
Ketika ajal sudah menjemput, manusia tidak bisa lagi mengelak. Hanya bisa berserah, menerima panggilan akhir dari Allah di masing-masing hidup kita. Layaknya seorang pelari, kita sudah berlari sampai garis akhir. Finish.
Sedih dan kehilangan itu juga yang pasti dirasakan Firhan dan keluarganya. Namun, bagaimana lagi. Sudah tidak mampu berbuat apa-apa. Sementara, Firhan keluar dari kamar itu dengan pandangan yang kosong. Dia memeluk sang Ibu yang menangis sesegukan di sana.
"Allah sudah memanggil Bapak untuk pulang," kata Firhan dengan suara yang lirih.
Seluruh air mata tumpah. Bagaimana pun, Pak Supri adalah sosok suami yang sudah mendampingi Bu Hesti hampir 30 tahun. Berbagi suka dan duka. Melewati pasang surutnya rumah tangga.
Itu artinya Bu Hesti akan terpisah dengan suaminya untuk selama-lamanya. Wanita itu menangis di pelukan putranya. Tubuhnya pun terasa lunglai, setiap tulang di kakinya seolah tak mampu lagi menyangga badannya. Tangisan, raungan, dan juga isakan seakan bercampur menjadi satu.
Sementara, Firhan mengabarkan kepada istrinya di rumah bahwa Bapaknya sudah tiada. Oleh karena itu, Wati meminta tolong kepada tetangga sekitar untuk dibantu. Beruntunglah tetangga di sekitar sangat baik. Banyak Bapak-Bapak yang guyub rukun membantu memasang tenda, ada yang membuatkan lelayu, dan ada yang memasang bendera berwarna merah. Ya, di Solo sendiri ketika ada kematian, bendera yang dipasang adalah bendera berwarna merah.
Keluarga Pak Agus pun turut membantu, bersama Pandu dan Tanto. Rasanya sangat cepat. Beberapa jam tadi, Pandu bertemu dengan almarhum, dan sekarang almarhum sudah dipanggil Allah.
"Innalillahiwainnailaihirojiun," ucap Pandu dengan lirih.
Setelah itu, Pandu berpamitan dulu dengan istrinya. "Dinda, aku pamit ikut Bapak bantu-bantu di sana yah," katanya.
"Iya, Mas ... hati-hati," balas Ervita.
Sementara di rumahnya, Ervita juga bercerita kepada Ibunya. Bagaimana pun kan tadi dia usai bertemu dengan almarhum. Walau tentu itu adalah cerita perih.
"Padahal tadi Ervi ketemu loh, Bu. Sama Almarhum," ceritanya.
"Lalu?" tanya Bu Sri.
"Ya, sama dengan waktu lebih dari lima tahun yang lalu di mana beliau menolak Ervita dan Indi."
Bu Sri menganggukkan kepalanya. Memang dalam beberapa tahun terakhir, walau hubungannya dengan Bu Hesti membaik. Namun, ternyata tidak dengan Pak Supri. Seolah memang ada tembok yang dibangun begitu tinggi.
__ADS_1
"Ya sudah, Vi. Maafkan ya, Vi. Supaya melapangkan kuburnya. Doakan semua dosa mendapatkan pengampunan dari Yang Maha Kuasa," kata Bu Sri.
"Ervi tidak pernah menaruh dendam kok, Ibu," jawab Ervita.
Ya, memang itulah Ervita. Dia tak menaruh dendam sama sekali. Baginya semua masa lalu sudah berlalu, membiarkan untuk tetap berada di belakangnya. Tidak hidup dan membawa dendam karena itu justru membebani diri sendiri.
"Ya sudah, nanti kita ke sana ya, Vi," ajak Bu Sri.
"Indi dan Irene bagaimana, Bu?" tanyanya.
"Mei di rumah kok. Titipkan saja sama Mei," kata Bu Sri.
Begitu waktu berlalu sekian jam, bunyi sirine dari mobil Ambulance juga terdengar. Tak berselang lama, Ervita dan Ibunya datang melayat. Bentuk bela sungkawa dengan keluarga almarhum.
"Turut berduka cita nggih, Bu," kata Ervita bersalaman dengan Bu Hesti.
Rupanya Bu Hesti langsung memeluk Ervita. "Mbak Ervi ... maafkan ya, Mbak. Selama ini beliau banyak salah kepada Mbak Ervi dan keluarga," ucap Bu Hesti.
Sementara Erma yang terpukul menangis dengan berurai air mata. Bahkan sebelumnya Erma sempat pingsan karena terpukul dengan kepergian Bapaknya yang tiba-tiba. Sementara Wati berusaha tabah, walau wanita itu menangis.
"Bu Sri, nyuwun pangapunten nggih (meminta maaf - dalam bahasa Indonesia), maafkan suami saya selama ini," kata Bu Hesti.
"Pasti dimaafkan, Bu Hesti. InsyaAllah, tidak ada dendam. Semua memaafkan," balas Bu Sri.
Ketika berhadapan dengan Firhan, Firhan pun melakukan hal yang sama. "Minta maaf untuk semua dosanya Bapak ya, Vi," kata Firhan.
"Tidak apa-apa, Han. Aku sudah memaafkan kok," balas Ervita.
Sejenak melayat, di hari yang sama juga jenazah dikebumikan. Kali ini, Pandu mengajak Ervita dan Indi turut menyaksikan pemakaman. Indi untungnya hanya diam Walau begitu dia maunya digendong Yayahnya terus.
__ADS_1
Ketika, jenazah sudah dikebumikan, Firhan yang semula membungkuk di depan pusara, akhirnya berdiri dia berjalan ke arah Ervita dan Pandu.
"Mbak Indi mau tabur bunga untuk Kakek?" tanyanya.
Tidak memaksa, Indi melihat Yayah dan Bundanya bergantian. Hingga akhirnya Indi menganggukkan kepalanya. "Ditemani Yayah," jawab Indi.
Akhirnya, Pandu masih menggendong Indi. Tangan kecil itu mengambil bunga dan menaburkannya di pusara Almarhum. Firhan memejamkan matanya, walau masih ajal menjemput Bapaknya menolak Indi, tapi tidak bisa mengelak karena Indi adalah keturunan mereka, bagian dari keluarga mereka.
"Sudah, Yayah," balas Indi.
Akhirnya Pandu kembali berdiri dan tetap menggendong Indi. Kemudian mereka meninggalkan pemakaman terlebih dahulu.
"Sudah sampai kesudahannya, Dinda. Inilah garis hidup manusia. Semuanya akan dipanggil pulang. Oleh karena itu, selama masih hidup perbanyak ibadah dan amal. Selalu mendekat dengan Allah. Jangan sia-siakan pintu tobat. Biar hidup kita menjadi berkah untuk orang lain, ketika kita nanti sudah dimasukkan dalam liang lahat, tidak ada kesempatan lagi untuk memperbaiki hidup," kata Pandu.
"Benar, Mas. Bimbing aku dan anak-anak untuk beribadah ya, Mas. Sejatinya kita hidup di bumi untuk beribadah, memperbanyak amal dan ibadah untuk dibawa bekal saat dipanggil Allah kembali nanti," jawab Ervita.
"Iya, Dinda. Kita warnai hidup kita. Kita besarkan Indi dan Irene dengan baik. Pelajaran dari hidup tidak pernah salah, darinya kita belajar untuk semakin dewasa."
Sejatinya memang begitulah hidup. Selalu ada pengampunan dari Allah, selama hayat masih dikandung badan. Selalu ada hidayah dari setiap peristiwa yang dialami manusia. Dari kepahitan, kita belajar untuk tersenyum. Dari luka, kita belajar untuk membebatnya. Dari kegagalan, kita belajar untuk bangkit. Dari luka di masa lalu, kita belajar untuk melepaskan pengampunan.
...****************...
...TAMAT...
Selanjutnya Kisah Indi akan tersaji di dalam Novel Berjudul Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat. Selalu dukung dan ikuti yah.
Terima kasih untuk dukungan sahabat semuanya. Kiranya bisa memetik hikmah dan pesan moral dari kisah ini.
__ADS_1
With All My Love,
Kirana💓💓