Muara Kasih Ibu Tunggal

Muara Kasih Ibu Tunggal
Berdamai dengan Masa Lalu


__ADS_3

Pandu merasa lega, walau hatinya sebagai pria dan sebagai ayah sangat mudah tersentuh dengan sosok Indi. Kebingungan yang dirasakan oleh Indi juga dirasakan oleh dirinya. Bahkan usai Firhan pergi, Pandu juga mengatakan bahwa dia tidak rela jika Indi memanggil sebutan ayah ke pria lain. Kasih sayangnya yang membuat Pandu tak ingin berbagi panggilan ayah itu. Baginya, panggilan Yayah dari Indi sangat berarti untuknya.


"Indi aja yang masih kecil bisa merasakan kebingungan, Nda," ucap Pandu perlahan.


Hingga akhirnya, Ervita menganggukkan kepalanya perlahan. "Iya, Mas. Dalam pandanganku, yang dialami Indi juga wajar. Dari kecil yang dia lihat sebagai Yayah adalah kamu. Jadi, ketika ada pria lain yang muncul dan meminta Indi untuk memanggilnya Ayah."


Ervita berusaha untuk menjelaskan, walau sebenarnya apa yang diminta Firhan tidak begitu berarti untuknya. Firhan hanya membuahinya saja, tapi peran sebagai ayah dana sekali tidak dilakukan olehnya. Padahal sosok yang disebut ayah adalah mereka yang tidak sekadar menanam benihnya, tapi juga bertanggung jawab secara materi, hingga psikis untuk si bayi. Memberikan cintanya untuk si bayi sejak dalam kandungan hingga anaknya dewasa nanti.


"Sebenarnya bagiku, dia hanya sekadar ayah biologis saja. Menanam benihnya saja. Namun, pada akhirnya yang menyayangi Indi, memenuhi kebutuhan fisiologis dan psikologisnya adalah kamu, Mas," balas Ervita.


Tidak bermaksud membandingkan, tapi memang begitulah adanya. Apa artinya sekadar menanam benih. Sama halnya seorang petani ketika hendak telah menanam benih, mereka akan menyianginya, memberikan pupuk terbaik, memastikan tidak ada hama, hingga akhirnya ketika bayinya lahir akan memberikan kasih sayang dan pemenuhan kebutuhan terbaik.


"Namun, ikatan darahnya dengan Firhan, Nda," balas Pandu.

__ADS_1


Lebih sedih ketika Pandu teringat akan satu hal yang sudah menjadi kesedihannya sejak sekarang. "Aku lebih sedih, ketika Indi dewasa dan ada yang meminangnya nanti, aku tak berhak menjadi wali nikahnya," ucap Pandu.


Wajah pria itu seketika menjadi lesu. Dia sangat berharap bahwa bisa menjadi wali untuk Indi ketika Indi menikah nanti. Akan tetapi, Pandu pun sangat tahu bahwa Indi bukan nasabnya. Sekadar mengingat untuk masa yang akan datang saja, Pandu sudah bersedih.


"Ayah biologisnya pun juga tidak bisa menjadi wali nikahnya, Mas," balas Ervita.


Bukannya Ervita baik-baik saja, tapi memang ketika Indi menikah nanti pun Ayah Biologisnya sendiri saja tidak bisa menjadi wali nikahnya. Sebagai seorang ibu, hati Ervita juga begitu pedih. Namun, yang pasti suatu saat nanti Ervita pasti akan menjelaskan semuanya kepada Indi. Semoga saja Indi bisa menerima asal-usulnya. Indi tidak terluka dengan misteri yang tersembunyi ketika Indi dilahirkan.


"Indi adalah seorang putri yang lahir tanpa nasab ayahnya. Jadi, wali nikahnya nanti adalah wali hakim."


Hati Ervita sangat teriris. Kenyataan pahit yang dulu dialaminya, tetap saja akan terbawa hingga Indi dewasa nanti. Bahkan, walau puluhan tahun berlalu, Indi akan terkenang sebagai gadis tanpa nasab.


"Membayangkannya saja membuat hatiku sakit. Namun, sebagaimana sekarang aku berdamai dengan masa laluku. Aku berharap Indi juga akan berdamai dengan asal-usulnya. Walau perih. Namun, terkadang dari kenyataan yang perih, bukankah kita diminta untuk mengingat bahwa kehidupan manusia begitu adanya. Begitu juga dengan Allah yang senantiasa mengulurkan tangan untuk hamba-Nya yang terjatuh."

__ADS_1


Mendengar apa yang Ervita katakan, Pandu menganggukkan kepalanya. Apakah mungkin pahitnya hidup yang membuat Ervita bisa setegar ini? Bahkan, ketika berbicara semuanya ada gurat senyuman di wajah Ervita.


"Masa lalumu sangat pahit, Nda. Bahkan getir. Akan tetapi, mengatakan semuanya saja, kamu masih bisa tersenyum."


Ervita menganggukkan kepalanya. "Aku belajar makna hidup darimu, Mas. Menerima masa lalu, tidak menyalahkannya lagi. Aku ikhlas dengan semuanya," balas Ervita.


Memang tidak ada yang lebih baik selain bisa berdamai dengan masa lalu. Ikhlas dengan segalanya. Ketika hati sudah ikhlas, Allah pun akan memberikan ketabahan untuk hamba-Nya. Jalan berbatu, bisa Allah ubahkan menjadi lembah hijau penuh kesejukan. Padang belantara penuh semak belukar, juga bisa Allah gantikan dengan padang berbunga.


"Untuk sekarang, biarlah Indi tahu dengan apa yang dia ketahui sekarang, Mas. Akan tetapi, nanti kita akan beritahukan yang sebenarnya, mengenai asal-usulnya," ucap Ervita lagi.


"Aku mengikuti keputusanmu, Nda. Semoga saja, jalan kita ke depan selalu baik adanya. Juga, dengan kekurangan Firhan sekarang tidak ada keinginan untuk merebut Indi. Sebab, aku pasti akan selalu mempertahankan Indi," balas Indi.


Ya, mendengar bahwa Firhan mengalami Disfungsi e-reksi, membuat Pandu sedikit risau jika pria itu bisa saja merebut Indi. Oleh karena itu, Pandu akan terus mempertahankan Indi. Tidak akan melepaskan Indi, sekalipun itu adalah untuk ayah biologisnya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2