Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Sama-Sama Terkejut


__ADS_3

Firhan dan Wati memutuskan untuk melanjutkan jalan-jalannya. Tidak lagi mengusik Indi. Sudah cukup dengan menyapa, bertanya, dan tos bersama. Walau demikian, Wati tahu bahwa suaminya pasti sekarang pasti perasaannya begitu campur aduk.


"Kamu baik-baik saja, Mas?" tanya Wati kepada suaminya itu.


Sekarang keduanya duduk bersama di kursi taman dekat dengan patung Dinosaurus. Wati bertanya demikian karena memang Firhan pasti sedih sekarang. Terlebih ketika Firhan mengatakan dengan sebutan 'Om' kepada Indi. Pastilah Firhan memiliki alasan tersendiri.


"Tidak apa-apa, Sayang. Daripada Indi tidak nyaman dan histeris melihatku. Ya, seperti yang aku sampaikan kepada Pandu tadi. Aku yang menanam benih, tapi benih itu tumbuh menjadi tanaman, berakar, dan berbunga dengan Pandu yang terus memberikan aliran air dan pupuk. Tanaman itu lebih nyaman untuk tumbuh dalam perawatan Pandu, sosok yang mengasuhnya sejak kecil. Memberikan kasih sayang dan perhatiannya."


Wati yang mendengarkan ucapan Firhan saja menjadi terharu. Sebab, dibutuhkan kebesaran hati dan kemauan untuk menurunkan egonya. Tidak muda untuk melakukan apa yang seperti Firhan lakukan sekarang. Namun, Indi pun juga tidak salah. Anak-anak akan terbiasa dengan orang yang mereka kenal setiap hari. Orang yang berinteraksi dan menemani tumbuh kembangnya. Kadang, memang tak jarang anak tiri memiliki keakraban yang luar biasa dengan orang tua sambungnya. Semua itu juga karena terbiasa, dan ada kasih sayang yang tulus.


"Kamu tegar ya, Mas ... aku yakin nanti kita akan bahagia ke depannya," balas Wati.


"Semoga ya, Sayang. Kalau kebahagiaan bersama bisa ktia usahakan bersama. Terima kasih banyak yah, sudah nenangin aku," balas Firhan.


Wati kemudian menganggukkan kepalanya. "Sama-sama, Mas. Aku tadi cuma bingung dan kaget, kenapa kamu menyebut dirimu sendiri Om."


"Iya, tidak apa-apa. Konsep yang dimiliki anak itu pastilah memiliki ibu satu dan ayah satu. Ketika dia memiliki dua ayah pastilah akan bingung. Begitu juga sebaliknya, jika dia memiliki dua ibu, juga pastilah dia akan menjadi bingung," balasnya.


"Nanti, baby kita akan memanggilmu Ayah," ucap Wati. Sekali lagi Wati berusaha memberikan ketenangan saja kepada Firhan. Jika sekarang, Indi tidak mau memanggilnya ayah. Kelak bayi mereka sendiri yang akan memanggil Ayah kepada Firhan. Hanya menunggu bayinya lahir, dan mulai berbicara sehingga bisa memanggil Firhan dengan panggilan ayah.


"Iya, tidak apa-apa. Aku berlaku demikian juga karena aku sudah memikirkan semuanya," balasnya.

__ADS_1


"Aku tadi memfoto dan videoin kamu dan Indi. Kali saja, kalau kamu kangen sama Indi bisa kamu lihat dan puter," ucap Wati.


Firhan tersenyum. Dia bersyukur untuk semuanya. Jika memang ini adalah harga yang memang harus dibalas biarkan saja. Firhan juga siap untuk membayar mahal dengan semuanya.


***


Di tempat yang berbeda ....


Indi yang sekarang duduk bersama Ayah dan Bundanya, bertanya kepada orang tuanya. Tentu berkaitan dengan tadi kala berada di dekat patung wayang yang berada di Taman Cerdas.


"Yah, dia tadi Om kan?" tanya Indi lagi.


"Tadi Indi dengarnya apa?" balas Pandu.


"Tadi, dia bilangnya Om kok, Yah ... itu berarti Didi ini anaknya Yayah kan?" tanya Indi kepada Yayah Pandu lagi.


"Iya dong, Didi putri?"


"Putri kecilnya Yayah," sahut Indi dengan cepat.


Indi kemudian tersenyum. Entah, seolah-olah dia merasakan kelegaan karena dia sudah tahu sekarang bahwa ayahnya hanya satu dan itu adalah Pandu. Dia tidak lagi bingung. Sebab, dulu ketika Firhan mengatakan bahwa dia adalah ayahnya, Indi menangis histeris.

__ADS_1


"Didi senang, Yah ... karena Didi putrinya Yayah, sama seperti Iyene," balasnya.


Pandu tersenyum, seperti Ervita juga kasihan karena Indi belum tahu dengan kebenaran yang sebenarnya. Namun, jika memberitahukannya sekarang itu akan sangat berbahaya untuk mental Indi. Ervita dan Pandu tentunya tidak ingin merusak masa kecil Indi.


"Kenapa Indi senang?" tanya Ervita sekarang kepada Indi.


"Iya, Nda ... kan berarti Ayahnya Didi cuma satu dan itu adalah Yayah Pandu," balasnya.


Setelah itu, Indi meminta untuk mewarnai yang masih berada di area taman cerdas. Sedangkan Ervita dan Pandu yang menggendong Irene menunggu tidak jauh dari Indi. Kemudian Ervita melirik kepada suaminya itu.


"Aku tadi kaget, Mas," ucapnya lirih.


Pandu menganggukkan kepalanya. Dia tahu apa yang dikagetkan oleh Ervita. Sama, dia sendiri pun juga merasa kaget.


"Sama, Nda ... aku juga kaget. Namun, mungkin dengan cara itulah, Indi mau berinteraksi. Yang pasti tidak ada pemaksaan juga kepada Indi," balas Pandu.


"Iya, kupikir dia akan mengenalkan dirinya lagi dengan sebutan ayah," balas Ervita.


"Sama, Dinda. Ternyata tidak. Mungkin dengan cara itu, Indi mau menjawab pertanyaannya walau singkat dan juga mau tos tadi. Tidak apa-apa. Semua orang memiliki masa lalu. Kita harus berbesar hati dan memaafkannya. Jangan menyimpan dendam," balas Pandu kepada istrinya.


"Aku tidak dendam kok. Dulu marah dan kecewa iya, selepasnya tidak lagi. Aku fokus dengan hidupku dan dengan Indi. Sekarang pun begitu, fokus dengan keluarga masing-masing. Allah tahu, hatiku," balas Ervita.

__ADS_1


Pandu menganggukkan kepalanya. Amarah dan kekecewaan Ervita dulu juga adalah hal yang manusiawi. Pandu saja dulu sempat marah juga. Namun, sekali lagi semua yang digariskan Allah itulah yang terjadi. Ketika masa lalu penuh duka dan air mata, lepaskan pengampunan, berbesar hati untuk memaafkan. Dengan cara itulah kehidupan akan lebih bahagia.


__ADS_2