
Dengan jujur dan begitu tenang Ervita mengakui bahwa Pandu adalah pelangi yang indah untuknya. Pelangi yang membusur di angkasa usai badai yang terjadi dalam hidupnya. Untuk pelangi dengan kilauan warna ajaib itu, Ervita tentu merasa begitu bersyukur dan seakan tidak menginginkan hal yang lain lagi.
"Kamu ini bisa aja sih, Nda ... aku apa seistimewa itu bagi kamu?" balas Pandu dengan memperhatikan raut wajah dari istrinya.
Wanita yang duduk di hadapannya itu pun perlahan menganggukkan kepalanya, "Iya ... kamu begitu istimewa bagiku. Mungkin kamu adalah pria yang tidak mencela aku dan semua kesalahanku. Kamu justru menutupi noda dan celaku dengan memperistriku dan menjadi Ayah bagi Indi," balas Ervita.
Kebaikan Pandu, perhatiannya, dan tentunya dengan perasaan indah yang Pandu akui hanya untuk Ervita membuat Ervita yakin bahwa Pandu justru telah menutupi noda dan celanya. Dia mengangkat harkatnya sebagai seorang wanita yang hamil di luar nikah dan tidak pernah mendapatkan pengakuan dari pria yang menodainya. Bersama Pandu, Ervita merasa disayang, merasa dihargai, dan juga tidak pernah direndahkan.
Ada senyuman yang membuat pria itu menunduk, "Itu terlalu berlebihan buat aku, Nda ... aku nanti jadi besar kepala loh," balas Pandu.
"Tidak berlebihan kok Mas ... kan aku berkata dengan jujur. Jika tidak bertemu kamu, Ibuk, dan Bapak ... mungkin selamanya aku akan terjebak dalam badai salju," balas Ervita.
"Itu semua karena Tuhan sudah menggariskan kita untuk bertemu dan bersatu. Kamu jauh-jauh datang dari Solo, akhirnya mendapatkan jodoh di Jogjakarta. Kalau bukan karena Tuhan, siapa lagi, Nda," balas Pandu.
"Ya, memang benar demikian. Namun, semua ini aku sampaikan dengan jujur Mas ... kamu pelangi terindah dalam hidupku."
Mendengar pengakuan yang tulus dan syarat makna, perlahan Pandu menggenggam tangan Ervita di sana. "Kalau aku adalah pelangi terindah dalam hidupmu, maka kamu adalah hujan yang membawa cinta dan kesejukan. Kamu juga datang ke hidupku dengan pesonamu sendiri, Nda ... pesona yang membuatku langsung jatuh cinta kepadamu."
__ADS_1
Jika Ervita mengatakan perasaannya untuk Pandu, dan juga Pandu yang langsung jatuh cinta kepada Ervita. Namun, Pandu juga tidak mau gegabah. Dia perlu mengenal sosok Ervita, hingga akhirnya Pandu berani mengungkapkan niatnya yang tulus untuk meminang Ervita. Tidak perlu pacaran terlalu lama, Pandu langsung mengajak Ervita menuju pelaminan.
"Enak yah ... makan sambil ngobrol kayak gini. Beneran pacaran kita ya, Nda ... abis ini mau ke mana lagi Dinda?" tanya Pandu kemudian.
"Balik ke hotel lagi aja Mas ... ke Surabaya kan cuma menemani kamu saja. Mampir beli minuman dulu ya Mas, aku pengen yang Ovomatine itu," ucapnya.
Pandu pun segera mengajak Ervita keluar dari restoran Yakiniku itu dan menuju ke tempat minuman dan membeli minuman yang diinginkan oleh Ervita. Ovomaltine dengan rasa cokelat yang enak. Jika Ervita memesan Ovomaltine, Pandu memilih memesan Caramel Machiato. Mereka juga menyempatkan membeli beberapa camilan untuk teman mereka malam nanti.
Setelah jalan-jalan ke mall, mereka kembali ke hotel mereka yang memang terhubung dengan Mall itu. Begitu sudah sampai di dalam kamarnya, Pandu segera memeluk Ervita di sana.
"Peluk dulu ... tadi, waktu kamu bilang bahwa aku adalah pelangi terindah dalam hidupmu, aku merasa sangat bahagia dan terharu. Aku ingin memelukmu, tetapi kita ada di tempat umum, sehingga aku tidak bisa melakukannya. Sekarang, kita sudah di sini, berdua ... aku bisa memeluk kamu. Terima kasih yah, sudah menganggapku begitu berharga. Terima kasih sudah membuatku bahagia mencintai dan dicintai olehmu."
"Aku yang berterima kasih Mas ... kamu sudah menikahiku dan memberikan kesempatan untuk Indi bisa mengenal sosok Ayah dan kasih sayang dari Ayah justru dia rasakan dan dapatkan dari kamu. Aku beruntung dan bersyukur. Walau sebelumnya badai dan angin siklon menerpa hidupku, tetapi akhirnya ketika awan mendung tengah berlalu, pelangi yang indah membusur di angkasa. Makasih Mas Pandu," balas Ervita.
"Sama-sama Dinda ... sebenarnya kita sama-sama. Kamu dikhianati, dan aku pun dikhianati. Hanya saja kita berada di levelĀ yang berbeda. Level kamu jauh lebih tinggi."
Ervita mengurai pelukannya sejenak, dan menengadahkan wajahnya guna menatap Pandu di sana, "Emangnya mantanmu itu tidak pernah meminta balikan sama kamu sebelumnya ya Mas?" tanya Ervita.
__ADS_1
"Pernah, di kampus dulu. Jujur Nda, ketemu dia, pikiranku auto connect ke tragedi di dalam tenda di kaki gunung itu. Rasanya kembali sakit," balas Pandu.
"Lalu, sejak putus emangnya sudah tidak ada cinta?" tanya Ervita lagi.
"Ya, masih ada ... cuma terlanjur dikhianati dan di depan mata, hanya ada tenda saja jadi mataku tidak terlihat di dalam sana. Namun, jelas terlihat Roni dan dia sedang bercinta bersama. Bayang-bayangnya terlihat dari luar tenda karena kala itu masih pagi buta. Bahkan, tanpa sepengetahuan mereka berdua, aku melihat Roni yang keluar dari tenda miliknya dengan merapikan celananya dan juga melihat ke kanan dan ke kiri terlebih dahulu."
"Oh, begitu ya Mas ...."
Pandu kemudian menatap wajah istrinya itu, "Cemburu?" tanya Pandu.
"Enggak ... aku pengen tahu masa lalu kamu saja kok. Jadi, sekarang ya sudah tahu karena kamu sudah bercerita," balas Ervita.
"Aku tidak bercerita karena memori otakku yang tidak seberapa ini ingin aku isi penuh dengan kamu, Indi, dan anak-anak kita nanti. Tidak usah mengingat-ingat masa lalu, agar kita bisa melangkah ke masa depan. Masa lalu bukan menjadi pelajaran berharga untuk melangkah di masa depan," sahut Pandu.
"Iya Mas ... aku setuju. Cuma aku kepo saja. Andai aku kenal kamu sejak dulu, aku gak akan menyia-nyiakan kamu, Mas ... akan kukejar sampai halal," goda Ervita.
Pandu pun tertawa di sana, "Sama denganku ... andai aku kenal kamu sejak dulu, aku akan menghargai kamu dan menjaga kehormatanmu, Dinda. Kehormatan suami ada di diri istrinya dan begitu pula sebaliknya. Kamu adalah kehormatanku. Walau sedikit terlambat, tetapi seumur hidupku, aku akan menjaga kamu, Indi, dan anak-anak kita nanti," balas Pandu.
__ADS_1
Mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh Pandu, hati Ervita merasa begitu tersentuh. Ya, walau sedikit terlambat, tapi memang sekarang mereka bisa merasakan waktu terbaik dengan pasangan yang halal bagi mereka. Saling menjaga, saling mengisi, dan juga menjalani hidup dengan terus bergandengan tangan.