
Di Jogjakarta ....
Sekarang, Ervita dan Pandu mendaftarkan Indi sekolah di Taman Kanak-Kanak, satu sekolah dengan Lintang. Hanya saja, Lintang nanti akan berada di TK B, sementara Indi akan menjadi siswa TK A. Untuk TK, memang Ervita dan Pandu memilihkan TK yang tidak terlalu jauh jaraknya dari rumah. Untuk kurikulum dan program pengajaran bisa disesuaikan, karena memang yang mereka pertimbangkan adalah Indi bisa belajar dulu dan mengetahui seperti apa sekolah itu.
Selain itu, Pandu dan Ervita juga mengharapkan Indi juga belajar berteman nanti. Selama ini, Indi bisa berteman, tapi itu terbatas hanya bersama dengan Lintang dan adiknya saja. Jika, dengan banyak orang belum pernah. Walau ceriwis di rumah, biasanya anak akan menunjukkan sikap yang berbeda di sekolah. Sehingga, memang Ervita dan Pandu mengharapkan Indi juga belajar untuk berteman.
"Disiapkan persyaratannya, Dinda," ucap Pandu kepada Ervita.
Rencananya memang Pandu hanya akan ke sekolah dengan Ervita saja. Sementara anak-anak akan dititipkan sementara kepada Eyangnya. Toh, mendaftar juga tidak membutuhkan waktu terlalu lama. Sehingga, keduanya memilih untuk pergi bersama.
"Formulir pendaftarannya sudah aku isi kok, Mas ... Selain itu, akta kelahiran dan Kartu Keluarga juga sudah aku bawa," jawab Ervita.
"Fotonya Indi yang berukuran 3x4 sudah?" tanya Pandu lagi. Semua itu juga supaya tidak ada yang tertinggal. Lebih baik semuanya dibawa dari rumah, daripada sudah sampai di sana, dan ada persyaratan yang ketinggalan.
"Iya, Yayah ... semua udah dibawa. Aku juga membawa pena sendiri kok. Nanti kalau harus mengisi sesuatu lagi," balas Ervita.
Pandu barusan tersenyum. Daripada ada yang tertinggal dan menghambar semuanya, lebih baik dipersiapkan semuanya dari rumah. Kemudian Ervita bertanya kepada suaminya itu.
"Mas, untuk pendaftarannya nanti sudah?" tanyanya.
"Aman, Dinda ... nanti yang dibayar cash pendaftarannya saja. Untuk uang masuk dan seragam, aku transfer saja," balas Pandu.
Ervita sekarang yang tersenyum karena memang suaminya itu sudah persiapan. Lega juga. Sebab, jika sudah mendaftar sekolah pastilah harus membayar pendaftaran, administrasi dan sebagainya.
__ADS_1
"Yuk, berangkat," ajak Pandu.
Akhirnya, keduanya berangkat bersama-sama dan juga menuju ke sekolah Lintang, dan di sekolah ini juga nantinya Indi akan sekolah. Sekalipun berangkat dari rumah, Ervita tersenyum, sebenarnya dia juga ada ketakutan tersendiri. Itu juga karena di akta kelahiran milik Indi tidak seperti anak-anak yang lain.
Putri Pertama dari Ibu Ervita.
Demikianlah yang tercetak di dalam akta kelahiran itu. Tidak ada nama Bapaknya. Hal itu sempat membuat Ervita khawatir, dan berharap sekolah nanti tidak mempertanyakan itu. Apa yang dialami Ervita mungkin saja juga pernah dialami beberapa wanita di negeri ini, yang justru menjadi ibu tunggal kala mengandung dan melahirkan anaknya, sehingga hanya namanya saja yang tercantum di Akta kelahiran. Walau demikian di Kartu Keluarga, tercatat identitas Indi adalah anak dari Pandu. Walau itu pastilah anak sambung saja.
"Sudah, jangan berpikiran macam-macam," ucap Pandu yang seolah tahu bahwa istrinya itu sedang memikirkan sesuatu. Memang begitulah Pandu, terkadang tanpa Ervita bercerita saja, dia sudah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh anaknya.
"Akta kelahirannya Indi berbeda dengan anak-anak yang lain nanti ya, Mas," ucap Ervita kemudian.
Sekarang, barulah Pandu tahu apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya itu. Rupanya Ervita diam dan keningnya sampai berkerut, itu karena memikirkan akta kelahiran Indi. Pembelajaran untuk kita semua, noda seperti ini seumur hidup akan terbawa. Bukan hanya sembilan bulan selama mengandung hingga melahirkan. Akan tetapi, juga terasa dampaknya bahkan sampai Indi dewasa nanti. Nila setitik rusak susu sebelanga. Ya, yang dihadapi Ervita akan selalu dia rasakan seumur hidupnya.
Begitu sudah sampai di sekolah, Pandu dan Ervita menaiki lantai dua dan menuju ke dalam ruang staf guru. Kemudian keduanya diterima oleh Kepala Sekolah TK itu.
"Silakan Bapak dan Ibu ... perkenalkan, saya Bu Melati, Kepala Sekolah di TK ini," sapanya dengan ramah.
"Kami mau mendaftarkan siswa baru, Bu," balas Ervita.
Kemudian Ervita memberikan formulir pendaftaran yang sudah dia isi, kemudian dokumen lainnya yang dibutuhkan. Kemudian Bu Melati melihat dulu kelengkapan administrasi.
Tampak Bu Melati mengernyitkan keningnya kala melihat akta kelahiran Indi. "Akta kelahirannya Ananda Indira memang begini ya Bu?" tanyanya.
__ADS_1
"Iya, benar, Bu," balas Ervita.
Memilih untuk jujur, karena memang begitulah kenyataannya. Tidak selamanya juga bisa berbohong dengan situasinya sekarang ini. Lebih baik jujur.
"Apa ada yang salah, Bu?" tanya Pandu yang seolah menginterupsi.
Kemudian Bu Melati dengan cepat menggelengkan kepalanya. Hanya saja, baru sekarang dia mendapati akta kelahiran bahwa Indi dilahirkan dari seorang ibu saja. Tidak tercantum nama Bapaknya di sana.
"Oh, tidak, Pak ... tidak," balas Bu Melati.
"Yang pasti, Indi adalah putri saya," balas Pandu.
Seakan Pandu memberikan penjelasan bahwa apa pun yang terjadi Indi adalah putrinya. Walau darahnya tidak mengalir di tubuh Indi, tapi Pandu pastikan bahwa kasih sayangnya tidak akan berkesudahan untuk Indi.
"Tidak Pak ... tidak apa-apa. Pasti ananda nanti bisa diterima," balas Bu Melati.
Sejatinya pendidikan adalah seluruh anak Indonesia. Tidak mempedulikan ras, suku, dan agama. Termasuk juga dia lahir dari ibu tunggal atau ayah tunggal. Sayangnya masih ada stereotif seperti itu di negeri ini yang seolah membeda-bedakan anak yang satu dengan yang lainnya.
"Silakan membayar uang pendaftaran dua ratus ribu rupiah, Pak Pandu," ucap Bu Melati.
Pandu pun kemudian mulai membayar untuk uang pendaftaran. Selain itu, Pandu juga menanyai uang masuk dan uang seragam. Sehingga Pandu tinggal melakukan transfer saja dengan handphonenya.
"Tolong nanti Indi bisa diterima dan tidak dibeda-bedakan dengan anak yang lain ya, Bu ... kan ada peraturan pemerintah bahwa semua anak harus mendapatkan pendidikan yang sama rata. Bahkan ada Peraturan Sekretaris Jenderal Kemendikbud No. 5 tahun 2021 bahwa kita bisa menuliskan nama orang tua termasuk nama ibu tunggal atau wali. Jadi, saya berharap tidak ada membeda-bedakan peserta didik," ucap Pandu.
__ADS_1
Lebih baik Pandu berbicara secara fakta dan juga meminta pihak sekolah untuk bisa bersikap kooperatif kepada Indi. Tidak membeda-bedakan latar belakang peserta didik. Sungguh, tidak hanya Pandu, orang tua lain di luar sana juga mengharapkan hal yang sama.