
“Rumah yang ada di samping rumah kami itu, ada dua kamar di sana. Nanti batik-batiknya bisa ditaruh di satu kamar. Kamar yang satu bisa kamu tempati. Lagian, kalau di kost seperti ini pengap. Indira juga butuh matahari untuk berjemur di pagi hari. Kalau pengap begini, nanti bisa biang keringat loh bayinya, kan kulit bayi itu sensitif.”
Lagi Bu Tari membujuk supaya Ervita mau turut serta pindah ke rumahnya. Bagaimana pun, bayi juga membutuhkan udara segar, sinar matahari langsung. Sementara dengan tinggal di kost seperti ini tentu akan membuat bayi menjadi tidak nyaman dan juga bisa kiang keringat karena kulit bayi yang masih begitu sensitif.
"Bu, Vita malahan merepotkan Ibu dan keluarga," ucapnya.
"Enggak ... enggak merepotkan sama sekali kok. Malahan Ibu senang bisa bantuin kamu. Rumah Ibu juga dekat Puskesmas, nanti kalau kamu mau imunisasi kan ke Puskesmas saja, gratis imunisasinya. Nanti biar dianterin Pandu," ucap Bu Tari lagi.
Pandu yang semula diam pun perlahan menganggukkan kepalanya, "Iya, kalau aku senggang nanti aku anterin ke Puskesmas," ucapnya.
Setelah beberapa saat membujuk Ervita, akhirnya Ervita setuju untuk pindah ke rumah milik Bu Tari yang difungsikan untuk menyimpan batik itu. Akan tetapi, Ervita meminta waktu dua hari. Sebab, dia membutuhkan waktu untuk berkemas dan pamitan juga dengan ibu kost.
Sementara itu, Bu Tari juga akan meminta tolong pembantunya untuk membersihkan rumah itu terlebih dahulu. Mengingat Ervita memiliki bayi, sehingga rumah akan dibersihkan terlebih dahulu. Selain itu, Pandu juga membantu untuk memindahkan batik-batik di satu kamar dan juga membantu untuk membersihkan rumah itu.
"Nah, gini kan bersih. Kalau batiknya di satu kamar kan tidak apa-apa. Kalau Ervita dan bayinya kan cuma butuh satu kamar," balas Bu Tari.
"Iya, sudah bersih kok Bu ini ... tadi sama Mbok Minah sudah dibersihkan, kamar mandi juga sudah bersih," balas Pandu.
Bu Tari pun menganggukkan kepalanya, "Iya, kalau dekat kan Ibu ngawasinnya lebih mudah. Mau bantu-bantu juga mudah. Kasihan banget ... harusnya dia masih kuliah, menempuh pendidikan yang bagus dan menjadi orang yang berhasil, justru garis takdirnya seperti ini," sahut Bu Tari.
"Asalnya dari mana sih Bu?" tanya Pandu kepada Ibunya itu.
"Dari Solo ... udah gitu melahirkan sendiri. Ibu benar-benar enggak tega. Ketika wanita melahirkan itu sangat butuh suami. Akan tetapi, Ervita justru melampaui semuanya sendirian," balas Bu Tari.
__ADS_1
Bu Tari yang hanya sebatas menceritakan Ervita saja sudah berkaca-kaca di sana. "Sabar Bu ... ya kalau nolong ya nolong saja, Bu," balas Pandu.
"Iya, Pandu ... Ibu cuma pengen nolong. Kok ya orang tuanya terus mengusirnya. Kasihan diusir dari rumah. Ervita dulu di kios kadang kalau dengar radio gitu menangis, katanya lagu kesukaan Bapak dan Ibunya. Cuman bagaimana lagi, Ibu pernah minta dia untuk bilang dan meminta maaf kepada Bapak dan Ibu, dia tidak berani. Trauma kalau dipukul Bapaknya," cerita Bu Tari panjang lebar kepada putranya itu.
Pandu pun turut mendengarkan apa yang diceritakan Ibunya itu. Sama seperti Bu Tari, Pandu juga kasihan. Masih muda, baru berusia 21 tahun sudah mencecap semua kepahitan dalam hidup. Mulai dari hamil di luar nikah, diusir orang tua, tidak mendapatkan pertanggungan jawab dari pria yang melahirkannya, terisolasi di kota asing tanpa kerabat dan keluarga, sembilan bulan hamil dalam kesendirian, bahkan melahirkan saja sendiri.
"Kok ya, pacarnya itu tidak mau tanggung jawab," balas Pandu dengan menghela nafas.
"Katanya disuruh Bapaknya kuliah selesai dan jadi Auditor dulu. Jadi orang sukses biar bisa mengangkat harkat dan derajat orang tuanya," balas Bu Tari.
Pandu tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Dia jadi orang sukses juga tidak akan bertahan lama, Bu. Soalnya dia menghancurkan hidup orang lain. Tuhan tidak tidur, Bu," balas Pandu.
Setelahnya, Bu Tari dan Pandu sama-sama membersihkan rumah. Menata kamar yang hendak ditempati oleh Ervita nanti. Bahkan Bu Tari menaruh box bayi yang bisa untuk tidur Indira. Bu Tari benar-benar berhati baik dan suka menolong. Untuk urusan menolong orang Bu Tari tidak akan segan-segan. Bukan hanya kepada Ervita, kepada orang lain yang membutuhkan pun Bu Tari akan selalu menolong orang tersebut.
Keesokan harinya ...
Siang hari, Pandu datang ke kost milik Ervita dengan membawa mobil pick-up yang terbiasa digunakan untuk belanja batik. Pemuda itu datang dan mengajak Ervita untuk pindahan.
"Ervi, ada yang perlu dimasukkan ke mobil?" tanya Pandu.
"Banyak itu, Mas," jawabnya.
"Mana ... biar aku tata di mobil dulu. Untuk motor kamu, nanti aku ambil aja ya Vi," ucap Pandu.
__ADS_1
"Iya Mas ... maaf merepotkan ya Mas," balas Ervita.
Pandu dengan cepat menggelengkan kepalanya, "Enggak ... sini, koper dan kardusnya aku naikan ke mobil dulu. Kamu tunggu di sini dulu saja. Di bawah panas," balas Pandu.
Akhirnya, Pandu lah yang naik turun beberapa kali untuk mengangkat koper dan beberapa barang milik Ervita. Kini di kamar itu benar-benar kosong. Hanya tersisa barang milik Ibu kost berupa single bed, satu lemari penyimpanan kecil, dan juga kipas angin.
"Ayo, sudah semuanya ... nanti keburu sore," ucap Pandu.
Ervita pun turun dengan menggendong Indira menggunakan selendang. Kemudian dia meminta waktu kepada Pandu untuk berpamitan terlebih dahulu kepada Ibu Kost. Bagaimana pun tanpa Ibu Kost yang membolehkannya menyewa di sini, Ervita tidak akan mendapatkan tempat untuk berteduh.
Kost yang sudah menjadi rumahnya, hamil dalam kesendirian. Bahkan sampai Indira lahir pun, Ervita masih menempati kost ini selama satu minggu. Setelah berpamitan, Ervita kemudian keluar dan menemui Pandu di sana.
"Sudah Mas," ucapnya.
Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Bisa naiknya?" tanya Pandu.
"Bisa," sahut Ervita yang kemudian menaiki mobil itu, dan di belakangnya ada koper dan barang-barangnya. Sebenarnya tidak seberapa, tetapi Pandu juga usai dari Pasar Beringharjo dan menurunkan batik, sehingga sekalian saja Pandu menaiki Pick Up untuk menjemput Ervita.
"Makasih banyak ya Mas Pandu udah dibantuin. Saya jadi merepotkan," ucapnya.
"Enggak merepotkan. Daripada kamu di sini juga sendirian. Nanti kalau baby blues lagi gimana?" balas Pandu dengan masih fokus mengemudikan mobilnya.
Ervita pun tertunduk. Memang beberapa malam, ada kalanya dirinya merasakan mood swing dan berakhir dengan menangis. Namun, perasaan di hatinya pun berkecamuk. Ada rasa sedih, kangen keluarga, homesick, bahkan rasa kewalahan dengan semuanya. Ada kalanya membutuhkan bantuan, tetapi bantuan juga tak kunjung datang. Benar-benar terisolasi di dalam kost tanpa keluarga yang bisa menaunginya.
__ADS_1