Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Malam Terakhir di Kota Pahlawan


__ADS_3

Sebelumnya Pandu mengakui bahwa ketika dia bersama dengan Ervita, rasanya Pandu menjadi orang yang kehilangan kewarasannya. Bahkan seakan tidak jemu-jemu untuk menyusuri perjalanan dari lembah menuju ke puncak yang bernama Swargaloka. Justru, Pandu merasa menjadi pria paling bahagia di dunia karena dia mengarungi pusara cinta itu hanya bersama wanita yang halal baginya.


"Kamu tidak pernah bosen ya Mas?" tanya Ervita dengan melirik suaminya itu.


Pandu menggelengkan kepalanya dan menaruh kepalanya di bahu istrinya itu, "Mana bosen Yang ... setiap hari juga aku mau. Bukti nyata, Dinda ... yang aku sentuh cuma kamu. Yang aku inginkan cuma kamu. Walau terasa aneh untuk orang lain yah? Dikira aku pria belok kali ya Nda."


Pandu tertawa, begitu pula dengan Ervita yang turut tertawa. Memang ada kalanya pria yang menjaga kehormatan wanita dengan tidak menyentuhnya dikira belok dan tidak normal. Hasratnya pun diragukan. Sama seperti yang dihadapi Pandu. Sehingga melihat Pandu bisa menikah dan melakukan kontak fisik dengan wanita dikira aneh dan sebuah pemandangan yang langka.


"Aku minta satu hal bisa Mas?" tanya Ervita kepada suaminya itu.


"Hmm, apa Nda? Kalau aku bisa sudah pasti akan aku berikan untuk kamu," balas Pandu.


Ervita beringsut untuk bisa menatap wajah suaminya itu. "Jangan pernah menyentuh wanita lain ya Mas ... bisa? Aku enggak mau kamu menyentuh wanita lain. Aku terdengar serakah yah, cuma aku merasa kamu perlakukan dengan sangat terhormat dan aku mau memiliki kamu untuk diriku sendiri," ucap Ervita dengan sungguh-sungguh.


Pandu mengulas senyuman di wajahnya dan menganggukkan kepalanya perlahan, "Pasti Dinda ... cuma kamu saja yang aku sentuh. Cuma, kalau hari-hari kamu berhalangan karena palang merah, aku tidak akan menyentuh kamu. Hari di mana kamu kecapekan, aku juga tidak akan menyentuh kamu. Santai saja, aku pasti tidak akan main-main di luar sana," balas Pandu.


"Janji ya Mas ... aku pegang ucapannya Mas Pandu yah," balas Ervita.


Pandu menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya, janji. Cuma, malam ini relaksasi bersama yuk Sayang ... sebelum besok kembali ke Jogjakarta," balas Pandu.


Ervita mencubit pinggang suaminya itu, selalu saja memberikan kode keras kepadanya. Terlihat benar bahwa bersama dengan Ervita, ada sisi-sisi lain dan terlihat istimewa yang hanya Pandu tunjukkan kepada Ervita.


"Mau gelap atau terang, basah atau kering, aku mau-mau saja sih ... tidak usah mengejar target saja Nda ... menikmati saja. Nothing to lose gitu saja. Kalau sudah saatnya diberi keturunan, nanti pasti Allah akan berikan kepada kita kok," balas Pandu.


Ervita tersenyum di sana, "Aku juga mikirnya gitu Mas ... terlalu kejar target juga kepayahan jadinya. Jadinya, ya sudah ... sedikasihnya saja, yang penting kita kan juga berusaha," balas Ervita.


"Iya, benar ... yuk Dindaku ... Swargaloka yang penuh cahaya sudah menanti kita," balas Pandu dengan menggerakkan satu alisnya sudah tidak bisa hasrat yang sudah mendidih rasanya.


Tidak menunggu waktu lama, Pandu berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Ervita. "Pilihlah Dinda ... kamar mandi atau ranjang?"


Ervita tampak bingung menentukan pilihan, tetapi, dia agaknya harus membuat pilihan malam ini. Hingga akhirnya, Ervita memberikan jawabannya.


"Kamar mandi," balasnya.


Pandu tersenyum di sana, "Oke, deal ... yuk, Dinda," ajaknya dengan begitu bersemangat.

__ADS_1


Begitu sudah sampai di dalam kamar mandi, Pandu segera mengangkat pinggang Ervita dengan kedua tangannya dan mendudukkannya di dekat meja wastafel. Pria itu tersenyum dan menempatkan kedua tangan Ervita untuk melingkari lehernya, sementara Pandu sendiri melingkari pinggang ramping Ervita di sana.


"Selamanya, aku hanya akan menyentuh kamu, Dinda," ucap Pandu dengan mendekat dan mengikis jarak wajahnya. Dua mata yang saling pandang akhirnya sama-sama terpejam dan sapuan nafas yang hangat membelai sisi wajah keduanya masing-masing. Kian dekat wajah Pandu mendekat, kian cepat detak jantung Ervita yang berpacu. Hatinya berdesir kala mendapati permukaan bibir yang kenyal dan hangat itu sudah mendarat dengan sempurna di bibirnya.


Satu kecupan, dan Ervita membalasnya dengan satu kecupan pula.


Dua kecupan, dan Ervita juga membalas dengan dua kecupan.


Ketika Pandu memagut, Ervita turut memagut. Ketika Pandu mengulum bibir itu dan mengusapnya perlahan dengan ujung lidahnya, terlihat pergerakan bahu Ervita yang samar dan dua bibir yang saling bersambut. Keduanya sama-sama saling mengulum dengan lembut, menghisap, membelai dengan lidah mereka masing-masing, bahkan tangan Pandu pun bergerak dan menahan tengkuk Ervita di sana.


"Hh!"


Ada erangan yang lolos dari bibir Pandu mana kala dia merasakan tekanan yang lembut kala kedua bibir beradu. Sungguh indah, sajian pembuka yang membuat keduanya menahan nafas begitu dalam, tangan Ervita yang perlahan memberikan remasan di rambut suaminya. Pergerakan wajah yang kadang bergerak ke kanan dan kiri, untuk mencapai posisi yang terbaik dan bisa menjangkau seluruh permukaan bibir dengan sempurna.


Perlahan-lahan, tangan Pandu pun turun dan mulai meraba paha bagian dalam milik Ervita. Merabanya perlahan. Ervita memekik, merasakan tangan suaminya yang memberikan elusan di sana. Kian memekik, kala tangan itu dengan sengaja membelai cawan surgawi dari luar kain segitiga berenda yang dia kenakan.


"Mas Pandu," lenguh Ervita dengan kian memejamkan matanya rapat-rapat.


Namun, Pandu hanya sekadar menggoda. Pria itu menarik kembali tangannya, dan menarik kaos yang dikenakan Ervi, membuatnya terlihat indah dengan kain berenda berwarna pink yang begitu lembut. Bagian resleting dari rok yang dikenakan Ervita pun telah lepas dan merosot begitu saja ke lantai.


Menurut, Ervita pun memegangi tepian kaos yang dikenakan Pandu dan menariknya ke atas, membuat suaminya itu shirtless, tetapi penampilan seperti ini yang sesungguhnya Ervita tunggu-tunggu. Pun Pandu yang melepas celana yang dia kenakan, pria itu tersenyum.


"Semua yang ada di aku, milik kamu ... begitu juga denganmu, aku menuntut, semua yang ada di kamu, adalah milikku," ucap Pandu dengan menarik pengait yang ada di balik punggung Ervita membuat kain berwarna pink itu terlepas dan menunjukkan buah persik dengan bulatannya yang begitu indah. Masih ada jejak-jejak warna merah di sana, tetapi Pandu justru kian bersemangat untuk membuat tanda cinta di tubuh istrinya. Pandu mendekat dan mulai meremas kedua buah persik itu dengan kedua tangannya, Ervita menahan nafas dan mulai menggigit bibirnya sendiri.


"Mas Pandu ... Mas," lenguhan Ervita merasa sengatan yang dahsyat jari-jari Pandu memilin puncak buah persiknya bersamaan.


De-sahan Ervita justru kian melecut Pandu untuk berbuat lebih. Pria itu menenggelamkan satu buah persik itu ke dalam rongga mulutnya yang hangat. Mengulumnya, menghisapnya, dan mengigit kecil puncaknya. Ervita meremas rambut Pandu di sana, dan kian menenggelamkan wajah suaminya di sana.


"Oh, Mas ... Mas."


Tidak tinggal diam, Pandu membawa kedua jari menyapa lembah di sana, menggeseknya dalam gerakan naik dan turun. Mengusapnya perlahan, hingga Ervita kian menggeliat, dan menelungkungkan punggungnya. Bukan hanya Pandu yang gila, dia pun kehilangan kendali atas tubuhnya mana kala Pandu menyentuhnya, membawanya menuju taman surgawi yang indah.


"Pegang Nda," instruksi Pandu yang membawa tangan Ervita untuk memegangi pusaka Lingga yang sudah tegak berdiri.


"Mas ... aku mau," pinta Ervita dengan terengah-engah.

__ADS_1


"Hmm, mau apa?" tanya Pandu dengan menggoda istrinya itu.


Ervita menggigit bibirnya dan tidak bisa memberikan jawaban kepada suaminya itu. Pandu tersenyum, "Belum saatnya Nda," ucapnya.


Lantas dia menikmati remasan demi remasan tangan Ervita di pusakanya. Hingga Pandu menengadahkan wajahnya dan melenguh beberapa kali. Racauan pun muncul dari bibir pria itu. Sensasi luar biasa dari pergerakan naik turun tangan sang istri di pusaka Lingga miliknya.


Kemudian, Pandu menarik pinggang Ervita membuat tubuh keduanya menempel dengan posisi Ervita masih duduk membelakangai cermin besar yang ada di dalam kamar mandi. Lantas, dengan satu hentakan, Pandu memasuki inti sari tubuh Ervita. Menyatukan Lingga ke dalam Yoni. Perlahan-lahan pria itu menggerakkan pinggangnya dan memberikan hujaman demi hujaman.


Oh, ini adalah rasa yang indah ... sangat indah. Kedua kaki Ervita pun refleks dan melingkari tubuh suaminya, dengan tangan yang memeluk tubuh suaminya yang begitu liat dan padat.


"Nikmat Dinda ... oh, Din ... da," racauan Pandu mana kala dia menghujam kian dalam.


Kian Pandu mengerahkan semua kekuatan ke tangannya dan perlahan dia mengangkat tubuh Ervita tanpa melepas penyatuan mereka. Ervita sedikit berteriak mana kala kaki Pandu bergerak, melangkah, dan kemudian Pandu menjatuhkan tubuh mereka berdua ke atas ranjang tempat tidur mereka. Tidak banyak bicara, Pandu melepaskan pusakanya perlahan dan kemudian membuka paha Ervita, kembali dia menggoda bibir cawan surgawi itu dengan ujung pusaka Lingga yang tumpul miliknya. Des-sahan Ervita membuat Pandu begitu bersemangat, dan dia kembali menghentak dalam hentakan yang kuat.


"Astaga, Mas!"


Oh, ini adalah de-sahan penuh candu. Sungguh luar biasa kemudian menapaki bukit demi bukit yang mengantar keduanya menuju ke Swargaloka. Sangat indah, sangat liat, sangat basah. Pandu mengakui tidak ada kenikmatan di dunia selain berpadu dengan istrinya.


Rengkuhan Pandu kian kuat dan mempertahankan Ervita dalam dekapannya. Tubuh yang sama-sama bergetra. Di beberapa detik selanjutnya pekikan keduanya diwarnai dengan getaran di seluruh tubuh keduanya.


"Oh!"


Detik demi detik berlalu, dunia ini kian kabur di mata Pandu, karena yang terlihat hanya Ervita yang memejamkan matanya dan bibir yang sedikit membuka, begitu cantik wanita itu yang membuat gairah Pandu memuncak. Pandu tak bisa bertahan lebih lama lagi, terutama bagaimana kenikmatan Ervita yang membuat pusaka Lingga makin dibuai di dalam sana.


Hangat.


Basah.


Erat.


Semua itu memerangkap pusaka Lingga milik Pandu dalam jeratan yang amat membuncah. Dia nyaris tak mampu lagi bernafas. Pinggang Pandu bergerak tanpa henti. Maju dan mundur berulang kali.


Waktunya sudah hampir tiba. Pandu dengan yakin saat itu tiba.


Maka didahului dengan geraman yang kasar, Pandu mempercepat hujaman dan tusukannya. Dia menusuk, mendesak maju, dan menghujam begitu dalam. Pandu kian menggebu. Dia bergerak dengan begitu bersemangat. Memacu tanpa jeda. Keluar dan juga masuk. Menghujam dan menusuk. Hingga Pandu merasa lepas kendali. Dia tak mampu lagi bertahan. Dan ... pada akhirnya, bersama-sama dengan Ervita, keduanya hancur dalam kenikmatan itu. Benar-benar hancur mana kala terasa larva pijar yang memenuhi seluruh cawan surgawi.

__ADS_1


Hancur dan melebur, terjerat tapi nikmat. Itulah rasa yang dirasakan oleh Pandu dan Ervita saat ini.


__ADS_2