
Ketika fajar mulai menyingsing, Ervita terbangun dan masih sama seperti kehamilan sebelumnya. Dia merasakan perutnya bergejolak, dan juga seakan ada yang hendak keluar menekan hingga tenggorokkannya, sehingga Ervita pun sedikit berlari dengan menutupi mulutnya menuju ke kamar mandi. Suaminya yang sedang berada di dalam kamar mandi pun terkejut dengan gedoran dari luar.
“Mas, buruan Mas … cepat Mas,” suara dari Ervita sembari mengetuk pintu kamar mandi itu.
Pandu yang baru selesai mandi dan hanya mengenakan handuk di pinggangnya pun mau tidak mau membuka pintu kamar mandi itu. Begitu pintu dibuka, Ervita segera menyerobot untuk masuk. Lantas dia segera menundukkan wajahnya di wastafel dengan keran yang air yang dia buka. Hanya air yang keluar, rasanya begitu pahit hingga terasa di pangkal lidahnya. Pandu pun segera memegangi juntai rambut Ervita di sana, supaya tidak basah rambut istrinya itu, dan kemudian memijat tengkuk Ervita supaya istrinya itu bisa merasa lebih lega.
Beberapa menit berlalu, dan Ervita dengan tubuh begitu lemas, keluar dari kamar mandi dengan digandeng oleh suaminya itu. Pandu menatap iba pada istrinya itu, seakan terbayang bahwa dulu, setiap pagi Ervita melewati hal seperti ini seorang diri.
Pandu pun memilih mengenakan pakaian terlebih dahulu dan kemudian turun ke bawah untuk mengambilkan air hangat untuk Ervita. Baru kali ini, Pandu tahu bahwa seorang wanita hamil pun sangat menderita dan tentunya kasihan. Rasanya sampai, Pandu ingin menggantikan Ervita merasakan gejala kehamilan yang dia yakini sangat menyiksa itu.
"Diminum dulu, Nda," ucap Pandu dengan menyodorkan segelas air putih hangat.
"Makasih Mas," balas Ervita dengan meminum sedikit air putih hangat itu.
"Berbaring, Nda ... aku olesin perut kamu pakai minyak kayu putih terlebih dahulu," balas Pandu.
Menurut. Ervita pun berbaring di tempat tidur, dan Pandu segera menyingkap ke atas kaos yang dikenakan Ervita, lantas dia memberikan Minyak kayu putih dan mengusapkannya sampai ke seluruh bagian perut Ervita. Terlihat betapa telatennya Pandu. Urusan mengusapi minyak kayu putih pun, dia lakukan tanpa mengeluh.
Setelahnya, Indi yang bangun menyusul ke kamar Ayah dan Bundanya.
"Yayah ... Nda," sapanya dengan messy hair khas anak baru bangun tidur.
"Sini Sayang," balas Ervita dengan memeluk Indi di sana.
Indi tampak mencium bau minyak kayu putih di kamar orang tuanya. Oleh karena itu, Indi pun kembali bertanya kepada Bundanya.
"Nda, sakit lagi?" tanyanya.
__ADS_1
"Tidak Sayang ... hanya memakain minyak kayu putih. Didi mau mandi enggak? Yuk, dimandiin, Nda," balasnya.
Indi pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Iya, mau dimandiin Nda," balasnya.
Pandu menghela nafas dan menatap Ervita di sana, "Kamu lemes loh, Nda ... biar aku saja," balasnya.
Ervita menggelengkan kepalanya, "Gak apa-apa. Aku masih kuat kok Mas ... seorang Ibu harus kuat untuk bisa mengasuh anaknya," balas Ervita.
Wanita itu beringsut duduk dan menguncir rambutnya asal, setelahnya mulailah Ervita menuju ke dalam kamar mandi dan memandikan Indi terlebih dahulu. Usai memandikan Indi, Ervita turun ke dapur dan mulai membuatkan teh hangat untuk suaminya, dan juga membuatkan susu hangat dengan rasa vanilla untuk Indi.
"Aku nanti kerja sebentar saja, Nda ... kan juga kantorku sendiri. Khawatir kamu kenapa-napa," balasnya.
"Kalau kerja ya kerja dulu saja tidak apa-apa, Yah ... aku bisa kok di rumah sama Indi. Tenang saja," balasnya.
Pandu pun menganggukkan kepalanya, "Iya, kan kantor konsultan juga milikku sendiri, aku serahkan kerjaan ke staf dulu saja. Nanti kalau sudah aku pulang, nemenin kamu," balas Pandu.
Indi yang turun dari lantai dua pun tampak bergabung dengan Ayah dan Bundanya. Dia menikmati susu vanilla yang dibuatkan Bundanya dan juga bertanya lagi apakah Bundanya itu benar-benar sudah sehat.
"Sudah sehat dong ... untuk Didi dan Yayah, Bunda selalu sehat kok," balasnya.
Pandu di sana tersenyum, benar yang dikatakan oleh Ervita bahwa istrinya itu selalu kuat. Padahal Pandu tahu bahwa Ervita merasa lemas dan inginnya tidur. Akan tetapi, demi dia dan juga Indi, Ervita selalu saja kuat.
Ketika mereka hendak sarapan, ada suara ketukan di pintu rumahnya. Pandu pun menahan Ervita supaya tetap duduk, sementara Pandu yang berdiri dan membukakan pintu. Ketika dia sudah membuka pintu, rupanya yang datang adalah Ibunya.
"Buk," sapanya dengan mempersilakan Ibunya itu masuk.
"Baru ngapain?" tanya Bu Tari.
__ADS_1
"Baru sarapan Bu ... mari sekalian, Buk," balas Pandu.
Bu Tari pun turut bergabung di meja makan, dan Ervita pun berdiri menyalami ibu mertuanya tidak lupa juga membuatkan teh hangat untuk ibu mertuanya.
"Kamu kok pucat, Vi?" tanya Bu Tari kepada menantunya itu.
Pandu berdehem di sana, "Ehem, begini Bu ... jadi, Ervi sudah positif Bu ... pagi-pagi tadi ditest ternyata positif hasilnya," balas Pandu.
"Alkhamdulillah," balas Bu Tari yang tak lupa mengucapkan syukur. Tentu saja Bu Tari merasa begitu senang karena Ervita akhirnya juga positif, tengah mengandung sekarang.
"Wah, senangnya Ibuk ... setahun Ibu dan Bapak bakalan akan mendapatkan dua cucu. Dari Pertiwi dan dari Pandu."
Ya, Bu Tari pun merasa begitu senang. Itu berarti dalam satu tahun dia akan mendapatkan dua cucu dari anak-anaknya. Dari Pertiwi yang sekarang tinggal di Bandar Lampung, dan juga dari Pandu. Sebagai orang tua tentu Bu Tari sangat senang.
"Keluarga yang di Solo, juga akan mendapatkan dua cucu dalam setahun Buk ... kan Mei juga hamil," balas Ervita.
Bu Tari pun kemudian tertawa, "Berkah yah ... tambah banyak berkahnya. Anak kan berkah," balas Bu Tari.
Pandu dan Ervita pun tersenyum. Benar, anak adalah berkah. Sebab, banyak pula pasangan yang sudah bertahun-tahun menikah juga belum dipercaya Yang Kuasa untuk mendapatkan keturunan.
"Kalau sudah diperiksakan. Ditemenin ya Ndu," pesan dari Bu Tari.
"Nggih, Buk ... pasti Pandu temenin dan dianterin," balas Pandu. Ya, Tidak mungkin Pandu lepas tangan begitu saja. Sebab, Pandu pun ingin memiliki pengalaman untuk bisa melihat proses kehamilan itu seperti apa. Dia justru merasa senang bisa terlibat langsung dalam kehamilan Ervita kali ini.
"Mual dan muntah tow Vi?" tanya Bu Tari lagi.
"Iya Bu ... seperti dulu waktu hamil Indi. Cuma pagi aja kok Bu ... kalau siang gitu sehat," balas Ervita.
__ADS_1
Bu Tari pun menganggukkan kepalanya perlahan, "Gak usah masak, Vi ... nanti tiap pagi biar dianterin Mbaknya ke sini. Ibuk kan setiap hari masak, sekalian buat kamu," balas Bu Tari.
Betapa bersyukurnya Ervita karena mertuanya pun begitu perhatian. Seakan teringat dengan dulu, nasi dan lauk dari Bu Tari lah yang sudah menghidupinya selama dia hamil Indi dan bekerja di kios batik. Sekarang, mertuanya itu kembali akan mengirimkan sayur dan lauk setiap harinya untuknya. Sungguh, bersyukurnya Ervita saat ini.