Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Rasanya Menjadi Ayah


__ADS_3

Tidak dipungkiri bahwa kehamilan Ervita kali ini rasanya tetaplah berbeda untuk Pandu. Memang Indi sudah dia anggap sebagai anak kandungnya sendiri. Akan tetapi, bayi yang dikandung Ervita sekarang secara fakta adalah bayi pertamanya. Oleh karena itu, Pandu tentunya merasa sangat senang. Bahkan setiap pemeriksaan, Pandu turut mendengarkan penjelasan dari Dokter Arsy, karena dia ingin tahu apa saja yang terjadi dengan bayi dan juga yang dirasakan oleh Bundanya.


"Kamu sering kesemutan?" tanya Pandu kemudian kepada Ervita sembari mengemudikan mobilnya untuk kembali ke rumah.


"Iya, beberapa hari ini di jari-jari tangan itu kayak kesemutan deh, Mas," balasnya.


Pandu melirik wajah istrinya. Lantas pria itu menggenggam tangan Ervita sembari tangan itu dia taruh di pahanya. "Kenapa enggak bilang kalau sering kesemutan?"


Ervita pun tersenyum. "Kan bukan sesuatu yang serius. Jadi, ya enggak apa-apa Mas. Mungkin kalau bobok, aku sering bersandar dengan tangan. Mulai nanti malam enggak," balasnya.


Pandu kemudian menganggukkan kepalanya. "Kalau kerasa apa-apa bilang saja, Dinda ... aku mau jadi orang pertama yang tahu keadaan kamu. Kan bagaimana pun kehamilan kamu ini pertama buatku, Dinda. Aku pengen selalu siaga untuk kamu," balas Pandu.


Kali ini Ervita tidak marah. Memang alamiah ketika suaminya merasa ingin menjadi sosok yang siaga. Yang dikatakan Pandu pun benar karena kehamilan ini yang kedua untuk Ervita, tapi sebenarnya ini adalah kehamilan pertama untuk Pandu.


"Iya Mas ... lain kali aku beritahu yah. Aku cuma takutnya kamu jadi kepikiran nanti. Padahal kan juga itu wajar kan bagi ibu hamil, seperti yang dijelaskan Dokter Arsy tadi," balas Ervita.


"Jangan marah ya Nda ... sekali lagi bukannya aku membedakan antara Indi dan adik bayinya. Keduanya adalah anakku, cuma kan kehamilan kamu ini tetap yang pertama untukku, pengalaman pertama," balas Pandu.


"Iya Mas Pandu ... tidak apa-apa, aku sepenuhnya mengerti kok. Lagipula, memang aku yang harusnya lebih terbuka dan komunikatif sama kamu," balas Ervita.


Begitu sudah sampai di rumah, keduanya memasuki rumah. Ervita memilih menunggu di rumah, dan Pandu menjemput Indi di rumah Eyangnya yang tengah bermain dengan Lintang. Alasan Pandu menjemput Indi sendiri juga biar Ervita bisa istirahat dan juga Pandu masih ingat bahwa Ervita tadi kecapekan dan mengantuk, sehingga memang lebih baik Ervita di rumah. Daripada ketika mampir ke rumah orang tuanya dan masih ditanyain hal yang panjang lebar oleh orang tuanya dan juga Pertiwi.

__ADS_1


"Ervi gak ikut? Tumben," tanya Bu Tari kepada putranya itu.


"Di rumah, Bu ... tadi kecapekan. Seharian banyak pembelian online jadi packing banyak. Periksa saja tadi sudah mengantuk," balas Pandu.


Bu Tari pun menganggukkan kepalanya. "Iya, tadi Ibu sudah dikirimin buktinya penjualan hari ini. Memang banyak banget. Bahkan ada yang pembelian masuk berapa juta gitu," balas Bu Tari.


"Makanya Bu ... biar di rumah dulu. Kasihan, sudah hamil itu pasti berat dan susah, dan juga sembari mengasuh Indi dan juga mengurus rumah. Ervita perlu istirahat juga," balas Pandu.


Bu Tari tersenyum menatap putranya itu. "Ya, hidup berumahtangga begitu, Ndu ... dikasih waktu untuk istirahat. Hari ini memang banyak orderan yang masuk. Gimana siap jadi Ayah?" tanya Bu Tari lagi.


Pandu tampak tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ya, siap, Bu ... sejak menikah dengan Ervi kan sudah siap menjadi Ayah untuk Indi. Maaf, rasanya memang berbeda sih, Bu. Sekarang jadi khawatir, juga pengen bisa melakukan yang banyak untuk Ervi. Mendampingi istri sejak masa kehamilan itu menyenangkan. Kadang juga kasihan, wanita hamil itu tidak muda. Ada lelahnya, capeknya, dan mungkin sedih karena gejolak hormon. Bayangin Bu, dulu Ervi menjalaninya seorang diri," balas Pandu.


Bu Tari pun memijat-mijat punggung putranya itu. "Ibu tahu, untuk kamu kehamilan Ervita ini yang pertama. Dulu kan cuma tahu, dan sekarang kamu mengamati sendiri. Ya, belajar menjadi Ayah untuk Ervi. Emangnya dulu mau nikahin Ervi?" tanya Bu Tari.


"Kalau dulu Ervita kamu nikahin itu tidak boleh disentuh loh, Ndu. Haram hukumnya. Sebab, dia sedang mengandung benih pria lain," ucap Bu Tari.


Pandu menghela nafas dan kemudian menganggukkan kepalanya. "Ya, setidaknya Pandu bisa jagain Ervi, Bu," balasnya.


"Sekarang kamu sudah bisa menjaganya. Setiap hari, waktu yang kalian lewati berdua juga lebih berkualitas. Tinggal kamu persiapan menjadi Ayah, terlebih ketika bayimu lahir nanti," ucap Bu Tari.


Pandu kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, Bu ... Pandu akan belajar menjadi Ayah untuk si Baby, dan juga untuk Indi. Keduanya adalah anak-anak Pandu, permata hati Pandu."

__ADS_1


Bu Tari benar-benar bangga dengan putranya itu. Terlihat jelas Pandu tidak membedakan mana anak sambung dan mana anak kandung. Namun, keduanya adalah permata hati untuk putranya itu. Pandu juga sudah membuktikan jadi orang yang baik dan berbesar hati.


"Bagus, Ndu ... dua-duanya anak, jangan dibeda-bedakan. Ibu percaya itu juga karena Allah yang berikan kamu hati untuk menyayangi semuanya. Ibu bangga kamu, Le," balas Bu Tari.


"Matur nuwun, Bu ... semoga Pandu bisa terus melakukan yang terbaik. Cuma dari sekarang sudah ada yang membuat Pandu sedih, Bu," ucapnya.


Bu Tari mengernyitkan keningnya dan menatap putranya itu. "Apa yang kamu sedihkan?"


"Nanti kalau Indi dewasa dan ingin menikah, Pandu tidak bisa menjadi walinya. Padahal Pandu sayang banget sama Indi, ingin mengantar Indi sampai menuju gerbang pernikahan," balasnya.


Ya Tuhan, untuk masa yang akan datang saja Pandu sudah memikirkannya dari jauh hari. Di hadapan Ibunya, Pandu bisa mengakui perasaannya dan kesedihannya. Mengingat Indi bukan darah dagingnya dan ketika Indi menikah nanti hanya ayah kandung dan wali hakim yang bisa menikahkannya. Namun, agaknya juga tidak akan diwalikan oleh Ayah kandungnya sendiri. Sebab, di akta kelahiran Indi saja hanya tercatat nama Ervita di sana. Tidak ada nama Firhan Maulana.


"Indi pasti sedih ya Bu," ucap Pandu dengan menghela nafas panjang.


"Sesedih kamu nanti, Ndu ... kamu juga lebih sedih," balas Bu Tari.


Pandu menganggukkan kepalanya perlahan. "Sekarang saja, kalau kebayang bagaimana masa depan nanti sudah sedih, Bu. Kasihan Indi. Sekarang Pandu bisa hadir dalam hidupnya, memberi kebahagiaan, dan hadir dalam figur seorang Ayah. Namun, ketika dia dewasa dan ada pria yang meminangnya, ketika tahu fakta sebenarnya akankah Indi kecewa sama Pandu ya Bu?"


"Tidak ... Indi tidak akan kecewa. Justru dia akan bangga karena memiliki kamu sebagai Ayahnya. Seorang Ayah yang menyayanginya dan menjadikannya permata hati. Ibu yakin sayangmu untuk Indi itu tulus," balasnya.


Pandu kembali menganggukkan kepalanya, "Iya, Pandu sayang banget sama Indi. Tidak mungkin Pandu berani menikahi Ervi kalau rasa sayang Pandu untuk Indi tidak sebesar ini," balasnya.

__ADS_1


Ya, Pandu menyempatkan diri untuk sharing dan bertukar pikiran dengan Ibunya. Memang ada kalanya seperti itu. Ada anak laki-laki yang begitu dekat dengan ibunya dan bisa membicarakan apa pun kepada Ibunya. Pandu pun demikian, bisa berbagi, bercerita, dan menceritakan kesedihannya di masa yang akan datang kepada Ibunya.


__ADS_2