hanya berselisih usia 1 tahun itu sama-sama menyukai Little Pony sehingga keduanya begitu klop bermain boneka Little Pony bersama.


"Lintang juga suka Little Pony ya Mbak?" tanya Ervita kepada Pertiwi yang duduk bersamanya melantai di Pendopo itu.


"Iya, suka banget ... Indi juga yah?" tanya Pertiwi.


"Iya, suka ... paling suka sama Twilight yang ungu," balas Ervita.


"Oh, kalau Lintang yang Pinky Pie, yang pink," balas Lintang.


"Kalau sudah jadi Ibu itu yang dibahas mainan anak ya Mbak ... sampai karakternya saja hafal," balas Ervita lagi.

__ADS_1


"Benar banget ... pembicaraannya berbeda ya," balas Pertiwi dengan tertawa.


Sebenarnya Pertiwi cukup tahu dengan kabar Ervita sejak wanita itu tinggal di rumah orang tuanya. Hanya saja, Pertiwi pun adalah orang yang baik dan juga tidak masalah jika orang tuanya membantu Ervita. Justru Pertiwi merasa kasihan juga ada wanita yang masih muda, tetapi sudah menjadi Single Mommy dan merasakan berbagai kepahitan hidup. Namun, untuk bertemu langsung baru kali ini Pertiwi bisa bertatap muka dengan Ervita.


"Kamu aslinya dari mana Vi?" tanya Pertiwi yang memanggil Ervita langsung dengan namanya saja, karena Pertiwi memang lebih dewasa dan usianya ada di atas Ervita.


"Dari Solo, Mbak ... dekat Mbak. Hanya saja memang begini keadaannya Mbak. Hehehe, pasti Ibu banyak bercerita kan Mbak?"


Pertiwi pun menganggukkan kepalanya, "Iya, Ibu sering bercerita. Enggak apa-apa, Vita ... kan Tuhan itu menggariskan takdir di dalam hidup kita itu berbeda-beda satu dengan yang lain. Hanya saja kamu kan kuat dan bisa menjalani semua ini."


Ervita tersenyum. Ya, dia sepenuhnya percaya dengan garis takdir yang memang sudah Tuhan gariskan dalam hidupnya. Hanya saja, Ervita hanya sebatas berusaha untuk bertahan.


"Eh, Indi sudah lepas ASI juga berarti?" tanya Pertiwi kepada Ervita.


"Rencananya hari ini Mbak ... semalam aku coba, tapi rewel banget. Begitu aku kasih malahan punyaku digigit sampai aku mau jerit, tapi juga malu kok malam-malam menjerit. Ya ampun, kayak digigit piranha," balas Ervita.


"Lecet enggak?" tanya Pertiwi lagi.


"Enggak tahu Mbak ... tadi pagi masih kayak perih-perih gitu," balas Ervita.


Pertiwi sedikit tertawa, "Nanti kalau kasih ASI, kamu keluarkan beberapa tetes di ujungnya, terus kamu oleskan ke yang sakit itu. Aku biasanya gitu, dan nanti perihnya berkurang. Sama ini aku kasih ini, kayak pelembab gitu, jadi biar enggak perih. Cuma memakai ini kayaknya kalau sudah lepas ASI, takut kemakan sama si Indi kan," ucap Pertiwi dengan menyerahkan pelembab kecil berwarna pink untuk Ervita.


"Makasih Mbak Pertiwi ... malahan merepotkan sampai aku di kasih kayak ginian," balas Ervita.


Sebenarnya juga Ervita merasa tidak enak. Hidupnya selama dua tahun ini hanya karena belas kasih dari keluarga Hadinata. Walau Ervita turut bekerja dan mengelola bisnis batik, tetapi Ervita sadar bahwa banyak yang sudah keluarga Hadinata berikan kepadanya. Sementara Ervita sendiri belum bisa membalas kebaikan keluarga Hadinata kepadanya.


Ervita dan Pertiwi yang sedang mengobrol, akhirnya didatangi oleh Bu Tari dan juga Pandu di sana. Bergabung dengan dua ibu-ibu yang sedang mengobrol itu.

__ADS_1


"Besok Papanya Lintang datang dari Lampung kan?" tanya Bu Tari kepada Pertiwi.


"Iya Bu ... besok Papanya Lintang datang dari Lampung. Kamu yang jemput ya Pandu?"


Pertiwi menatap ke adiknya yang memang bawaannya kalem dan tenang serta irit berbicara itu.


"Jam berapa Mbak?" tanya Pandu.


"Agak siang kok. Sekarang bandaranya pindah yah ... malahan tambah jauh ke Kulon Progo. Dari rumah jam 10an aja mungkin. Bisa kan?" tanya Pertiwi kepada adiknya.


"Iya, bisa ... cuma sore Pandu ada kerjaan mau ketemu klien yang minta untuk didesainkan rukonya," balasnya.


"Aman lah ... sudah di rumah kalau sore. Aku dan Lintang ikut ya Pandu. Sekalian jalan-jalan udah lama enggak muterin Jogja," balas Pertiwi dengan tertawa.


"Alah, Mbak ini modus," balas Pandu dengan melirik ke Kakaknya yang hanya selisih usia 2 tahun darinya itu.


Bu Tari tertawa, dua anaknya jika sudah bertemu juga pasti seperti itu. Kadang rasanya kangen dengan anak-anak di rumah dengan obrolan mereka, dengan jahilnya mereka. Akan tetapi, anaknya sudah dewasa bahkan Pertiwi juga sudah tinggal bersama suaminya di Lampung, sehingga rumah besar yang dimiliki Bu Tari pun terkadang terasa sepi.


"Mau ikut enggak Vi?"


Pandu menatap sejenak kepada Ervita dan menawarkan untuk ikut ke bandara sekalian. Sapa tahu bisa melihat jalanan sebentar dan juga menghilangkan stress mengasuh anak sendirian dan bekerja keras banting tulang.


Ervita menggelengkan kepalanya, "Enggak Mas Pandu ... di rumah saja. Lagian mau mulai lepas ASI. Jadi, pasti besok hectic sama Indi," balas Ervita.


Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Oh, sudah dua tahun yah? Jadi mulai lepas ASI indi-nya?"


"Iya Mas ... semoga gak butuh waktu lama dan Indi sudah bisa minum Susu Formula nanti," balasnya.

__ADS_1


Memang Ervita tidak langsung memberikan Indira air putih, dia tetap akan memberikan susu untuk menunjang tumbuh kembang Indira. Terbiasa dengan ASI dan kemudian diganti dengan Susu Formula tentu membutuhkan waktu adaptasi juga untuk Indira.


__ADS_2