Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Kejutan di Hari Keenam


__ADS_3

Hari ini adalah hari keenam sejak Pandu pergi ke Surabaya untuk bekerja. Di Jogjakarta sendiri, Ervita sesungguhnya sudah begitu rindu dengan suaminya. Ingin sekali bertemu. Namun, dia juga tahu masih harus menunggu sampai hari esok.


Sekarang, bukan hanya Ervita yang kangen dengan Pandu. Melainkan Indi juga sudah begitu rindu dengan Yayahnya. Sehingga, Indi pun menanyai di mana Ayahnya sekarang, kenapa sudah lama tidak pulang ke rumah.


"Nda, Yayah kok kerjanya lama banget ya, Nda?" tanya Indi dengan tiduran beralaskan paha Bundanya itu.


Ervita tersenyum, tangannya terulur untuk mengusapi puncak kepala Indi. "Sabar, Mbak Didi ... kalau tidak salah, besok Yayah sudah pulang. Kalau Yayah sudah pulang, Mbak Didi mau ngapain sama Yayah?"


"Mau bermain, Nda ... main di pendopo depan itu sama Yayah. Bangun kemah," balasnya.


Indi memang memiliki kemah yang bisa dipasang untuk mainan. Dalam imajinasinya sekarang, dia menginginkan bisa bermain dengan Ayahnya, ketika Ayahnya selesai bekerja nanti. Ingin berkemah dengan Ayahnya. Sementara, Ervita tersenyum dan mendengar cerita dari Indi.


"Boleh, besok yah kalau Yayah sudah datang. Cuma, kalau Yayah kecapekan, ya biar Yayah istirahat dulu ya," balas Ervita.


Dia hanya berusaha memberikan Indi pengertian. Bagaimana pun perjalanan dari luar kota, Surabaya menuju ke Jogjakarta pastilah membuat Pandu kecapekan. Selain itu juga karena pekerjaan di luar kota, beban kerjanya juga tidak seperti ketika bekerja di kota sendiri. Untuk itulah, Ervita sudah memberitahukan kepada Indi kalau Yayahnya kecapekan, ya biarkan Yayahnya istirahat terlebih dahulu.


"Iya, Nda ... kalau Yayah capek, biar bobok dulu saja yah kayak Iyene. Nanti kalau sudah hilang capeknya, baru main sama Didi," balasnya.


"Iya, benar ... kasihan kan kalau Yayah kecapekan. Kan Yayah bekerja untuk buat kita semuanya. Kita doakan Yayah selalu sehat yah," balas Ervita.


Indi kecil pun menganggukkan kepalanya. Dengan usianya sekarang, dia bisa menerima penjelasan dari Bundanya. Selain itu, juga dia sangat tahu bahwa Yayahnya juga pasti akan kecapekan.


"Surabaya itu jauh ya, Nda?" tanya Indi lagi.


"Jauh, Sayang ... dulu Bunda dan Yayah itu ke Surabaya naik kereta api saja lama kok. Jadi, besok kalau Yayah datang pasti capek itu, Sayang," balas Ervita.


Indi pun mendengarkan penjelasan dari Bundanya itu. "Oke deh, kalau begitu besok Didi mau dipeluk Yayah dulu aja," balasnya.


"Kalau peluk, pasti dipeluk Yayah kok," balas Ervita.


Hingga akhirnya terdengar suara gerbang yang terbuka, dan tidak disangka yang datang sekarang adalah Yayah. Sosok yang baru saja mereka bicarakan bersama. Rupanya sekarang pria itu sudah tersenyum dan memasuki area Pendopo. Ada Ervita dan Indi yang berada di Pendopo itu. Tentu ini adalah kejutan tak terkira. Indi pun seketika berdiri dan sangat senang melihat sosok yang sudah dia rindukan selama enam hari ini.

__ADS_1


"Yeay, Yayah datang ... Yayah pulang," teriaknya dengan melompat-lompat.


"Yayah pulang ...."


Ya, tanpa memberi kabar rupanya Pandu sudah datang. Jika Indi senang dan melompat-lompat. Ervita kaget dan menitikkkan air matanya. Tidak mengira bahwa suaminya akan pulang secepat ini. Hingga, akhirnya Pandu mendekat dan mengusapi puncak kepala Indi.


"Yayah mandi dulu sebentar boleh?" tanyanya kepada Indi.


"Iya, boleh, Yayah ... yeay, Yayahnya Didi pulang," teriak Indi lagi.


"Selamat datang, Mas," ucap Ervita dengan menyeka sendirian air matanya. Wanita menundukkan wajahnya karena memang terharu dan inginnya, Pandu tidak melihat air matanya itu.


"Aku datang lebih cepat, Nda ... ya sudah, aku mandi dulu yah. Ada anak-anak, badan harus bersih," balasnya.


Pandu masuk ke dalam rumah dan bergegas untuk membersihkan badannya terlebih dahulu. Sementara, Ervita dan Indi juga masuk ke dalam rumah dan Ervita membuatkan Teh hangat untuk suaminya terlebih dahulu. Sementara Indi sudah mondar-mandir dan menanyakan kepada Bundanya kapan Yayahnya akan selesai mandi.


"Yayah masih lama ya Nda?" tanya Indi.


Hingga sepuluh menit setelahnya, barulah Pandu keluar dari kamarnya, dengan rambutnya yang masih setengah basah. Lantas, Indi sudah berlari dan menghambur ke dalam pelukan Yayahnya. Pun dengan Pandu yang menundukkan badannya, kemudian menggendong Indi. Terlihat bagaimana Indi begitu manja dengan Ayahnya, karena sekarang Indi menyandarkan kepalanya di bahu sang Ayah.


"Yayah, Didi kangen," ucapnya.


"Yayah juga kangen sama Mbak Didi," balas Pandu.


"Nda juga kangen Yayah loh," balas Indi.


Pandu yang masih menggendong Indi kemudian mengajak Indi ke dapur. Dia kemudian merangkul Ervita di sana. "Nda, kangen Yayah?" tanyanya.


"Iya, kangen banget," balas Ervita.


Pandu kembali tersenyum dan mengecup kening Ervita. "Yayah juga kangen banget sama Bunda," balasnya.

__ADS_1


"Yayah abis ini tidak bekerja jauh lagi kan?" tanya Indi.


"Sementara belum, Nak ... masih di dalam kota. Kenapa, Mbak Didi?" tanya Pandu.


"Masih kangen sama Yayah," balasnya.


Ya Tuhan, jika sudah begini, Pandu pun merasa begitu terharu karena memang baginya Indi adalah putrinya. Terkadang sikap manja Indi sangat menggemaskan, dan terkadang begitu menyentuh hati Pandu.


"Yayah juga masih kangen kok sama Didi," balas Pandu.


"Duduk dulu yuk ... Yayah minum Tehnya dulu," ucap Ervita.


Pandu sekarang duduk sembari terus memangku Indi. Kemudian Ervita menyajikan teh hangat untuk suaminya itu. Pandu pun tersenyum. "Senangnya, kembali ke rumah dan ada yang melayani," balas Pandu.


Selama enam hari berada di luar kota praktis tidak ada yang melayani kebutuhannya. Namun, ketika kembali ke rumah, ada yang melayani. Ini yang membuat Pandu tersenyum dan senang. Perihal minum saja, tidak perlu meminta, istrinya sudah membuatkannya minum.


"Makasih, Nda," balas Pandu.


"Sama-sama, Mas," balas Ervita.


Rupanya ketika Bundanya memanggil Ayahnya dengan sebutan Mas, sekarang Indi bisa protes. "Nda, ini Yayah bukan Mas yow ... Mas itu Mas Langit," balas Indi.


"Oh, iya ... harusnya Bunda manggilnya apa?" tanya Ervita.


"Panggil Yayah dong, Nda," balas Indi.


Mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh Indi. Kemudian Ervita tertawa. "Sama-sama, Yayah ... diminum dulu," balas Ervita.


"Nah, begitu Nda ... itu benar," balas Indi.


Ervita tersenyum saja, tidak mengira bahwa sekarang putrinya itu sudah bisa protes. Berarti ke depannya Ervita harus mengingat-ingat ketika di hadapan Indi, dia harus memanggil suaminya itu dengan panggilan Yayah.

__ADS_1


__ADS_2