
Masih di rumah keluarga Firhan yang tampak kaget dengan kepulangan Erma tiba-tiba. Pembicaraan tentang Ervita sudah berakhir, kini mereka menunggu jawaban dari Erma. Sebab, tidak biasanya Erma pulang dengan tiba-tiba.
"Bapak, Ibu, Mas Firhan ... Erma memutuskan resign dari kerjaan," katanya.
Tentu saja, apa yang Erma sampaikan membuat semua yang ada di sana menjadi heran. Sejak kuliah di Semarang, dan juga melanjutkan bekerja di Semarang juga, Erma selalu bekerja dengan rajin. Tidak hanya itu, Erma juga sering memberikan uang untuk ibunya. Sebab, praktis sekarang Pak Supri tidak bisa bekerja. Pendapatan mereka hanya dari kamar kost yang mereka miliki. Belum untuk perawatan Pak Supri dan obat yang masih harus dikonsumsi.
Sekarang, mendengar kabar dari Erma dan keinginan Erma untuk resign, tentu saja semuanya menjadi bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi. Sebab, biasanya Erma adalah anak yang rajin bekerja.
"Kenapa, Erma? Dipikir dulu baik-baik. Jangan sampai menyesal. Apalagi sekarang mencari pekerjaan itu susah," balas Bu Hesti.
"Tidak, Bu. Erma mau di rumah saja," balasnya.
Sebagai seorang ibu, sudah pasti Bu Hesti mengetahui gelagat Erma yang benar-benar berbeda. Oleh karena itu, Bu Hesti sekarang bertanya lagi kepada Erma.
"Sebenarnya ada apa? Mending kamu jujur kepada Ibu, jujur kepada keluargamu," balas Bu Hesti.
"Ya, Erma ... sebaiknya kamu jujur," desak Firhan.
Erma agaknya benar-benar tidak memiliki celah untuk mengelak lagi. Dia kemudian menundukkan wajahnya. Sama sekali tidak berani menatap keluarganya satu per satu.
"Erma, ada apa sebenarnya?" tanya Bu Hesti dengan intonasi suara yang lebih tegas sekarang.
"Mmm ... maafkan Erma. Erma telat, Bu," balasnya.
Erma menangis dengan sesegukan. Tidak berani mengakui secara gamblang. Dia hanya menjelaskan dirinya telat saja. Namun, semua ini seolah adalah kenangan buruk di masa lalu yang berputar. Teringat bagaimana lima tahun yang lalu ada gadis yang mengakui telat dan akhirnya hamil.
"Astaghfirullahalazim," balas Bu Hesti dengan memegangi dadanya.
Sebagai Ibu, dia tahu telat adalah sinonim dari kata hamil. Tidak menyangka putri bungsunya hamil, dan di luar pernikahan. Air mata sudah tidak bisa dibendung lagi. Ada rasa kesal, marah, dan gagal menjadi orang tua.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Firhan.
__ADS_1
"Ppp ... pacarku, Mas," jawab Erma dengan terisak.
Seketika Firhan menjadi emosi. Sebagai kakak dan melihat adiknya seperti ini, Firhan sangat kesal. Akan tetapi, Firhan pun seolah diperhadapkan dengan masa lalunya di mana dia merusak kehidupan seorang gadis. Setelah, lima tahun lebih justru adiknya sendiri yang mengalami hal yang serupa.
"Mau ditaruh di mana wajah kami, Erma ...."
Bu Hesti menangis. Aib tidak pernah bisa disembunyikan. Aib selalu menjadi sesuatu yang dipergunjingkan oleh tetangga. Terlebih ketika hamil, perut yang semakin membesar benar-benar tidak bisa disembunyikan.
"Orang mana? Berikan nama dan alamatnya, Mas akan cari dia," balas Firhan.
Ya, Firhan berusaha untuk mencari pria itu. Meminta pertanggungjawaban untuk adiknya. Berani berbuat harus berani bertanggung jawab. Oleh karena itu, Firhan juga akan berusaha menemukan pacar dari adiknya itu.
"Dia pergi, Mas ... dia pergi," jawab Erma.
Semua terjadi dua bulan yang lalu. Erma dan pacarnya Ryan sudah satu tahun lebih berpacaran. Hingga akhirnya, keduanya jatuh dalam dosa besar itu kalau hujan deras di Semarang dan Ryan memilih menginap di kost milik Erma. Kamar kost yang menjadi saksi bagaimana semuanya itu terjadi. Dilecut oleh gairah masa muda, mereka mengulanginya sampai beberapa kali. Sampai akhirnya, sekarang Erma hamil di luar nikah.
"Pergi ke mana?" tanya Firhan dengan emosi.
"Ke Pekan Baru, Mas ... pindah kerja di sana waktu aku meminta pertanggungjawabannya," jawab Erma.
Pria paruh baya yang rambutnya sudah beruban itu tampak terengah-engah. Menghirup oksigen saja rasanya sulit. Sampai di batas Pak Supri bersuara.
"Anak gak tahu diri. Gak kakaknya, gak adiknya, cuma bisa mencoreng nama orang tua. Anak-anak tak tahu diri!"
Pak Supri membentak. Suara yang terputus-putus, disertai teriakan. Hingga akhirnya Pak Supri merasakan bagian bibirnya tidak bisa bergerak. Tangannya juga menjadi kaku. Berbicara saja, sudah ada buih di sudut bibirnya.
Atensi keluarga beralih ke Pak Supri. Seketika Firhan berlari, dia berlutut di depan Bapaknya. Memegangi tangan Bapaknya yang kaku.
"Bapak ... Bapak ... istighfar, Bapak," kata Firhan.
Semua yang ada di rumah pun kembali menangis. Pastilah terjadi serangan penyumbatan iskemik lagi. Firhan berusaha keras menolong. Bahkan, Firhan tidak mau mengambil risiko. Dia mengajak Bapaknya ke Rumah Sakit terdekat.
__ADS_1
Hanya Bu Hesti yang ikut. Firhan saja mengemudikan mobilnya dengan panik. Sementara, tubuh Bapaknya semakin kaku, tidak bisa digerakkan. Buih di sudut bibir juga semakin banyak.
"Tahan, Bapak. Sudah mau sampai ke Rumah Sakit."
Begitu tiba di rumah sakit, ada perawat yang menolong Pak Supri. Pria itu dibaringkan ke brankar dan didorong ke Unit Gawat Darurat. Menunggu Dokter untuk memeriksa, perawat memasangkan selang infus dan alat bantu pernapasan terlebih dahulu.
"Dia ... bukan ... cucuku!"
Pak Supri berbicara dengan suara yang sudah tidak jelas. Bahkan tidak tahu siapa yang dimaksud olehnya.
"Siapa Pak?" tanya Firhan yang tetap berdiri di samping brankar Bapaknya.
"Er ... vi ... ta, dan ... Er ... ma."
Sampai di masa kritis saja, tetap ada penolakan dari Pak Supri. Bukan hanya Ervita, tapi juga untuk Erma, putrinya sendiri.
Ketika Dokter hadir, dan dilakukan pemeriksaan, Firhan diminta untuk keluar sebentar. Namun, hanya belasan menit saja. Kemudian, Firhan dipanggil oleh Sang Dokter.
"Maaf, Pasien sedang menuju ke sakratul. Silakan dibimbing," kata Sang Dokter.
Seketika, Firhan menangis. Pria itu menitikkan air mata dengan dada yang merasakan hantaman begitu sakit sekali. Namun, Firhan menguatkan dirinya. Dia masuk ke kamar sang Bapak. Dia lihat Bapaknya yang seolah tidak memiliki banyak waktu. Kemudian Firhan berbisik di telinga Bapaknya.
"Bapak, Firhan sayang Bapak. Kami semua sayang Bapak. Ikuti Firhan ya, Pak ...."
“laa ilaaha illallah”
“laa ... ilaaha ... illallah.”
Usai Pak Supri menirukan itu, alat pendeteksi organ tubuh berhenti.
Tiitt ....
__ADS_1
Di saat bersamaan, sang Bapak sudah menghadap ke Penciptanya. Inilah berita duka yang sebenarnya.
Innalillahi ....