
Hadinata begitulah mereka dikenal sebagai seorang pengusaha batik yang terkenal. Bahkan di Solo pun ada butik yang milik Hadinata untuk menjual produk mereka. Batik yang sudah berjalan dari generasi ke generasi. Bapak Agus dan Bu Sri pun bingung kala mereka memperkenalkan diri sebagai keluarga Ervita dari Jogjakarta.
Jujur saja, kedatangan keluarga Hadinata itu membuat para among tamu yang ada di sana pun menjadi bingung. Pun keluarga Firhan yang di sana juga bingung.
"Kami keluarga Hadinata, dari Jogjakarta," ucap Pak Hadinata memperkenalkan keluarganya.
Bapak Agus dan Bu Sri pun mempersilakan tamu yang datang dari jauh itu untuk bisa duduk dan juga meminta menyajikan hidangan untuk keluarga itu.
"Simpanannya diikuti keluarga besar," ucap Pak Supri lagi-lagi.
"Pak, mohon kalau berbicara itu yang sopan," tegas Pandu sekarang ini.
Setidaknya Pandu masih mengenakan sopan santun, mengingatkan orang tua tentu harus menggunakan ucapan yang sopan. Lagipula, mereka hanya asal menuduh Ervita saja. Anak mereka yang bersalah dibiarkan dan terus-menerus dibela, sementara Ervita terus-menerus direndahkan.
"Apa hubunganmu hingga membelanya? Jangan-jangan kalian menjalin hubungan gelap," balas Pak Supri lagi-lagi.
"Pak, sudah tow Pak ... jangan membuat malu," sergah Bu Yeni kepada suaminya itu.
Firhan pun tersenyum miring di sana, "Mungkin benih dari Firhan sudah bercampur dengan benih darinya, sehingga anak itu dari benih campuran," ucap Firhan.
Keluarga Hadinata yang mendengarkannya hanya bisa menggelengkan kepalanya. Hanya mereka menerka, pemuda itu lah yang sudah membuat Ervita hamil dan melewati semua seorang diri. Menjadi Ibu tunggal untuk Indira di usia belia.
"Hanya pria yang tidak tahu malu yang melakukan hal demikian. Menjijikan," balas Pandu.
"Heh, kalau berani jangan hanya melindungi dan seolah-olah menutupi aibnya dia. Tidak ada hubungan yang serius dan sah di antara kalian!"
__ADS_1
Kali ini Pak Supri kembali berbicara dan menunjuk Pandu di sana. Hingga akhirnya, Pak Supri kian menjadi-jadi untuk berbicara kotor dan menuduh yang bukan-bukan.
"Wanita murahan. Bisa disentuh sana sini tanpa ikatan yang sah!"
Mendengar itu Pandu begitu geram, hingga Pandu membalasnya, "Saya akan menikahi Ervita!"
Deg!
Di kala Pandu mengatakan itu, keluarga Hadinata hanya diam, sementara Ervita menggelengkan kepalanya, "Mas ... jangan, ini tidak benar," balas Ervita.
Pandu kemudian menganggukkan kepalanya, "Aku akan menikahi kamu, Ervi ... aku akan membuang semua aib yang kamu bawa, dan membuktikan bahwa kamu adalah wanita yang terhormat. Kamu dan keluargaku juga tahu bahwa aku tidak pernah menyentuhmu," balas Pandu dengan begitu yakin.
Air mata Ervita berderai begitu saja. Tumpah ruah. Tidak mengira semuanya justru akan menjadi sedemikian rupa. Serta ucapan Pandu barusan, bagi Ervita hanya main-main saja.
Pandu mendekat kepada Bapak Agus dan Bu Sri di sana, pria itu menundukkan wajahnya, "Bapak dan Ibu ... sebelumnya perkenalkan saya adalah Pandu, putra dari keluarga Hadinata. Saya datang ke mari bukan hanya untuk mengantar Ervita menghadiri pernikahan adiknya. Akan tetapi, saya datang ke mari untuk meminta restu kepada Bapak dan Ibu kiranya sudi memberikan izin bagi saya untuk meminang Ervita."
"Mas Pandu ... jangan, Mas. Jangan mengorbankan masa depan Mas Pandu untuk saya," balas Ervita.
Ervita sudah menangis sesegukan di sana. Tidak tahu skenario apa yang berlaku sekarang ini. Kenapa hanya sekadar menghadiri pernikahan, justru Pandu mengatakan semua itu kepada kedua orang tuanya. Apakah semua ini hanya permainan saja?
Bu Tari menepuk bahu Ervita, "Sudah, tidak usah menangis. Kami memang ke sini untuk itu," ucap Bu Tari.
"Maksudnya apa Mas?" tanya Pak Agus yang juga bingung.
"Saya datang kemari untuk meminta kepada Bapak dan Ibu dengan baik-baik untuk meminang Ervita. Sebenarnya, saya mencintai Ervita dan mencintainya putrinya," ucap Pandu dengan sepenuh hati dan tanpa keraguan.
__ADS_1
Ervita tertegun di sana, jadi kebaikan Pandu selama ini kepadanya adalah cinta? Apakah memang sudah berlangsung lama, atau Ervita yang tidak memahami seorang Pandu Hadinata. Serta, Pandu mengatakan dia juga mencintai Indira. Tentu ini membuat Bu Sri menangis di sana. Tidak mudah seorang pemuda tampan dan terlihat mapan seperti Pandu mencintai anak kecil yang bukan darah dagingnya.
Akhirnya Pak Hadinata pun berdiri, "Benar Pak Agus dan Bu Sri ... kami datang untuk meminta dengan baik-baik untuk melamar Ervita bagi Pandu. Sebenarnya, cukup lama Pandu sudah rasan-rasan (berbicara dengan orang tuanya) bahwa dia suka dengan Ervita, cuma memang tidak diungkapkan. Sehingga, sekarang waktunya tepat. Izinkan putra kami, meminang Ervita," ucapnya.
"Bagaimana Vi?" tanya Pak Agus kemudian.
Sebab, bagaimana pun yang akan menjalani adalah Ervita sendiri. Orang tua hanya sekadar memberikan restu.
"Nda, Didi auu Yayah," ucap Indira yang justru membuat semua yang ada di sana menangis haru.
Terlihat Indira turun dari gendongan Pak Agus, dan segera memeluk kedua kaki Pandu di sana.
"Yayah ... Didi ndong (Ayah, Indi mau gendong)," ucapnya dengan memeluk kaki Pandu yang sudah disebutnya Ayah itu.
"Lihatlah Vi, anak sekecil Indira saja tahu mana yang tulus kepadanya dan mana yang tidak," ucap Bu Tari.
Ervita menangis di sana, Pandu kemudian menunduk dan menggendong Indira, "Indi sayang Ayah?" tanyanya.
Indira kecil pun menganggukkan kepalanya, "Ya ya, ayang," jawabnya dengan memeluk Pandu dan membawa kedua tangannya melingkari leher Pandu di sana.
"Bilang Bunda untuk terima Ayah yah," ucap Pandu kemudian.
Pandu kemudian menggendong Indira dan mendekat ke Ervita yang masih menangis di sana, "Nda, Didi auu Yayah. Ima Yayah, (Bunda, Indi mau Ayah ... terima Ayah)," ucap Indira dengan kedua mata bulatnya yang jernih.
"Ervi ... aku sudah bilang kepadamu, kalau aku membuka hatiku, aku tidak ingin pacaran lagi. Pacaran itu banyak dosanya. Jadi, sekarang ... maukah kamu menerimaku menjadi suami dan Ayah untuk Indi? Aku cinta kamu dan sayang Indi. Maukah kamu mendampingiku dan menjadi istriku?"
__ADS_1
Dengan sepenuh hati Pandu mengatakan niatannya yang tulus kepada Ervita. Tidak kuasa membendung air matanya, Ervita menangis di sana. Apakah ini mimpi? Apakah ini memang niat tulus dari seorang Pandu untuknya? Haruskah dia memulai lembaran baru dengan Pandu dan mengakhiri statusnya sebagai Ibu Tunggal?