Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Latihan Menjadi Ayah


__ADS_3

Pandu kali ini mengajak Ervita dan Indi ke salah satu tempat makan yang ada di Mall itu. Pandu pun juga bertanya makanan apa yang ingin dimakan Ervita siang ini? Bukankah begitu terlihat bahwa Pandu adalah sosok yang perhatian dan juga ingin memberikan kesempatan kepada Ervita untuk bisa memilih apa yang dia mau.


"Kamu mau makan apa Vi?" tanya Pandu kemudian.


"Terserah Mas Pandu saja," balas Ervita.


Pandu pun melirik pada wanita yang berjalan di sampingnya, "Jangan hanya terserah, Vi ... kamu mengutarakan apa yang kamu mau juga tidak masalah. Aku justru senang jika kamu bisa jujur mengatakan apa yang kamu sukai," balas Pandu.


Memang begitulah Pandu, dia tidak suka jika suatu hubungan hanya berdasar dengan apa yang dia mau. Hubungan itu adalah dua arah. Dia dan pasangannya. Oleh karena itu, Pandu juga tidak keberatan jika Ervita membuat pilihan.


"Serius, aku terserah Mas Pandu saja," balasnya.


Pandu pun tersenyum, "Baiklah ... kali ini aku yang memilih, lain kali kamu yah yang memilih," balasnya.


Ervita pun menganggukkan kepalanya, dia kemudian mengikuti Pandu masuk ke salah satu restoran yang ada di dalam Mall itu. 


"Pilihkan untuk Indi, Vi," ucap Pandu dengan menyodorkan buku menu kepada Ervita.


Setelah melihat-lihat buku menu, Ervita pun memilih Bakso dan nasi putih untuk Indi. "Indi, Bakso dan Nasi putih saja Mas ... yang berkuah, dia suka kok," balasnya.


"Kamu makan apa?" tanya Pandu lagi.


"Aku berbagi sama Indi saja," balas Ervita.


Pandu dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Pesan sendiri, Vi ... tidak apa-apa. Pesan yah, kali ini jangan menolak," balas Pandu.


Akhirnya Ervita menghela nafas dan memesan Nasi Goreng saja. Sebab, Ervita sendiri tidak yakin apakah yang pesan juga akan habis. Sementara Pandu memilih untuk memesan Bakmi Goreng Seafood.


Indira sendiri sudah duduk di baby chair dan tampak asyik dengan buku dari kain flanel yang memang dibawakan Ervita dari rumah. Buku kesukaan Indira yang berisikan hewan-hewan laut itu.


"Ngajak kamu dan Indi kayak gini, aku sekalian latihan menjadi Ayah yang baik, Vi," ucap Pandu dengan tiba-tiba.


Sungguh, rasanya Ervita begitu tertegun. Mengapa Pandu seolah berusaha untuk bisa menjadi Ayah untuk Indira. Padahal sebenarnya tidak ada hubungan darah di antara keduanya.

__ADS_1


"Mas Pandu sudah melakukan yang terbaik kok," balas Ervita.


Pandu rupanya menggelengkan kepalanya, "Belum juga, Vi ... aku menikahi kamu dan aku akan menjadi Ayah untuk Indi. Jadi, aku akan belajar untuk menjadi Ayah yang baik untuk anakku," balasnya.


Lagi-lagi Ervita dibuat terharu dengan karakter Pandu. Seorang pemuda yang berpikiran jauh ke depan dan begitu bijak. Sungguh, mungkin Ervita baru kali ini menemui sosok laki-laki yang benar-benar baik.


"Makasih Mas Pandu ... Indi yang yatim sejak di dalam kandungan, tidak memiliki ayah, bahkan nasabnya pun ikut ke nasab ibunya, tetapi Mas Pandu memberinya kesempatan merasakan kasih sayang seorang Ayah," ucap Ervita.


Sekadar mengatakan itu saja, kedua mata Ervita sudah berkaca-kaca di sana. Memang karakter Ervita begitu melancholis, mudah menangis dan terharu. Akan tetapi, ketika ada orang yang tulus dan menyentuh hatinya, rasanya air mata bisa turun begitu saja.


"Jangan menangis loh ... tidak apa-apa. Aku sayang kalian berdua kok," aku Pandu dengan jujur.


Ervita pun menunduk dan menyeka terlebih dahulu butiran bening di sudut matanya, sebelum air mata itu jatuh. Hingga akhirnya pelayan menyajikan hidangan mereka, dan Ervita menyuapi Indira terlebih dahulu.


"Sambil makan ya Indi ... yuk, Bunda suapin yuk," ucapnya.


"Aco ... aco ... (Bakso ... Bakso)," ucapnya yang ingin memakan Bakso.


Ervita pun memotong bulatan bakso itu dalam potongan yang kecil-kecil dan mulai menyuapi Indira dengan nasi putih juga. Pandu tampak mengamati Ervita yang tengah menyuapi Indira. 


"Eh, Mas ... Mas Pandu makan saja," balasnya.


"Enggak apa-apa. Kan belajar menjadi Ayah. Nanti kalau sudah menikah, ajarin yang lain ya, Vi ... biar makin baik dan lulus menjadi Ayah untuk Indi," balas Pandu lagi.


Hingga akhirnya Pandu pun menyuapi Indira di sana. Bahkan keduanya bergantian untuk menyuapi Indira, kadang juga Pandu tersenyum kala Ervita sedikit bernyanyi lirih lagu-lagu anak-anak supaya Indira mau untuk makan.


"Kamu tidak makan?" tanya Pandu kemudian.


"Sebentar Mas ... mumpung Indi baru lahap," balas Ervita.


Pandu pun menganggukkan kepalanya, rupanya dengan melihat dari dekat seperti ini, Pandu bisa menerka keseharian Ervita dan Indira kurang lebih seperti ini. Seorang Ibu yang mendahulukan untuk mengisi perut anaknya terlebih dahulu, memastikan anaknya makan dengan kenyang, barulah seorang Ibu mengisi perutnya.


"Suka Udang, Vi?" tanya Pandu kemudian.

__ADS_1


"Lumayan, Mas ... walau dulu di Solo makannya Udang air tawar, bukan Udang dari Laut," balasnya.


Pandu pun mengambil beberapa Udang dari piringnya dan menaruh ke atas piring Ervita. "Udangnya buat kamu saja," ucap Pandu kemudian.


Akhirnya setelah Indira kenyang, barulah Ervita mulai memakan Nasi Goreng miliknya walau sudah setengah dingin. Namun, tidak masalah, toh Nasi Goreng dari restoran tersebut menang begitu enak.


"Kapan-kapan kita jalan-jalan lagi ya, Vi ... di Jogja ini, kemana yang ingin kamu datangi?" tanya Pandu kemudian.


"Binatang ... binatang," ucap Indira.


"Kamu mau ke Kebun Binatang ya Indi?" tanya Pandu dengan menatap Indi.


"Ya, au," balasnya.


Pandu kemudian kembali tersenyum, "Sabtu nanti ya Vi ... ke Kebun Binatang," ajaknya kali ini.


"Mas, tidak usah ... justru merepotkan Mas Pandu. Aku justru menjadi tidak enak," balasnya dengan jujur.


Pandu pun menggelengkan kepalanya, "Tidak apa-apa. Sekalian pendekatan dan supaya kita lebih mengenal satu sama lain," balas Pandu.


Yang diinginkan Pandu adalah bisa kian mengenal Ervita dan juga Indira. Dia masih harus memantaskan dirinya agar bisa layak untuk Ervita dan anaknya. Pacaran membawa anak pun tidak masalah untuk Pandu, karena memang hatinya begitu tulus untuk Ervita dan juga putri kecilnya itu. 


"Padahal sudah kenal lama," sahut Ervita sembari memakan Nasi Gorengnya.


"Ya, cuma tidak banyak yang kita tahu satu sama lain. Bisa dikatakan baru kali ini kan, kita sama-sama kenal dan berbagi cerita. Sebelumnya belum pernah," sahut Pandu.


Ervita pun menganggukkan kepalanya, "Aku terlalu sungkan sama Mas Pandu," balasnya.


"Sungkan kenapa? Biasa saja, Vi ...."


"Ya, sungkan saja kok, Mas ... makanya aku juga bingung pemuda seperti Mas Pandu kok mau sama Ervi yang cuma kayak gini," balasnya dengan menghela nafas.


Lagi-lagi Pandu tersenyum, "Kamu itu baik, Vi ... kamu menjadi Ibu yang selalu berjuang untuk Indira. Nilai yang kamu miliki itu begitu luar biasa."

__ADS_1


Itulah penilaian seorang Pandu, seorang pemuda yang bisa melihat bagaimana Ervita menjadi seorang Ibu tunggal untuk putrinya. Selalu mengusahakan yang terbaik untuk putrinya, dan juga selalu kuat, walau Pandu sangat tahu dalam kesehariannya sering kali Ervita merasa rapuh. Sikap yang mau bangkit dari keterpurukan itulah yang membuat Pandu mengagumi Ervita. 


__ADS_2