
Selang beberapa hari berlalu, kini Pandu mengajak Ervita untuk kembali memeriksakan kandungannya. Walau, sebenarnya Ervita sedikit kelelahan karena hari ini ada begitu banyak pesanan batik secara online yang datang. Namun, untuk bisa melihat tumbuh kembang janinnya, Ervita pun mau untuk memeriksakan kandungannya.
"Wajah kamu sayu banget Nda?"
Ervita yang sekarang duduk di samping suaminya itu pun menganggukkan kepalanya perlahan. "Benar banget, Mas ... kecapekan sih. Tadi, orderan online untuk batik kita banyak banget. Alhamdulillah, rejekinya si baby yah," balas Ervita.
Pandu pun menggerakkan tangannya perlahan dan mengusapi puncak kepala Ervita. "Berapa banyak? Sampai kamu kelihatan kecapekan banget kayak gini," balasnya.
"Lumayan sih Mas ... ada yang beli partai besar juga. Katanya mau dijual lagi di luar pulau Jawa, terus ada yang beli untuk seragam keluarga. Sudah mau puasa, banyak yang punya kerja menikahkan anaknya ya Mas? Biasanya sih kalau musim pernikahan, banyak yang membeli batik," balas Ervita.
Sebenarnya ini bukan ilmu ekonomi pasti. Akan tetapi, selama beberapa tahun bekerja di Kios Batik, Ervita memperhatikan ketika musim pernikahan tiba, biasanya pesanan untuk kain batik, kemeja batik, dan kebaya menjadi meningkat.
"Kamu sudah hafal ya Nda?" tanya Pandu.
"Iya, kan sudah beberapa tahun kerja di batik, jadi bisa mengamati," balasnya.
Setelah itu, mobil yang dikemudikan Pandu pun tiba di Rumah Sakit khusus Ibu dan Anak. Keduanya mengantri terlebih dahulu. Ketika mengantri saja, Ervita terlihat lelah dan matanya terasa berat, mengantuk rasanya.
"Capek banget yah? Nanti usai periksa, langsung pulang dan bobok di mobil boleh," ucap Pandu.
"Hmm, iya Mas. Mungkin kandunganku yang semakin bertambah bulan, jadinya mudah lelah dan juga mengantuk," balasnya.
__ADS_1
Lebih dari setengah jam keduanya menunggu dan sekarang keduanya dipersilakan untuk masuk ke dalam ruangan Dokter Arsy untuk melakukan pemeriksaan dan juga konsultasi.
"Selamat malam," sapa Dokter Arsy dengan ramah.
"Ya, Dokter ... malam," balas Ervita dan Pandu bersamaan.
"Kita lakukan pemeriksaan untuk USG dulu, dan nanti dilanjutkan dengan konsultasi. Jadi, Bu Ervita silakan berbaring yah," ucap Dokter Arsy.
Seperti biasa, Pandu sendirilah yang membantu Ervita untuk menaiki brankar dan kemudian ada seorang perawat yang sedikit mengangkat kemeja hamil yang dikenakan Ervita. Lantas USG Gell pun diberikan di permukaan kulit Ervita. Di satu sisi, Dokter Arsy sudah bersiap dengan transducer di tangannya. Dengan perlahan-lahan, Dokter Arsy menggerakkan transducer itu di atas permukaan perut Ervita.
"Oke, baiklah ... sekarang usia kehamilan Bu Ervita adalah 24 minggu. Sudah lebih dari setengah jalan ya Bu. Periode kehamilan itu 40 minggu, dan Ibu sudah melampaui lebih dari setengahnya. Sekarang kita ukur detak jantung bayi terlebih dahulu."
"Jantung bayi Ibu Ervita berdetak antara 120 - 160 denyut per menit. Bukan hanya jantung, tapi sebagai besar sistem organ vital si baby juga mulai berfungsi ya Bu," jelas Dokter Arsy kepada Ervita dan Pandu.
Kemudian Dokter Arsy kembali menggerakkan transducer dan melakukan pengukuran panjang dan perkiraan berat tubuh si baby. "Panjang bayi dari kepala hingga tumitnya kurang lebih 30 centimeter, dan beratnya sekitar 0,59 kilogram. Nah, bobot itu didapatkan dari pertumbuhan organ, tulang, otot, dan akumulasi lemak bayi. Lalu, saya tunjukkan wajah bayinya yah. Di usia 24 minggu ini bagian wajah hampir sempurna. Ini matanya, hidung, bibir, dan kalau Bapak dan Ibu ingin tahu bahkan sekarang bulu mata, alis, dan rambut sudah tumbuh."
Mendengarkan penjelasan dari Dokter Arsy membuat Pandu dan Ervita merasa puas karena mendapatkan penjelasan yang detail. Ini memang bukan kehamilan pertama untuk Ervita. Akan tetapi, dia mendengarkan bagaimana Dokter Arsy menjelaskan rasanya juga mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang baru.
"Bapak dan Ibu masih belum mau melihat jenis kelamin bayinya?" tanya Dokter Arsy.
Kemudian Pandu dan Ervita sama-sama menganggukkan kepalanya. "Iya, nanti saja kalau sudah bersalin. Biar kejutan untuk orang tuanya dan keluarga besar," balas Ervita.
__ADS_1
"Baiklah ... Bapak dan Ibu ini suka kejutan yah. Jadi, selama ini asalkan bayinya sehat, dan Ibunya juga sehat, sudah cukup yah?" tanya Dokter Arsy dengan terkekeh perlahan.
"Iya Dokter," balas Ervita.
Menyudahi sessi pemeriksaan dengan menggunakan USG, kemudian mereka melanjutkan dengan konsultasi. "Selama satu bulan ini ada keluhan tidak Bu Ervita?" tanya Dokter Arsy.
"Beberapa hari ini jari dan pergelangan tangan rasanya kesemutan, Dok," ucapnya.
Tampak Dokter Arsy menganggukkan kepalanya dan memberikan jawaban. "Kesemutan terutama di bagian jari dan pergelangan tangan menjadi kondisi umum untuk kehamilan, Bu Ervita. Hal ini disebabkan karena saraf tertekan akibat penumpukan cairan. Untuk mengatasinya, Ibu bisa menghindari tidur dengan beralaskan tangan, dan juga melakukan peregangan di area tangan," jelas Dokter Arsy.
"Baik Dok," balas Ervita.
Dokter Arsy kemudian menyerahkan foto hasil USG kepada Ervita dan Pandu. Selain itu, sang Dokter meresepkan berupa Asam Folat dan juga Kalsium yang harus dikonsumsi oleh Ervita setiap hari.
"Apakah masih ada yang ingin ditanyakan?" tanya Dokter Arsy.
"Sudah, sudah jelas, Dok," balas Ervita.
"Baiklah, pemeriksaan lagi satu bulan lagi ya Bu ... sehat selalu, dan semoga semuanya berjalan lancar."
Menyudahi pemeriksaan, kini keduanya mengantri di apotek dan beberapa kali Ervita sudah menguap. Begitu mengantuk rasanya. Pandu yang melihat istrinya sudah kecapekan pun merasa kasihan. Benar yang disampaikan kakaknya beberapa hari yang lalu, bahwa wanita hamil itu sangat membutuhkan suaminya. Pandu yang melihat Ervita sendiri, rasanya kasihan. Istrinya terlihat lelah dan mengantuk, tetapi Ervita masih harus bersabar karena beberapa menit lagi barulah akan tiba di rumahnya.
__ADS_1