Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Menjelaskan


__ADS_3

Sepeninggal Ervita, Firhan tampak tidak senang dengan cara Bapaknya yang mengolok-olok Ervita. Baginya, apa yang terjadi di masa lalu, bukan hanya salah Ervita. Melainkan Firhan juga bersalah.


Dulu, Firhan merasa bahwa hanya dirinya tak bersalah. Malam petaka itu terjadi begitu saja. Bahkan dulu, Firhan sangat benci dengan Ervita. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, Firhan mengakui bahwa dia bersalah. Bahkan Firhan mau datang dan meminta maaf kepada Ervita dan keluarganya.


"Bapak, kenapa Bapak berkata seperti itu? Kenapa Bapak tidak bisa menerima, kalau anak kecil itu juga adalah cucunya Bapak?" tanya Firhan.


"Gak, gak ada. Cucuku hanya Farel," balas Pak Supri.


Sampai di batas ini saja, Pak Supri masih mengelak. Baginya cucunya hanya Farel. Tidak akan menerima cucu yang disebutnya haram itu.


"Yang salah bukan hanya Ervita, Pak. Firhan juga salah waktu itu. Kami berdua sama salahnya, tapi jangan melemparkan kesalahan hanya pada satu pihak," kata Firhan lagi.


Wati saja yang berada di sana sudah menangis. Dulu, mendengar pengakuan dosa masa lalu suaminya sangat menyesakkan. Sekarang, Wati menangis kala Bapak mertuanya menyebut anak kecil yang harusnya menjadi cucu sulung di keluarga itu justru dikatai anak haram. Siapa pun pasti akan tergores hatinya.


"Gak, selamanya Bapak tidak akan menerima wanita murahan itu. Sampai mati pun, Bapak tidak akan menerima wanita itu dan anaknya," balas Pak Supri.

__ADS_1


"Tidak perlu menerima Ervita, Pak. Terima Indi saja sebagai cucunya Bapak juga. Kakaknya Farel," balas Firhan.


Namun, Pak Supri tetap menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau menerima satu di antara keduanya. Sementara Firhan berusaha menjelaskan bahwa tidak perlu menerima Ervita karena Ervita sudah menjadi milik Pandu, bagian dari keluarga Hadinata. Sementara, Indi yang masih satu darah dengannya. Walau tidak memiliki nasabnya, karena Firhan tidak menikahi Ervita. Sehingga nasab sang anak tetap mengikuti garis keturunan dari pihak ibunya.


"Gak akan," jawab Pak Supri dengan berteriak kali ini.


Usai berteriak Pak Supri tampak terengah-engah, pria yang sudah renta itu kemudian duduk dengan memegangi dadanya. Sementara, Firhan juga memilih diam. Ketika Allah menunjukkan jalan pertobatan untuk memperbaiki hidup, tetapi memang ada manusia yang berpegang pada pendiriannya sendiri. Merasa tak membutuhkan waktu untuk bertobat. Merasa tak butuh memperbaiki hidup dan dirinya. Padahal Allah membuka pintu tobat itu setiap hari, di sepanjang hidup kita. Akan tetapi, Pak Supri justru menempuh jalan yang selanjutnya.


Beberapa saat setelahnya, adik kandung Firhan yang bekerja di Semarang, pulang ke rumah, Erma namanya. Gadis berkulit sawo matang dengan rambut sebahu itu pulang dengan wajah yang tak ceria sama sekali. Justru, wajahnya pucat sekarang.


"Erma pulang," katanya.


Di saat yang bersamaan, Pak Supri yang duduk dan memegangi dadanya melihat ke arah putrinya yang baru pulang dari Semarang. Jujur, Bu Hesti dan Pak Supri juga bingung sekarang kenapa Erma pulang. Biasanya, Erma akan pulang ketika awal bulan. Namun, sekarang Erma sudah pulang ke rumah.


"Tumben pulang, Er? Biasanya kamu kan pulang awal bulan," tanya Bu Hesti.

__ADS_1


Tampak Erma menundukkan wajahnya. Dia takut menatap wajah Bapak dan Ibunya. Tujuannya pulang karena alasan tersendiri. Oleh karena itu, Erma pun memberanikan diri untuk menjawab.


"Bapak dan Ibu, sebenarnya ... sebenarnya ...."


Lidah dan mulut Erna seakan tak bisa bergerak. Terlalu takut untuk menyampaikan yang sebenarnya terjadi hingga akhirnya dia memilih untuk pulang ke rumah.


"Sebenarnya kenapa Erma?" tanya Firhan sekarang.


Mungkin karena sebelumnya sudah emosi, sehingga sekarang pun rasanya sukar untuk berbicara lebih sabar. Hati yang semula kesal dan sekarang adiknya tiba-tiba pulang dengan wajah yang pucat pasi.


Erma seakan tak bisa menjawab. Dia takut dan bingung untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Hingga akhirnya, Firhan kembali berbicara.


"Sebenarnya kenapa, Erma? Jangan begitu, katakan dengan jelas," sahut Firhan.


Air mata berlinang. Erma menunjukkan gelagat yang benar-benar berbeda. Biasanya adiknya Firhan itu adalah sosok yang spontanitas, tapi sekarang Erma benar-benar berbeda.

__ADS_1


"Sebenarnya ...."


__ADS_2