Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Bayiku Tanpa Nasab!


__ADS_3

Merasa sakit yang benar-benar membuat Ervita merintih, kali ini benar-benar harus dilampaui Ervita seorang diri. Namun, seusia Dokter Wulan memeriksanya, kerabatnya yang tidak lain adalah Bu Tari dan Pandu dipersilakan untuk masuk dan menemui Ervita.


"Gimana, sakit yah?" tanya Bu Tari.


Ervita hanya mampu menangis di sana. "Iya, Bu ... sakit banget," ucapnya.


"Sudah pembukaan berapa?" tanya Bu Tari lagi.


"Sudah lima, Bu ... katanya Dokter sih bakalan lebih cepat," jawabnya dengan sesegukan.


"Ya, dijalani ya Vita ... Ibu nanti temenin di luar. Kamu bisa kan?" tanya Bu Tari lagi.


Ervita pun menganggukkan kepalanya di sana, "Iya Bu ... Ervita ... bi ... sa," jawabnya dengan tersedu-sedan.


Pandu yang melihat Ervita merasakan sakit bersaling saja terlihat menghela nafas di sana, "Aku belikan minum, Ervi ... nanti kalau haus bisa diminum yah," ucap Pandu.


"Ii ... iya, Mas Pandu ... makasih," balasnya.


Hingga akhirnya, kali ini Pandu memilih untuk di luar kamar perawatan. Dia juga sungkan, seorang jejaka dan berada di kamar bersalin wanita yang bukan mahramnya. Walaupun di luar Pandu harus beberapa kali menenangkan dirinya. Sangat tidak tega mendengar Ervita yang beberapa kali menangis.


"Yang sakit di mana Vit? Sini Ibu gosokkan punggungnya perlahan yah," ucap Bu Tari.


Ah, begitu terharu rasanya. Ada orang yang berperan sebagai sosok Ibu. Tangan Bu Tari tampak mendarat di punggung Ervita dan memberikan usapan naik dan turun. Bahkan Bu Tari merapalkan doa kebaikan untuk Ervita.


"Adik bayi kalau mau keluar bisa lebih cepat yah ... kasihan Ibunya, kesakitan kayak gini. Nanti kalau sudah lahir, digendong Eyang Putri yah ... Ibunya juga bisa lepas dari sakit ini," ucap Bu Tari.


Seakan memberikan afirmasi positif karena memang Ervita terlihat begitu kesakitan di sana. Sebagai seorang Ibu yang juga pernah melahirkan, Bu Tari merasa begitu tidak tega.


"Jangan nangis terus, Vita ... disimpan tenaganya untuk mengejan nanti. Nanti butuh tenaga yang banyak untuk ngejan, berdoa Vita, biar Allah beri kekuatan," ucap Bu Tari lagi.


Selang beberapa jam berlalu, Ervita kini benar-benar merasakan sakit yang sudah tidak bisa dia tahan lagi. Bahkan cairan bening sudah keluar dari pangkal pahanya. Perutnya terasa begitu kencang, dan seluruh tubuh rasanya kesakitan.

__ADS_1


"Bu, minta tolong pencetkan tombol di atas brankar Ervita ini, Bu ... rasanya mau lahir. Sakit banget Bu ... sakit banget," ucap Ervita dengan menangis sesegukan di sana.


Mendengar ucapan Ervita, Bu Tari menganggukkan kepalanya dan kemudian memencet tombol yang terkoneksi dengan perawat. Hanya berselang sekian menit, ada perawat yang masuk ke dalam ruangan Ervita.


"Bagaimana Bu Ervita?" tanya perawat itu.


"Sakit banget ... ini tadi keluaran cairannya," balasnya.


Perawat lantas meminta Ervita untuk membuka pahanya dan kemudian kembali melakukan cek dalam di sana. Ervita merintih kesakitan kala tangan perawat kembali masuk ke jalan lahirnya. Tangisannya benar-benar pecah.


"Sakit banget," keluhnya lirih.


"Sudah pembukaan sembilan Bu Ervita," ucap perawat itu.


Lantas perawat itu melihat ke Bu Tari, "Yang di luar itu suaminya ya Bu? Kalau memang suaminya bisa bersiap untuk menemani pasien bersalin. Dokter Wulan akan segera kemari," ucapnya.


Bu Tari tampak menggelengkan kepalanya, "Kami keluarganya Suster, suaminya tidak ada," jawab Bu Tari.


"Bu Ervita melahirkan sendirian tidak apa-apa?" tanya perawat lagi.


Hingga akhirnya Dokter Wulan dan perawat lainnya mulai masuk dan Bu Tari dipersilakan untuk keluar. "Yang kuat ... yang sabar. Gusti (Tuhan) pasti akan memberikan jalannya. Ibu dan Pandu akan menunggu di luar yah, pasti bisa!"


Sebelum keluar pun Bu Tari kembali mengatakan doa yang baik untuk Ervita. Dengan doa semuanya bisa dilewati dengan baik. Dengan doa, Tuhan akan memberikan kekuatan untuk hamba-Nya yang sedang kesakitan.


Bu Tari keluar dengan wajah yang tegang. Di luar barusan Bu Tari meneteskan air matanya. "Ya Allah, menjadi wanita kok yang tidak kebeneran (tidak beruntung - dalam bahasa Jawa). Yuh, sampai melahirkan kesakitan kayak gitu sendiri. Kasihan banget," ucap Bu Tari.


Pandu yang duduk di sana pun segera merangkul bahu Ibunya itu. "Sabar Bu ... Ibu sudah melakukan yang terbaik dengan menolong Ervita. Sekarang kita tunggu saja, kita berdoa semoga tidak lama lagi anaknya lahir," balas Pandu.


Sementara di dalam, Dokter Wulan bersiap dengan berbagai alat di sana. Tangan Dokter Wulan tampak menekan sedikit perut Ervita di bagian dadanya, "Oh, iya ... sudah turun," ucapnya.


"Sudah pembukaan berapa?" tanya Dokter Wulan dengan perawat di sana.

__ADS_1


"Tadi sembilan Dokter. Ini terhitung cepat, hanya empat jam dirawat dan pembukaan sudah nyaris lengkap," ucap perawat di sana.


Hingga akhirnya, Ervita menangis di sana. Wanita itu mengeluhkan perutnya yang kencang dan seolah ada sesuatu yang keluar dari jalan lahirnya.


"Dokter ... sakit banget Dokter. Sakit ...."


Dokter Wulan kemudian menghela nafas, meminta perawat untuk berdiri di dekat Ervita, bisa memberikan tangannya untuk berpegangan Ervita nanti. Kemudian Dokter Wulan kembali mengecek di bawah sana.


"Oh, sudah pembukaan lengkap dan sempurna Bu Ervita. Begitu perut terasa kencang dan terasa ada yang ingin keluar, langsung mengejan ya Bu Ervita. Tarik nafas dalam-dalam dengan mulut, lalu keluarkan perlahan. Dorong di area panggul," ucap Dokter Wulan memberikan instruksi.


Ketika merasakan perutnya terasa begitu kencang, Ervita menarik nafas, dia berpegang di tangan seorang perawat di sana dan mengejan.


"Huh ... Akkkh," ejanannya begitu perih dan menyayat hati.


"Dorong di panggul ya Bu ... jika perut tidak kontraksi, tidak kencang jangan mengejan dan jangan mengangkat pantat karena bisa robek jalan lahirnya," ucap Dokter Wulan lagi.


Ervita benar-benar kesakitan sekarang ini, "Sakit Dok ... sakit," ucapnya dengan sesegukan di sana.


"Tidak apa-apa Bu Ervita, yuk ... ini perutnya sudah terlihat kencang. Tarik nafas ... keluarkan perlahan, dorong di panggul, yak!"


Akan tetapi Ervita seakan benar-benar tidak bisa. Ejanan demi ejanan dia lakukan, nyatanya bayinya juga belum keluar. Wanita itu seolah hampir menyerah dan kehilangan harapannya, hanya bisa menangis pilu di sana.


"Dengarkan saya ya Bu ... sekali lagi yah. Dorong di panggul ya Bu, tarik nafas ... keluarkan perlahan, dan ... dorong!"


Oek .... oek ... oek ....


Tangisan bayi yang begitu kencang terdengar di dalam kamar bersaling itu. Tangisan yang menyudahi perjuangan Ervita dalam melahirkan anaknya. Ervita meledak rasanya bahagia, sedih, dan haru di waktu yang bersamaan. Hingga Dokter Wulan mengangkat bayi itu dan menunjukkan kepada Ervita.


"Selamat ya Bu Ervita ... bayinya perempuan."


Ya Tuhan, tangis Ervita kian hancur. Tidak bisa membayangkan bahwa bayinya perempuan yang Ervita bayangkan sekarang bahwa anaknya lahir tanpa nasab Ayahnya. Begitu pilu dan hancur hatiku.

__ADS_1


"Oh Tuhan ... anakku lahir tanpa nasab ...."


Derai air mata mengalir begitu deras di sana, tetapi kehidupan baru yang ada dan baru dia lihat sekarang bukankah juga adalah ciptaan Tuhan yang indah dan mulia? Sekali lagi Ervita harus menguatkan hati dan dirinya sendiri. Perasaannya bahagia dan hancur lebur bersamaan kala mendapati jenis kelamin bayinya yang ada seorang perempuan.


__ADS_2